Detail Update

Detail Update

ANAK BUKAN PROYEK.

Card image cap Menuntun, Bukan Menuntut. Karena Anak Bukanlah Proyek

ANAK BUKANLAH PROYEK: MENUNTUN, BUKAN MENUNTUT

Oleh: Djoko Iriandono, S.E., M.A.*)

 

Ada satu kalimat sederhana yang menarik perhatian saya dalam sebuah seminar parenting yang saya ikuti Jumat pagi, 31 Juli 2026 yang diselenggarakan oleh Yayasan Baitul Muttaqien Islamic Center Kalimantan Timur. Kalimat itu berbunyi:

“Kadang kita lupa, anak bukanlah proyek.”

Kalimat tersebut terasa sederhana. Namun semakin direnungkan, semakin dalam maknanya.

Bukankah tanpa sadar kita memang sering memperlakukan anak seperti sebuah proyek? Kita menentukan targetnya, mengatur jadwalnya, memilihkan kegiatannya, menentukan sekolahnya, bahkan terkadang telah merancang masa depannya jauh sebelum anak memahami apa yang sesungguhnya ia inginkan.

Kita ingin anak cepat membaca. Cepat berhitung. Nilainya bagus. Juara kelas. Hafalannya banyak. Disiplin. Saleh. Pandai bergaul. Masuk sekolah favorit. Kelak kuliah di perguruan tinggi terbaik.

Semua keinginan itu tentu tidak salah. Setiap orang tua menginginkan yang terbaik bagi anaknya.

Persoalannya muncul ketika keinginan melihat hasil membuat kita lupa menghargai proses.

Dari Seminar Parenting Islamic Center

Perenungan itu muncul ketika saya bersama sekitar 800 peserta menghadiri Seminar Parenting yang diselenggarakan di lingkungan Yayasan Baitul Muttaqien Islamic Center Kalimantan Timur. Peserta berasal dari unsur orang tua peserta didik TPA, TPQ, KB, TK, SD, dan SMP Islamic Center, kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, serta unsur yayasan.

Seminar menghadirkan Ayah Irwan, narasumber parenting dari Jakarta, dengan tema yang sangat menarik:

“Menuntun, Bukan Menuntut: dari Sekadar Kata, Menjadi Teladan.”

Sejak awal hingga berakhirnya kegiatan, antusiasme peserta terasa kuat. Para orang tua menyimak, mencatat, tertawa pada bagian-bagian tertentu, dan mengikuti sesi tanya jawab dengan penuh perhatian.

Bagi saya, yang menarik bukan semata-mata bagaimana materi itu disampaikan, melainkan pesan mendasar yang dibawanya: barangkali selama ini kita terlalu sibuk memikirkan bagaimana membuat anak menjadi seperti yang kita inginkan, tetapi kurang menyediakan waktu untuk memahami siapa sebenarnya anak kita.

Apa Itu Menuntut?

Salah satu materi yang ditampilkan Ayah Irwan memberikan definisi sederhana tentang menuntut:

“Menginginkan hasil tanpa cukup mendampingi proses.”

Menuntut adalah meminta anak memenuhi apa yang kita inginkan tanpa sungguh-sungguh melihat kondisi anak.

Kalimat ini layak menjadi bahan introspeksi bagi setiap orang tua, termasuk kita para pendidik.

Kita ingin anak rajin membaca. Tetapi apakah anak pernah melihat ayah dan ibunya membaca?

Kita meminta anak berhenti bermain gawai. Tetapi bagaimana kebiasaan kita sendiri ketika sedang bersama keluarga?

Kita ingin anak berbicara lembut. Tetapi bagaimana cara kita berbicara kepada pasangan dan anak-anak ketika sedang marah?

Kita meminta anak disiplin salat. Tetapi sudahkah mereka melihat kita bersegera ketika azan berkumandang?

Di sinilah tema seminar tersebut menemukan relevansinya: dari sekadar kata menjadi teladan.

Anak tidak hanya mendengar apa yang kita katakan. Mereka memperhatikan bagaimana kita menjalani kehidupan.

Mengapa Orang Tua Sering Menuntut?

Ada beberapa jawaban menarik yang disampaikan dalam seminar.

Pertama, kita ingin cepat melihat hasil.

Kehidupan modern membuat manusia terbiasa dengan sesuatu yang serba cepat. Pesan makanan beberapa menit datang. Mengirim pesan dalam hitungan detik sampai. Mencari informasi tinggal membuka telepon genggam.

