Detail Update

Detail Update

Pendidikan Islam

Card image cap Pendidikan Islam Tidak Bisa Berjalan Sendiri

Pendidikan Islam Perspektif Multidisipliner, Interdisipliner, dan Transdisipliner

Oleh:

Dr. H. Achmad Ruslan Afendi, M.Ag.
Dosen Pascasarjana UINSI Samarinda, Maheswara Utama BPIP RI,

Asesor LAMDIK RI, Pengurus Dewan Pendidikan Provinsi Kalimantan Timur

 

Pendidikan Islam Tidak Bisa Berjalan Sendiri

Pendidikan Islam pada hakikatnya bukan sekadar proses transfer pengetahuan keagamaan dari guru kepada peserta didik. Pendidikan Islam merupakan proses pembentukan manusia secara utuh: memiliki kedalaman spiritual, keluasan intelektual, kematangan emosional, kepekaan sosial, keterampilan hidup, serta tanggung jawab terhadap lingkungan dan bangsa. Karena itu, menghadapi kompleksitas kehidupan abad ke-21, pendidikan Islam tidak cukup jika hanya dilihat dari satu perspektif keilmuan. Persoalan pendidikan hari ini bersentuhan dengan psikologi, sosiologi, ekonomi, teknologi, politik, budaya, kesehatan, lingkungan, bahkan kecerdasan buatan. Di sinilah pentingnya pendekatan multidisipliner, interdisipliner, dan transdisipliner dalam pengembangan pendidikan Islam.

Multidisipliner: Banyak Ilmu, Satu Persoalan

Pendekatan multidisipliner berarti sebuah persoalan pendidikan Islam dikaji melalui berbagai disiplin ilmu, tetapi masing-masing disiplin masih menggunakan perspektif dan metodologinya sendiri. Misalnya, persoalan rendahnya literasi digital peserta didik madrasah dapat dilihat dari perspektif pendidikan, psikologi, komunikasi, teknologi informasi, dan pendidikan agama Islam. Pendidikan melihat bagaimana strategi pembelajaran diperbaiki. Psikologi mengkaji perilaku peserta didik. Teknologi informasi melihat kemampuan literasi digital. Ilmu komunikasi menganalisis pola interaksi di ruang digital. Sementara Pendidikan Islam memberikan landasan nilai tentang adab, akhlak, tanggung jawab, dan etika penggunaan teknologi. Pendekatan ini memberikan keuntungan karena satu persoalan dapat dipahami dari banyak sisi. Namun, kelemahannya adalah setiap disiplin terkadang masih berjalan sendiri-sendiri.

Interdisipliner: Ilmu Saling Berdialog

Berbeda dengan multidisipliner, pendekatan interdisipliner berusaha membangun dialog dan integrasi antardisiplin ilmu. Dalam pendidikan Islam, misalnya, persoalan bullying di madrasah tidak cukup hanya diselesaikan melalui nasihat agama. Persoalan tersebut perlu dibaca melalui psikologi perkembangan, pendidikan karakter, sosiologi, komunikasi, hukum perlindungan anak, dan nilai-nilai Islam. Nilai Islam tentang rahmah, penghormatan terhadap martabat manusia, persaudaraan, dan larangan melakukan kekerasan dapat berdialog dengan teori psikologi dan pendekatan pendidikan modern. Dengan demikian, pendidikan Islam tidak terjebak pada dikotomi antara “ilmu agama” dan “ilmu umum”. Keduanya dapat dipertemukan untuk menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif.

Transdisipliner: Melampaui Batas-Batas Keilmuan

Pendekatan transdisipliner memiliki cakupan yang lebih jauh. Ilmu tidak hanya dipertemukan dengan ilmu lain, tetapi juga berusaha melibatkan praktisi, masyarakat, pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan para pemangku kepentingan dalam menyelesaikan persoalan nyata. Contohnya adalah persoalan kesiapan generasi muda Kalimantan Timur menghadapi transformasi Ibu Kota Nusantara (IKN). Persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan oleh pendidikan Islam sendirian. Diperlukan kontribusi pendidikan, teknologi, ekonomi, sosial-budaya, lingkungan, dunia kerja, pemerintah, masyarakat, dan lembaga keagamaan. Pendidikan Islam kemudian mengambil posisi strategis dengan memberikan fondasi iman, ilmu, akhlak, moderasi beragama, nasionalisme, tanggung jawab sosial, dan kepedulian ekologis. Dalam konteks ini, pendidikan tidak berhenti pada pertanyaan: “Apa yang harus diajarkan?” Tetapi berkembang menjadi pertanyaan: “Manusia seperti apa yang dibutuhkan masyarakat dan bangsa, serta bagaimana pendidikan dapat berkontribusi menyelesaikan persoalan kehidupan?”

Dari Integrasi Ilmu Menuju Integrasi Kehidupan

Sesungguhnya, gagasan multidisipliner, interdisipliner, dan transdisipliner sejalan dengan semangat Islam yang tidak mempertentangkan antara wahyu dan akal. Al-Qur'an mendorong manusia untuk membaca, berpikir, melakukan perjalanan intelektual, mengamati alam, dan mengambil pelajaran dari kehidupan. Allah Swt. berfirman:  اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-'Alaq: 1) Perintah iqra’ dapat dimaknai secara luas sebagai dorongan untuk membaca teks, membaca realitas, membaca alam, membaca sejarah, dan membaca berbagai persoalan kemanusiaan. Karena itu, pendidikan Islam idealnya tidak hanya menghasilkan manusia yang saleh secara individual, tetapi juga manusia yang mampu menghadirkan kemaslahatan dalam kehidupan sosial.

