Detail Update

Detail Update

Mengapa Kesuksesan Berbeda di Antara Setiap Orang?

Card image cap waktu

Oleh: Djoko Iriandono*)

Pada sebuah perkuliahan seorang dosen bertanya pada para mahasiswanya, “Kita semua tau bahwa setiap orang dianugerahi oleh Tuhan waktu yang sama yaitu 24 jam dalam sehari semalam.  Tetapi mengapa hasil yang dicapai oleh setiap individu sering kali berbeda, mulai dari mereka yang meraih sukses secara gemilang, hingga mereka yang merasa kurang berhasil atau bahkan gagal?”.

Para mahasiswa secara bergantian mengacungkan tangan berusaha untuk menjawab. Salah seorang mahasiswa yang ditunjuk pertama kali menjawab dengan spontan, “Mereka yang sukses dikarenakan pandai memanfaatkan waktu pak”, katanya. “Ya betul, tetapi bukan hanya itu” sahutnya. “Ayo siapa lagi yang bisa menyebutkan, faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya perbedaan pencapaian antara individu yang satu dengan yang lain?” lanjut sang dosen. Artikel ini mencoba mungurai jawaban dari para mahasiswa atas pertanyaan dari dosen tersebut dengan harapan artikel ini dapat menginspirasi mereka yang sedang meniti karir atau bagi orang tua dan guru dalam menasehati anak-anak dan murid-muridnya.

Kesuksesan adalah konsep yang relatif. Bagi sebagian orang, sukses berarti memiliki karier yang cemerlang dan kekayaan melimpah, sementara bagi yang lain, sukses bisa berupa kebahagiaan keluarga, kesehatan, atau pencapaian spiritual. Oleh karena itu, perbedaan dalam definisi kesuksesan ini memengaruhi cara orang menghabiskan waktu mereka.

Mereka yang sukses sering kali memiliki tujuan yang jelas dan berfokus mencapainya. Mereka merencanakan waktu mereka dengan baik untuk mendukung langkah-langkah menuju tujuan tersebut. Sebaliknya, mereka yang tidak memiliki tujuan atau belum menemukan makna dari kesuksesan cenderung menghabiskan waktu tanpa arah, sehingga hasil yang mereka capai pun menjadi tidak maksimal. Itulah sebabnya betapa pentingnya para orang tua dan guru-guru untuk mengajarkan kepada anak-anak dan murid-murid mereka tentang menetapkan dan cara mencapai tujuan hidup atau cita-cita sejak dini.

Faktor lain yang menyebabkan terjadinya perbedaan atas keberhasilan yang diraih oleh setiap orang adalah manajemen waktu. Orang-orang sukses memahami pentingnya memprioritaskan aktivitas yang bernilai tinggi. Mereka menggunakan waktu mereka untuk belajar, bekerja keras, dan mengejar peluang yang mendukung pencapaian tujuan.

Sebagai contoh, tokoh-tokoh sukses seperti Elon Musk, Bill Gates atau Nassef Sawiris dikenal memiliki rutinitas harian yang sangat terorganisasi. Mereka menyisihkan waktu untuk pengembangan diri, seperti membaca, berolahraga, atau bermeditasi. Sebaliknya, kebiasaan buruk seperti menunda pekerjaan atau terlalu banyak menghabiskan waktu untuk menonton youtube, facebook atau menjawab chatt WA serta media sosial lainnya dapat menghalangi seseorang untuk meraih potensi maksimalnya.

Hal lain yang tidak kalah penting dalam memengaruhi tingkat keberhasilan seseorang adalah lingkungan. Mereka yang tumbuh dalam lingkungan yang mendukung, seperti keluarga yang memberikan motivasi, akses pendidikan yang baik, atau komunitas yang positif, cenderung memiliki peluang lebih besar untuk sukses.

Sebaliknya, lingkungan yang negatif, seperti kemiskinan, kurangnya akses terhadap pendidikan, atau pergaulan yang tidak produktif, dapat menjadi penghambat. Itulah sebabnya bagi orang tua yang menginginkan anaknya sukses di kemudian hari akan berusaha untuk memilih linkungan tempat tinggal, lingkungan pendidikan serta lingkungan pergaulan yang baik. Namun, banyak juga contoh orang-orang yang berhasil melampaui batasan lingkungan mereka dengan tekad yang kuat dan kerja keras, seperti Nelson Mandela (Afsel) atau Malala Yousafzai (Pakistan).