Tanpa sadar cara berpikir serba cepat itu kita bawa ke dalam pendidikan anak.

Padahal tumbuh kembang manusia tidak mengenal jalan pintas.

Materi seminar mengingatkan bahwa “hasil sering memilih short cut, sedang proses membutuhkan waktu.”

Pohon tidak menjadi besar sehari setelah benih ditanam. Kita tidak mungkin menarik batangnya agar cepat tinggi. Tugas kita menyiram, memberi pupuk, memastikan mendapat cahaya, dan menjaganya dari gangguan.

Anak pun demikian.

Anak Bukan Milik Kita

Alasan kedua mengapa kita sering menuntut adalah karena terkadang kita lupa bahwa anak bukanlah proyek.

Dalam materi seminar terdapat kalimat yang sangat kuat:

“Anak adalah miliknya Allah. Anak titipan Allah. Kita hanya penjaga amanah.”

Perspektif ini mengubah cara kita melihat pengasuhan.

Jika anak adalah amanah, tugas orang tua bukan membentuknya semata-mata berdasarkan ambisi pribadi, melainkan membantu anak bertumbuh sesuai fitrah dan potensi yang Allah titipkan kepadanya.

Ada orang tua yang dahulu gagal menjadi dokter, lalu berusaha keras agar anaknya menjadi dokter. Ada yang sangat menginginkan anaknya menjadi pegawai negeri, tentara, pengusaha, atau profesi tertentu.

Tidak ada yang salah dengan harapan.

Tetapi harapan seharusnya menjadi doa dan arah pendampingan, bukan berubah menjadi beban yang membuat anak kehilangan dirinya sendiri.

Jadilah Pelatih, Bukan Mandor

Ada analogi lain yang menurut saya sangat menarik dari materi Ayah Irwan:

“Orang tua adalah pelatih, bukan mandor.”

Mandor memastikan pekerjaan selesai.

Pelatih memastikan pemain berkembang.

Dua kalimat ini memiliki perbedaan yang sangat mendasar.

Mandor lebih berorientasi kepada hasil. Pelatih memperhatikan proses. Mandor mengatakan, “Kerjakan!” Pelatih bertanya, “Bagian mana yang belum kamu pahami?” Mandor marah ketika target tidak tercapai. Pelatih mengevaluasi mengapa pemainnya belum mampu mencapai target.

Karena itu, pengasuhan menurut materi seminar lebih dekat kepada coaching daripada commanding.

Anak tetap membutuhkan aturan. Tetap membutuhkan batas. Bahkan pada keadaan tertentu membutuhkan ketegasan. Menuntun bukan berarti membiarkan anak melakukan apa saja.

Justru menuntun berarti hadir di samping anak sampai ia memahami mengapa sesuatu harus dilakukan dan akhirnya mampu berdiri sendiri.

Tujuan pengasuhan bukan menciptakan kepatuhan sesaat, tetapi menumbuhkan kesadaran sepanjang hidup.

Setiap Usia Membutuhkan Pendekatan Berbeda

Hal lain yang menarik adalah pembahasan tentang tahapan tumbuh kembang anak.

Pada usia 0–7 tahun, anak membutuhkan penguatan self image atau citra diri. Dunia mereka adalah dunia bermain, bercerita, kasih sayang, kedekatan, dan stimulasi. Ayah dan ibu menjadi fondasi utama pembentukan dirinya.

Memasuki usia sekitar 7–15 tahun, anak mulai membutuhkan pembentukan self esteem atau harga diri. Pendekatannya bergerak kepada coaching, modelling, latihan, dan praktik. Peran ayah menjadi semakin penting, sementara ibu tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam pendampingan.

Pada fase 15–21 tahun, anak mulai menguatkan self concept atau konsep diri. Pada tahap ini, mereka semakin membutuhkan ruang untuk menghadapi dunia nyata, mengambil keputusan, belajar dari konsekuensi, sekaligus tetap mendapatkan pendampingan orang tua sebagai mitra.

Artinya, cara mendidik anak TK tentu tidak dapat disamakan dengan anak SMP. Demikian pula menghadapi remaja tidak mungkin menggunakan pendekatan yang sama seperti ketika mereka berusia lima tahun.

Anak bertumbuh.

Maka cara kita menjadi orang tua pun harus ikut bertumbuh.