Pendidikan Islam dan Tantangan Era Digital

Revolusi digital semakin memperkuat kebutuhan terhadap pendekatan lintas disiplin.

Kemunculan artificial intelligence (AI), media sosial, big data, pembelajaran digital, deep learning, dan ekonomi berbasis teknologi menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi pendidikan Islam. Peserta didik membutuhkan kemampuan literasi agama, tetapi sekaligus membutuhkan literasi digital, literasi data, literasi teknologi, literasi sosial, dan literasi moral. Jangan sampai peserta didik memiliki kemampuan teknologi yang tinggi tetapi kehilangan adab. Jangan pula memiliki pengetahuan agama yang luas tetapi tidak mampu menghadapi perubahan zaman. Karena itu, pendidikan Islam masa depan harus membangun keseimbangan antara iman, ilmu, teknologi, akhlak, dan kemanusiaan.

Pendidikan Islam Harus Menghasilkan Solusi

Orientasi pendidikan Islam ke depan perlu bergeser dari sekadar knowledge oriented menuju problem solving oriented. Peserta didik tidak cukup hanya mampu menjawab soal ujian. Mereka harus mampu menjawab persoalan kehidupan. Bagaimana Islam memberikan solusi terhadap krisis lingkungan? Bagaimana nilai-nilai Islam dapat membangun etika kecerdasan buatan? Bagaimana pendidikan Islam mencegah radikalisme, intoleransi, perundungan, dan kekerasan? Bagaimana madrasah menyiapkan generasi yang kompetitif dalam dunia kerja tanpa kehilangan identitas keislaman dan kebangsaan? Bagaimana pendidikan Islam berkontribusi terhadap pembangunan Indonesia Emas 2045? Pertanyaan-pertanyaan tersebut membutuhkan kerja sama berbagai disiplin ilmu.

Guru dan Dosen sebagai Penghubung Pengetahuan

Konsekuensi dari pendekatan multidisipliner, interdisipliner, dan transdisipliner adalah perubahan paradigma peran pendidik. Guru dan dosen tidak lagi cukup berperan sebagai sumber utama informasi, karena informasi tersedia sangat luas di ruang digital. Pendidik harus menjadi fasilitator, mentor, kurator pengetahuan, pembimbing moral, dan penghubung berbagai sumber keilmuan. Dalam konteks ini, pendidik dituntut memiliki continuous learning. Mereka harus terus belajar, berkolaborasi, melakukan penelitian, memanfaatkan teknologi, sekaligus menjaga integritas dan keteladanan. Sebab, kecanggihan teknologi tidak akan pernah menggantikan sepenuhnya dimensi keteladanan seorang pendidik.

Menuju Ekosistem Pendidikan Islam yang Kolaboratif

Pendidikan Islam masa depan membutuhkan ekosistem yang kolaboratif. Perguruan tinggi, madrasah, pesantren, pemerintah, dunia usaha, organisasi keagamaan, masyarakat, dan keluarga harus membangun sinergi. Kampus tidak boleh menjadi menara gading. Madrasah tidak boleh terisolasi dari perkembangan masyarakat. Pesantren tidak boleh berjarak dengan teknologi. Pemerintah tidak boleh berjalan sendiri tanpa mendengar suara akademisi dan masyarakat. Semua pihak perlu membangun knowledge ecosystem yang menjadikan pendidikan sebagai kekuatan perubahan sosial. Dalam konteks Kalimantan Timur dan transformasi IKN, pendekatan tersebut semakin relevan. Pendidikan Islam dapat menjadi salah satu kekuatan dalam membangun manusia yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kebangsaan, kemampuan adaptasi, kreativitas, integritas, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Penutup: Dari Sekat Keilmuan Menuju Kolaborasi Kemanusiaan

Pendidikan Islam tidak boleh terperangkap dalam sekat-sekat keilmuan yang kaku. Masa depan membutuhkan generasi yang mampu menghubungkan agama dengan ilmu pengetahuan, teknologi dengan etika, kecerdasan dengan akhlak, serta kemajuan dengan kemanusiaan. Multidisipliner mengajarkan kita untuk melihat persoalan dari banyak perspektif. Interdisipliner mengajarkan kita untuk mengintegrasikan dan mendialogkan berbagai ilmu. Transdisipliner mengajarkan kita untuk membawa ilmu keluar dari ruang akademik menuju penyelesaian persoalan nyata masyarakat. Pada akhirnya, tujuan pendidikan Islam bukan sekadar mencetak manusia yang tahu, tetapi manusia yang memahami, menghayati, mengamalkan, berkolaborasi, dan mampu memberi solusi. Inilah wajah pendidikan Islam yang dibutuhkan pada masa kini dan masa depan: pendidikan yang berakar pada wahyu, berpijak pada ilmu, terbuka terhadap teknologi, responsif terhadap realitas, dan berorientasi pada kemaslahatan umat, bangsa, dan kemanusiaan. Pendidikan Islam tidak boleh hanya menjadi penonton perubahan zaman. Pendidikan Islam harus menjadi bagian penting dari aktor yang mengarahkan perubahan menuju peradaban yang berilmu, berakhlak, berkeadaban, dan berkeadilan. Allahu a’lam.