Mindset atau cara berpikir seseorang juga merupakan faktor yang berperan besar dalam menentukan kesuksesan. Orang-orang yang percaya pada pertumbuhan diri (growth mindset) cenderung melihat tantangan sebagai peluang untuk belajar. Mereka tidak takut gagal karena mereka memahami bahwa kegagalan adalah bagian dari proses menuju keberhasilan.

Sebaliknya, mereka yang memiliki pola pikir tetap (fixed mindset) sering kali menghindari tantangan karena takut gagal atau takut terlihat tidak kompeten. Ketidakmampuan untuk beradaptasi dengan perubahan atau menghadapi kesulitan dapat menjadi penghalang utama dalam mencapai kesuksesan.

Orang yang sukses adalah mereka yang tidak berhenti mencoba meskipun telah gagal. Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan pelajaran untuk menemukan cara yang lebih baik. Mereka yang mampu bangkit dari kegagalan biasanya memiliki ketahanan mental yang kuat dan keyakinan bahwa setiap masalah pasti ada solusinya.

Kesuksesan dalam Perspektif Islam

Dalam Islam, kesuksesan bukan hanya diukur dari pencapaian duniawi, tetapi juga dari keberhasilan di akhirat. Allah SWT menciptakan manusia dengan tujuan yang mulia, yaitu untuk beribadah kepada-Nya sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an:

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Kesuksesan sejati dalam Islam adalah keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat. Islam mengajarkan bahwa segala usaha yang dilakukan di dunia harus dilandasi dengan niat yang ikhlas untuk mencari ridha Allah SWT. Dengan demikian, seorang Muslim tidak hanya fokus pada hasil duniawi, tetapi juga memastikan bahwa cara yang ditempuh sesuai dengan syariat Islam.

Takdir dan Usaha

Dalam pandangan agama Islam, ada keseimbangan antara takdir dan usaha. Tuhan telah menetapkan rezeki dan takdir setiap manusia, tetapi manusia juga diberi kebebasan untuk berusaha. Dalam Al-Qur'an disebutkan, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri" (QS. Ar-Ra'd: 11).

Ini menunjukkan bahwa manusia memiliki tanggung jawab untuk berusaha semaksimal mungkin, sementara hasil akhirnya adalah hak prerogatif Tuhan. Oleh karena itu, tidak cukup hanya berdoa tanpa bekerja keras, begitu pula sebaliknya.

Manajemen Waktu dalam Islam

Islam memberikan perhatian besar pada pentingnya waktu. Dalam Al-Qur'an, Allah SWT bersumpah demi waktu dalam surah Al-'Asr:

"Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran." (QS. Al-'Asr: 1-3)

Ayat ini mengingatkan bahwa manusia yang tidak memanfaatkan waktunya untuk beriman, beramal saleh, dan menyebarkan kebaikan berada dalam kerugian. Rasulullah SAW juga bersabda:

"Ada dua kenikmatan yang banyak manusia lalai darinya: kesehatan dan waktu luang." (HR. Bukhari)

Oleh karena itu, seorang Muslim yang memahami nilai waktu akan memanfaatkannya untuk hal-hal yang bermanfaat, seperti belajar, bekerja, beribadah, serta membantu sesama.

Kesuksesan sebagai Amanah

Kesuksesan yang diraih di dunia, baik berupa harta, ilmu, maupun kedudukan, adalah amanah yang harus digunakan untuk kebaikan. Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur'an:

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia; dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu." (QS. Al-Qasas: 77)

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam tidak melarang manusia untuk menikmati kehidupan dunia, tetapi harus diimbangi dengan persiapan untuk akhirat. Seorang Muslim yang sukses memahami bahwa kekayaan, ilmu, atau pengaruh yang dimilikinya adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memberi manfaat bagi sesama.

