Detail Update

Detail Update

Ketika Orang Baik Lebih Memilih Diam

Card image cap Tidak selamanya diam itu emas, adakalanya diam itu membuat kita ini sengsara.

Oleh: Djoko Iriandono*)

Kemarin sore, saya duduk di ruang tunggu sebuah praktik dokter gigi. Seperti kebanyakan pasien lainnya, saya menunggu giliran sambil sesekali memperhatikan orang-orang yang datang dan pergi. Di samping saya duduk seorang pria paruh baya yang tampaknya juga sedang menunggu. Awalnya kami hanya saling pandang dan melempar senyum. Namun karena waktu tunggu yang cukup lama, percakapan pun mengalir dengan sendirinya.

Dari pembicaraan ringan tentang piala dunia, topik kami berubah dan berpindah-pindah dengan cepat ke MBG, Koperasi Merah Putih, kenaikan harga pertamax dan melemahnya nilai tukar rupiah serta perkembangan politik yang akhir-akhir ini ramai diperbincangkan. Di tengah percakapan yang panjang itu, ia mengucapkan beberapa kalimat yang membuat saya terdiam sejenak.

“Bangsa ini tidak kekurangan orang baik. Bangsa ini juga tidak kekurangan orang pintar. Yang menjadi masalah adalah banyak di antara mereka yang enggan turun tangan ketika keadaan membutuhkan kehadiran mereka. Akibatnya, ruang-ruang penting sering kali dikuasai oleh mereka yang lebih berani bertindak, meskipun tidak selalu memiliki niat yang baik. Sebab sesungguhnya, yang paling berbahaya bukanlah ketika orang jahat melakukan kejahatan, tetapi ketika orang baik memilih diam dan tidak berbuat apa-apa.”

Untaian kalimat itu terus terngiang di kepala saya hingga perjalanan pulang. Sebenarnya saya sudah sering mendengar kalimat tersebut dalam berbagai kesempatan. Namun entah kenapa sore itu semakin saya pikirkan, semakin terasa bahwa ada kebenaran yang patut direnungkan bersama. Dari situlah artikel ini saya tulis.

Kita tidak bisa menutup mata dari sebuah realita bahwa di negara kita memang banyak orang baik, orang pintar, orang yang memiliki integritas, pengalaman, dan kepedulian terhadap bangsa yang justru memilih menjauh dari ruang-ruang pengambilan keputusan. Mereka lebih memilih menjadi penonton, bukan pemain. Mereka memilih mengkritik dari luar, bukan terlibat dari dalam.

Fenomena ini terlihat jelas dalam dunia politik. Banyak akademisi, tokoh masyarakat, profesional, pengusaha, guru, dosen, ulama, dan kaum intelektual yang sebenarnya memiliki kemampuan untuk memimpin dan memperbaiki keadaan, tetapi memilih tidak memasuki arena kekuasaan.

Mereka beranggapan bahwa jalan menuju kekuasaan hampir selalu harus melalui partai politik. Persoalannya, partai politik dalam pandangan sebagian masyarakat telah lama diasosiasikan dengan politik transaksional, pertarungan kepentingan, biaya yang mahal, serta berbagai kompromi yang sering kali menggerus idealisme.

Akibatnya, orang-orang yang memiliki kapasitas dan integritas justru memilih berdiri di luar gelanggang. Mereka tetap peduli terhadap bangsa ini, tetapi enggan terlibat langsung dalam proses yang menentukan arah perjalanan bangsa.

Sementara itu ruang yang mereka tinggalkan tidak pernah kosong. Ia akan diisi oleh orang-orang yang bersedia masuk ke dalamnya, apa pun motifnya.

Politik yang Kehilangan Orang-Orang Terbaik

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar keluhan tentang kualitas kepemimpinan, kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat, praktik korupsi, hingga berbagai keputusan yang dianggap jauh dari kepentingan masyarakat. Namun, ketika ditanya mengapa tidak ikut terlibat memperbaiki keadaan, banyak orang justru menjawab, "Saya tidak mau masuk politik."

Di sinilah letak paradoksnya.

