Oleh: Djoko Iriandono*)
Pendahuluan
Pendidikan merupakan pilar utama dalam pembangunan suatu bangsa. Kualitas pendidikan yang baik menciptakan sumber daya manusia yang unggul, inovatif, dan mampu bersaing dalam kancah global. Indonesia sebagai negara terbesar di Asia Tenggara memiliki tantangan tersendiri dalam menyelenggarakan pendidikan yang merata dan berkualitas. Jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya seperti Singapura, Malaysia, Thailand, dan Vietnam, posisi Indonesia dalam hal kualitas pendidikan masih tertinggal di beberapa aspek.
Artikel ini akan membahas secara komprehensif bagaimana kualitas pendidikan Indonesia jika disandingkan dengan negara-negara ASEAN, menggunakan data dan indikator yang relevan, serta memberikan analisis terhadap tantangan dan peluang perbaikan ke depan.
1. Indeks Pembangunan Pendidikan
Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengukur kualitas pendidikan adalah Human Development Index (HDI), khususnya komponen Education Index yang mencakup harapan lama sekolah dan rata-rata lama sekolah.
Menurut laporan Human Development Report dari UNDP (2023):
Dari data tersebut, terlihat bahwa Indonesia berada di bawah Singapura, Malaysia, dan Vietnam dalam hal kualitas pendidikan formal yang diterima penduduknya.
2. PISA: Gambaran Kompetensi Siswa
Program for International Student Assessment (PISA) yang dikeluarkan oleh OECD memberikan penilaian terhadap kemampuan membaca, matematika, dan sains pada siswa usia 15 tahun di seluruh dunia. Hasil PISA terbaru (2022) menunjukkan:
Indonesia mengalami sedikit peningkatan dalam skor membaca dan sains, namun masih belum signifikan jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Vietnam yang memiliki kemajuan cepat dan konsisten.

Sumber: Organization for Economic Cooperation and Development (OECD)
3. Infrastruktur dan Akses Pendidikan
Indonesia menghadapi tantangan besar terkait geografis. Sebagai negara kepulauan dengan ribuan pulau, pemerataan akses pendidikan menjadi isu krusial. Banyak daerah terpencil di Indonesia masih kekurangan:
Sementara itu, negara seperti Singapura dan Malaysia telah berhasil membangun infrastruktur pendidikan yang solid dan terintegrasi. Bahkan Vietnam pun, meski ekonominya belum sebesar Indonesia, berhasil meningkatkan kualitas pendidikan dengan strategi terpusat dan investasi besar pada guru dan kurikulum.
4. Kualitas dan Pelatihan Guru
Sumber daya manusia dalam pendidikan, khususnya guru, memainkan peran vital. Di Indonesia, meskipun jumlah guru sangat besar, pemerataan kualitas dan kompetensi mereka masih menjadi tantangan.
Sementara itu, Singapura menjadikan profesi guru sangat prestisius, dengan sistem seleksi ketat dan pelatihan berkelanjutan di institusi seperti National Institute of Education (NIE). Vietnam juga memberi perhatian besar terhadap pelatihan guru dalam pendidikan dasar, yang berkontribusi terhadap pencapaian PISA mereka.
5. Digitalisasi dan Teknologi Pendidikan
Pandemi COVID-19 telah mempercepat adopsi teknologi dalam dunia pendidikan. Namun, kesenjangan digital di Indonesia sangat mencolok. Masih banyak siswa di daerah tidak memiliki akses internet atau perangkat belajar daring.
Sebaliknya, negara seperti:
Indonesia memang telah mengembangkan platform seperti Rumah Belajar dan Merdeka Mengajar, namun implementasinya masih belum maksimal secara nasional.
6. Reformasi Kurikulum dan Pendekatan Pembelajaran
Ganti menteri ganti kurikulum, itulah pameo yang selama ini berkembang di kalangan masyarakat Indonesia. Saat pemerintahan presiden Joko Widodo, Indonesia menerapkan Kurikulum Merdeka, yang ditengarai lebih fleksibel dan berorientasi pada kompetensi. Ini sesungguhnya merupakan langkah positif. Namun sayangnya penerapannya belum merata dan seringkali tidak dibarengi dengan kesiapan guru atau fasilitas.
Pada pemerintahan presiden Prabowo Subianto, Meneteri Pendidikan Dasar dan Menengah memperkenalkan istilah baru yang dikenal dengan Deep Learning (Pebelajaran Mendalam) yang akan diterapkan pada proses pembelajaran. Istilah ini bukan merupakan nama dari sebuah kurikulum tetapi lebih merupakan metode atau konsep pembelajaran yang menekankan pada proses pembelajaran yang menyenangkan (joyful learning), bermakna (meaningful learning) dan berkesadaran (mindful learning).
Jika kita perhatikan kurikulum darai negara seperti:
Indonesia bisa mengambil pelajaran dari sistem ini, terutama dalam hal konsistensi dan dukungan terhadap rencana perubahan kurikulum yang akan diadakan.
7. Anggaran Pendidikan
Konstitusi Indonesia mengamanatkan alokasi 20% APBN untuk pendidikan. Namun, efektivitas penggunaan dana ini sering dipertanyakan. Banyak anggaran terserap pada belanja pegawai atau birokrasi, bukan pada pengembangan kualitas.
Sementara itu:
Indonesia perlu mengkaji ulang efektivitas anggaran dan memastikan dana pendidikan benar-benar berdampak pada peningkatan mutu dan akses.
Kesimpulan dan Rekomendasi
Secara umum, Indonesia masih tertinggal dalam hal kualitas pendidikan dibandingkan negara-negara ASEAN seperti Singapura, Vietnam, dan Malaysia. Namun, terdapat peluang besar untuk perbaikan jika langkah-langkah strategis dilakukan, antara lain:
Indonesia memiliki potensi besar, baik dari segi demografi maupun sumber daya. Dengan komitmen politik yang kuat, inovasi kebijakan, dan partisipasi masyarakat, kualitas pendidikan Indonesia dapat dikejar dan sejajar dengan negara-negara ASEAN lainnya.
*) Kasi Kominfo BPIC Kaltim