Doa dan Tawakal

Dalam usaha meraih kesuksesan, Islam mengajarkan pentingnya keseimbangan antara usaha dan doa. Rasulullah SAW bersabda:

"Jika kamu bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Dia akan memberimu rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung itu pergi di pagi hari dengan perut kosong, lalu pulang di sore hari dalam keadaan kenyang." (HR. Tirmidzi)

Hadis ini mengajarkan bahwa seorang Muslim harus berusaha sekuat tenaga seperti burung yang mencari makan, tetapi juga meyakini bahwa hasil akhirnya adalah kehendak Allah SWT. Doa adalah bentuk ketundukan seorang hamba kepada Sang Pencipta, yang menunjukkan bahwa manusia tidak berkuasa atas segalanya.

Pentingnya Ikhlas dan Niat yang Benar

Dalam Islam, niat adalah pondasi dari setiap amal. Rasulullah SAW bersabda:

"Sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada niatnya, dan seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan." (HR. Bukhari dan Muslim)

Seorang Muslim yang sukses bukan hanya dilihat dari apa yang dicapainya, tetapi juga dari niat dan cara yang digunakan untuk mencapainya. Kesuksesan yang diraih dengan cara yang tidak halal, seperti menipu atau merugikan orang lain, tidak akan membawa keberkahan. Sebaliknya, meskipun hasilnya kecil, jika diperoleh dengan cara yang halal dan niat yang ikhlas, maka itu adalah kesuksesan yang sesungguhnya.

Menghadapi Kegagalan dengan Sabar

Islam mengajarkan bahwa kegagalan adalah bagian dari ujian hidup. Allah SWT berfirman:

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)

Orang yang sabar dalam menghadapi kegagalan adalah mereka yang percaya bahwa segala sesuatu terjadi atas izin Allah dan pasti ada hikmah di baliknya. Dalam hadis, Rasulullah SAW bersabda:

"Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah kebaikan baginya. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya." (HR. Muslim)

Mengutamakan Akhlak Mulia

Kesuksesan dalam Islam juga tidak bisa dilepaskan dari akhlak mulia. Rasulullah SAW adalah teladan utama dalam menunjukkan bahwa kesuksesan sejati tidak hanya tentang pencapaian pribadi, tetapi juga tentang bagaimana seseorang memberi manfaat bagi orang lain. Rasulullah bersabda:

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain." (HR. Ahmad)

Kesuksesan yang diraih dengan akhlak buruk, seperti keserakahan atau kezaliman, hanya akan membawa kehancuran. Sebaliknya, kesuksesan yang diraih dengan akhlak mulia akan membawa keberkahan bagi diri sendiri dan orang lain.

Islam memberikan panduan yang lengkap tentang bagaimana seseorang dapat meraih kesuksesan yang sejati, yaitu dengan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, berusaha dengan sungguh-sungguh, dan tetap berpegang teguh pada ajaran agama. Kesuksesan duniawi bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk mencapai ridha Allah dan kebahagiaan di akhirat.

Seorang Muslim yang memahami hakikat kesuksesan akan senantiasa berusaha dengan niat yang ikhlas, menjaga akhlak, bersabar dalam menghadapi ujian, dan bertawakal kepada Allah. Dengan demikian, ia tidak hanya menjadi pribadi yang sukses di dunia, tetapi juga berpeluang meraih kesuksesan abadi di akhirat.

Perbedaan dalam kesuksesan antara individu bukanlah karena ketidakadilan Tuhan, melainkan hasil dari bagaimana setiap orang memanfaatkan waktu, mengelola potensi, dan menghadapi tantangan hidup. Kesuksesan membutuhkan kombinasi dari tujuan yang jelas, manajemen waktu yang baik, lingkungan yang mendukung, mindset positif, serta usaha dan doa yang seimbang.

Setiap orang memiliki peluang yang sama untuk sukses dalam versi mereka masing-masing. Kuncinya adalah mengambil tanggung jawab penuh atas waktu dan sumber daya yang diberikan Tuhan, sambil terus belajar dan bertumbuh. Dengan begitu, kita dapat meraih hidup yang bermakna dan penuh berkah.

*) Kasi Kominfo BPIC