Kita menginginkan politik yang bersih, tetapi enggan membersihkannya. Kita menginginkan pemimpin yang baik, tetapi orang-orang baik tidak mau menjadi pemimpin. Kita menginginkan partai politik yang berkualitas, tetapi kaum intelektual dan profesional menjauhinya.

Akibatnya, politik sering kali kehilangan sumber daya manusia terbaik yang dimiliki bangsa. Padahal, dalam sistem demokrasi, hampir semua keputusan strategis negara lahir dari proses politik. Anggaran pendidikan, kesehatan, pembangunan infrastruktur, kesejahteraan guru, perlindungan tenaga kerja, hingga kebijakan ekonomi semuanya diputuskan melalui mekanisme politik.

Jika orang-orang baik menjauh dari politik, lalu siapa yang akan mengisinya?

Pertanyaan ini layak menjadi bahan renungan bersama.

Mengapa Orang Baik Memilih Diam?

Ada banyak alasan mengapa orang baik memilih diam atau menjauh dari politik.

Pertama, mereka kecewa terhadap praktik politik yang ada. Berita tentang korupsi, transaksi kekuasaan, politik uang, dan berbagai konflik elite membuat banyak orang kehilangan kepercayaan.

Kedua, mereka merasa tidak memiliki cukup sumber daya. Untuk masuk ke dunia politik sering kali dibutuhkan biaya besar, jaringan yang luas, dan kesiapan menghadapi berbagai tekanan sosial.

Ketiga, mereka takut kehilangan nama baik. Bagi sebagian orang, reputasi yang dibangun selama puluhan tahun terasa terlalu berharga untuk dipertaruhkan dalam arena politik yang keras.

Keempat, mereka merasa kontribusi bisa diberikan melalui jalur lain, seperti pendidikan, dakwah, kegiatan sosial, atau dunia usaha.

Semua alasan tersebut dapat dipahami. Namun persoalannya bukan pada alasan-alasan itu, melainkan pada konsekuensi yang muncul ketika terlalu banyak orang baik mengambil keputusan yang sama, yaitu memilih diam.

Diam memang aman. Tetapi diam tidak selalu menyelesaikan masalah.

Ketika Diam Menjadi Persetujuan

Dalam banyak kasus, diam sering kali ditafsirkan sebagai bentuk persetujuan. Ketika sebuah kebijakan tidak berpihak kepada rakyat dan tidak ada suara kritis yang cukup kuat, maka kebijakan itu akan terus berjalan.

Ketika praktik yang tidak sehat terjadi dalam suatu organisasi dan orang-orang yang memahami persoalan memilih bungkam, maka praktik tersebut akan dianggap wajar.

Demikian pula dalam politik.

Ketika orang-orang yang memiliki kapasitas, integritas, dan kepedulian memilih berada di luar pagar, maka keputusan-keputusan penting akan tetap dibuat oleh mereka yang berada di dalam pagar tersebut.

Sejarah menunjukkan bahwa perubahan besar hampir selalu lahir dari keberanian orang-orang baik untuk terlibat, bukan sekadar mengamati. Mereka tidak selalu menang, tidak selalu populer, bahkan sering menghadapi risiko yang besar. Namun kehadiran mereka menjadi penyeimbang yang menjaga arah perjalanan masyarakat.

Karena itu, pertanyaan yang perlu diajukan bukanlah "Mengapa politik begitu buruk?" melainkan "Mengapa begitu banyak orang baik enggan memperbaikinya?"

Politik Adalah Alat, Bukan Tujuan

Salah satu kesalahpahaman yang sering terjadi adalah memandang politik sebagai sesuatu yang secara inheren buruk. Padahal politik pada dasarnya hanyalah alat.

Seperti pisau, politik dapat digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat atau melukai orang lain. Yang menentukan bukan alatnya, melainkan siapa yang menggunakannya dan untuk tujuan apa.

Dalam sejarah bangsa Indonesia, banyak tokoh yang masuk ke dunia politik karena panggilan pengabdian. Mereka tidak melihat politik sebagai jalan menuju kekuasaan semata, melainkan sebagai sarana memperjuangkan nilai-nilai yang mereka yakini.

