Detail Update

Detail Update

Hujan Datanglah

Card image cap Wahai hujan siramilah kami yang kekeringan

Wahai Hujan, Kenapa Engkau Belum Juga Turun?

Oleh: Djoko Iriandono, S.E. M.A.*)

 

Pagi itu, matahari tidak bersinar seperti biasanya.

Cahayanya redup, langit tampak kelabu, dan udara terasa berbeda. Dari kejauhan, suasana pagi seperti diselimuti kabut. Sekilas saya mengira hari itu sedang mendung. Dalam hati bahkan sempat terbersit harapan, “Mudah-mudahan sebentar lagi hujan turun.”

Tetapi setelah diperhatikan lebih saksama, ternyata bukan mendung.

Langit pagi itu tertutup asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di “Bumi Etam”, Kalimantan Timur.

Harapan yang semula menyambut datangnya hujan perlahan berubah menjadi keprihatinan. Sebab yang menutupi cahaya matahari bukanlah awan pembawa hujan, melainkan asap yang membuat udara menjadi keruh.

Di situlah saya kemudian terdiam.

Betapa sering manusia keliru membaca tanda-tanda.

Kita melihat langit kelabu, lalu mengira hujan akan segera turun. Kita melihat awan berkumpul, lalu berharap tanah akan segera basah. Padahal tidak setiap langit yang gelap membawa hujan.

Bukankah kehidupan kita juga sering demikian?

Ada saat-saat ketika kita melihat tanda-tanda seolah pertolongan akan segera datang. Kita sudah berusaha. Kita sudah berdoa. Kita sudah menunggu. Namun ternyata yang datang bukanlah jawaban yang kita harapkan.

Lalu kita bertanya,

“Wahai hujan, kenapa engkau belum juga turun?”

Tanah sudah lama menunggu. Pepohonan membutuhkan air. Sungai mulai surut. Udara terasa panas dan kering. Tetapi hujan belum juga turun.

Begitu pula hati manusia.

Ada hati yang sedang menunggu rezeki.

Ada yang menunggu kesembuhan.

Ada yang menunggu kedamaian.

Ada yang menunggu seseorang datang.

Ada yang menunggu seseorang kembali.

Ada pula yang hanya ingin satu hal sederhana, yaitu: hidupnya sedikit lebih ringan.

Kita sudah berdoa, tetapi jawaban belum juga datang.

Kita kemudian mulai bertanya kepada Allah, “Ya Allah, kapan?”

Padahal Allah tidak pernah terlambat.

Allah berfirman:

“Dan Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya.”
(QS. Asy-Syura: 28)

Ayat ini mengajarkan sesuatu yang dalam.

Kadang-kadang hujan justru datang setelah manusia hampir kehilangan harapan.

Bukan karena Allah baru mendengar doa kita. Bukan karena Allah baru mengetahui kesulitan kita. Allah Maha Mendengar bahkan sebelum bibir kita mengucapkan permohonan.

Hanya saja, Allah memiliki waktu-Nya sendiri.

Kita sering mengukur pertolongan Allah dengan ukuran waktu manusia.

Kita berkata, “Sudah lama aku berdoa.”

Allah mengetahui berapa lama kita mampu bertahan.

Kita berkata, “Aku sudah berusaha berkali-kali.

Allah mengetahui usaha yang bahkan tidak dilihat oleh manusia.

Kita berkata, “Mengapa keinginanku belum juga terwujud?”

Allah mengetahui apakah keinginan itu benar-benar baik bagi kita.

Rasulullah mengingatkan bahwa doa seorang Muslim tidaklah sia-sia. Selama doa itu tidak mengandung dosa atau memutus silaturahmi, Allah akan memberikan salah satu dari tiga hal, yaitu:

mengabulkannya, menyimpannya sebagai pahala di akhirat, atau menghindarkan darinya keburukan yang sebanding. (HR. Ahmad)

Maka jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Allah tidak mendengar doa kita.

Boleh jadi hujan belum turun karena waktunya belum tiba.

Boleh jadi Allah sedang mempersiapkan tanah agar mampu menerima air.

Boleh jadi rezeki belum datang karena Allah sedang mempersiapkan kita agar mampu menjaganya.

Boleh jadi pintu yang kita ketuk terus-menerus memang bukan pintu yang harus kita masuki.

Allah berfirman:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)

Pagi tadi saya mengira langit yang kelabu adalah pertanda hujan.

Ternyata saya keliru.

Yang saya kira awan ternyata asap.

Dan dari sana saya kembali diingatkan bahwa tidak semua yang tampak seperti pertanda adalah apa yang kita sangka.

Dalam kehidupan pun demikian.

Tidak semua kegagalan berarti keburukan.

Tidak semua penundaan berarti penolakan.

Tidak semua kehilangan berarti akhir.

Tidak semua kesulitan berarti Allah sedang meninggalkan kita.

Kadang-kadang sesuatu yang kita anggap sebagai jalan buntu justru sedang mengarahkan kita menuju jalan yang lebih baik.

Kita hanya melihat satu bagian kecil dari perjalanan. Allah melihat seluruh jalan.

Kita melihat hari ini. Allah mengetahui hari esok.

Kita melihat langit yang kelabu. Allah mengetahui kapan hujan harus diturunkan.

Allah berfirman:

“Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh keberkahan…”
(QS. Qaf: 9)

Hujan bukan sekadar air.

Ia adalah rahmat.

Ia turun membasahi tanah yang kering, menghidupkan tumbuh-tumbuhan, mengisi sungai dan sumur, serta menghadirkan kesejukan setelah panas yang panjang.

Mungkin demikian pula jawaban Allah terhadap doa-doa kita.

Ia akan datang sebagai rahmat pada waktu yang paling tepat.

Karena itu, ketika hari ini hidup kita terasa kering, jangan berhenti menengadah.

Teruslah berdoa.

Teruslah berikhtiar.

Teruslah bersabar.

Dan jangan terlalu cepat kecewa hanya karena langit belum menurunkan hujan.

Sebab boleh jadi hujan yang kita tunggu sedang dalam perjalanan.

Dan boleh jadi pula, sebelum hujan turun, Allah ingin terlebih dahulu membersihkan sesuatu dalam diri kita.

Kesombongan.

Keputusasaan.

Kegelisahan.

Ketergantungan kepada selain-Nya.

Atau mungkin rasa bahwa kita bisa mengatur hidup ini sesuka hati.

Pagi itu, saya berharap langit yang kelabu membawa hujan.

Ternyata ia membawa sebuah pelajaran.

Bahwa manusia bisa keliru membaca langit, tetapi Allah tidak pernah keliru mengatur kehidupan.

Maka, wahai hujan…

Jika engkau belum juga turun hari ini, tidak mengapa.

Kami akan tetap menengadah.

Kami akan tetap berharap.

Kami akan tetap berdoa.

Sebab kami percaya, di balik langit yang kelabu dan udara yang penuh asap, ada Allah Yang Maha Mengetahui kapan saat terbaik untuk menurunkan hujan.

Dan ketika hujan itu akhirnya turun, semoga bukan hanya tanah yang menjadi basah.

Semoga hati kita pun ikut basah oleh rahmat-Nya, setelah sekian lama kering oleh penantian.

 

*) Kasi Kominfo BPIC Kaltim