Menuntun Sampai Anak Mampu Berdiri Sendiri

Lalu, mengapa kita harus menuntun?

Jawaban yang disampaikan dalam seminar sangat jelas:

“Tujuan pengasuhan bukan taat sesaat, tetapi sepanjang hidup.”

Menuntut mungkin melahirkan kepatuhan sesaat. Menuntun diharapkan menumbuhkan kesadaran.

Anak yang belajar karena takut dimarahi mungkin akan membuka buku ketika orang tuanya berada di dekatnya. Anak yang salat karena takut dihukum mungkin segera mengambil wudu ketika ayahnya memperhatikan.

Tetapi apa yang terjadi ketika kita tidak berada di sana?

Di situlah ukuran keberhasilan pendidikan sesungguhnya.

Kita tidak mungkin mengikuti anak sepanjang hidupnya. Akan datang masa ketika mereka kuliah jauh dari rumah, bekerja di kota lain, menikah, membangun keluarga, dan mengambil keputusan tanpa bertanya kepada kita.

Karena itu tugas kita bukan membuat mereka selamanya bergantung kepada arahan, tetapi mempersiapkan mereka agar suatu hari mampu menentukan arah dengan benar.

Sekolah Tidak Bisa Berjalan Sendiri

Seminar parenting yang mempertemukan orang tua dari TPA hingga SMP ini juga membawa pesan penting tentang kemitraan keluarga dan sekolah.

Sering kali ketika anak mengalami masalah, orang tua bertanya, “Bagaimana sekolah mendidiknya?”

Sebaliknya, sekolah terkadang mengatakan, “Ini seharusnya tugas orang tua.”

Jika kedua pihak saling menunjuk, anaklah yang akhirnya berada di tengah.

Pendidikan yang baik membutuhkan kesatuan langkah. Nilai yang ditanamkan sekolah harus mendapatkan penguatan di rumah. Kebiasaan baik yang dibangun keluarga perlu mendapat ruang untuk berkembang di sekolah.

Guru dan orang tua bukan dua pihak yang berhadapan. Mereka adalah dua tangan yang bersama-sama menuntun anak menuju masa depan.

Barangkali yang Harus Berubah Lebih Dulu Adalah Kita

Pada akhirnya seminar parenting bukan semata-mata forum untuk belajar bagaimana mengubah anak.

Justru mungkin pertanyaan terpentingnya adalah:

Apa yang harus berubah dari diri kita sebagai orang tua dan pendidik?

Kita sering meminta anak menjadi lebih sabar, padahal kita mudah marah. Kita meminta mereka menjadi pendengar yang baik, sementara kita jarang mendengarkan ceritanya sampai selesai. Kita meminta mereka menghormati orang lain, tetapi terkadang mereka menyaksikan kita merendahkan orang lain.

Allah SWT mengingatkan:

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu....”
(QS. Al-Ahzab: 21)

Keteladanan selalu berbicara lebih keras daripada nasihat.

Anak-anak mungkin suatu saat lupa kalimat panjang yang kita sampaikan. Tetapi mereka akan mengingat bagaimana ayah memperlakukan ibunya, bagaimana ibu menyambut mereka ketika pulang, bagaimana orang tua bersikap ketika menghadapi masalah, dan bagaimana ayah serta ibunya bersujud kepada Allah.

Maka, janganlah terlalu cepat menuntut hasil.

Dampingi prosesnya.

Jangan jadikan anak proyek untuk memenuhi ambisi kita.

Jadikan mereka amanah yang harus dijaga.

Dan jangan menjadi mandor yang hanya sibuk memastikan pekerjaan selesai. Jadilah pelatih yang sabar memastikan pemainnya berkembang.

Sebab suatu hari tangan kecil yang sekarang kita tuntun itu akan terlepas dari genggaman kita.

Pada saat itulah kita berharap mereka tetap mampu berjalan ke arah yang benar—bukan karena takut kepada kita, bukan karena selalu diperintah, tetapi karena nilai-nilai kebaikan telah tumbuh menjadi kesadaran dalam dirinya.

Itulah hakikat menuntun: mendampingi hari ini, agar kelak mereka mampu berjalan sendiri.


*) Kepala Biadang Peningkatan Mutu Tenaga Pendidik dan Kependidikan Yayasan Baitul Muttaqien Islamic Center Kalimantan Timur.

TAGS