Sayangnya, pandangan seperti ini semakin jarang ditemukan. Politik lebih sering dipersepsikan sebagai arena perebutan kekuasaan atau jabatan dibandingkan sebagai ruang pengabdian.

Ketika persepsi negatif itu terus berkembang, semakin sedikit orang baik yang tertarik untuk masuk. Akibatnya, lingkaran masalah terus berulang.

Politik menjadi buruk karena orang baik menjauh, dan orang baik semakin menjauh karena politik dianggap buruk.

Bangsa Ini Membutuhkan Keberanian Baru

Indonesia saat ini menghadapi berbagai tantangan yang tidak sederhana. Perubahan teknologi, persaingan global, kualitas pendidikan, pemerataan kesejahteraan, pengelolaan sumber daya alam, hingga pembentukan karakter generasi muda membutuhkan kepemimpinan yang visioner dan berintegritas.

Tantangan sebesar itu tidak cukup dijawab dengan keluhan di media sosial atau diskusi di warung kopi. Diperlukan keterlibatan nyata dari orang-orang yang memiliki kapasitas untuk membawa perubahan.

Bangsa ini membutuhkan keberanian baru. Keberanian dari para guru yang memahami dunia pendidikan. Keberanian dari para akademisi yang menguasai ilmu pengetahuan. Keberanian dari para profesional yang terbiasa bekerja secara sistematis. Keberanian dari para ulama yang memahami nilai-nilai moral. Keberanian dari generasi muda yang memiliki idealisme dan energi untuk bergerak.

Mereka tidak harus semuanya menjadi politisi. Namun sebagian di antara mereka perlu hadir dalam ruang politik agar proses pengambilan keputusan tidak kehilangan suara akal sehat dan suara nurani.

Dari Penonton Menjadi Pelaku

Tidak semua orang harus menjadi anggota partai politik. Tidak semua orang harus maju sebagai calon legislatif atau kepala daerah. Namun demokrasi yang sehat membutuhkan partisipasi warga negara yang aktif.

Partisipasi dapat dimulai dari hal-hal sederhana: mengawasi kebijakan publik, memberikan masukan yang konstruktif, terlibat dalam organisasi masyarakat, hingga mendukung lahirnya pemimpin yang berintegritas.

Bagi mereka yang memiliki kapasitas lebih, keterlibatan langsung dalam partai politik juga bukan sesuatu yang harus ditakuti. Justru partai politik membutuhkan darah segar, pemikiran baru, dan teladan yang baik agar mampu menjalankan fungsinya dengan lebih bermartabat.

Jika orang-orang baik terus memilih menjadi penonton, maka jangan heran apabila panggung politik diisi oleh aktor-aktor yang tidak selalu mewakili harapan masyarakat.

Penutup

Percakapan singkat di ruang tunggu dokter gigi sore itu mengingatkan saya bahwa persoalan bangsa tidak selalu lahir dari kekurangan orang-orang baik. Justru bangsa ini kaya akan orang baik, orang pintar, dan orang-orang yang memiliki kepedulian terhadap masa depan negeri.

Yang menjadi persoalan adalah ketika mereka memilih diam, memilih menjauh, atau merasa bahwa politik bukan urusan mereka.

Perlu kita sadari bahwa masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh apa yang dilakukan orang-orang jahat, tetapi juga oleh apa yang tidak dilakukan oleh orang-orang baik.

Diam memang nyaman. Menjauh memang terasa aman. Namun sejarah tidak pernah berubah karena kenyamanan. Sejarah berubah karena ada orang-orang yang berani keluar dari zona aman untuk memperjuangkan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti bertanya mengapa politik begitu buruk. Mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah: sampai kapan orang-orang baik dan orang-orang pintar terus memilih diam?

Sebab ketika mereka memilih diam, ruang kosong itu tidak akan tetap kosong. Ia akan segera diisi oleh mereka yang bersedia berbicara, bertindak, dan mengambil keputusan. Persoalannya, belum tentu keputusan itu sesuai dengan harapan kita.

Dan sering kali, penyesalan datang bukan karena orang baik kalah berjuang, melainkan karena mereka tidak pernah mau ikut berjuang sejak awal.

*) Kominfo BPIC Kaltim.