Ubahlah layarmu menuju tujuanmu
Oleh: Djoko Iriandono*)
Ada orang yang melihat hidup dari sisi kesulitan. Setiap kesempatan terasa mengandung masalah, setiap perubahan dianggap sebagai ancaman, dan setiap kejadian yang tidak sesuai harapan menjadi alasan untuk mengeluh. Ada pula orang yang memilih melihat sisi lain. Di tengah kesulitan, ia mencari celah untuk menemukan kesempatan. Ia percaya bahwa tidak semua keadaan buruk akan berakhir buruk.
Namun, ada satu sikap yang sering kali lebih menentukan perjalanan hidup: menjadi realistis. Bukan sekadar melihat kesulitan, bukan pula hanya berharap keadaan berubah menjadi lebih baik, melainkan mampu membaca situasi, menerima kenyataan, lalu menyesuaikan langkah agar tetap bisa bergerak menuju tujuan.
Orang yang pesimis adalah orang yang melihat kesulitan dalam setiap kesempatan. Sebaliknya, orang yang optimis mampu melihat kesempatan dalam setiap kesulitan. Sedangkan orang yang realistis adalah mereka yang mampu mengubah keadaan menjadi keberuntungan.
Gambaran sederhana tentang tiga sikap tersebut dapat kita lihat dari kehidupan seorang nelayan.
Bagi nelayan yang pesimis, arah angin menentukan hampir seluruh nasib perjalanannya. Ketika angin bertiup tidak sesuai harapan, ia mengeluh. Ketika ombak meninggi, ia merasa keadaan sedang tidak berpihak kepadanya. Ia menggantungkan perahunya pada arah angin dan berharap alam memberikan kondisi yang sesuai dengan keinginannya.
Nelayan yang optimis memiliki cara pandang berbeda. Ia tetap berharap angin akan membawanya menuju tempat yang dituju. Ketika angin berubah, ia percaya akan ada kesempatan untuk sampai. Harapan membuatnya tetap bersemangat. Ia tidak mudah menyerah hanya karena keadaan tidak sesuai rencana.
Namun, nelayan yang realistis memahami bahwa laut tidak pernah berjanji akan memberikan angin sesuai keinginannya. Ia tahu angin bisa berubah kapan saja. Arah gelombang pun tidak selalu dapat diprediksi. Maka ketika angin berubah, ia tidak sibuk mengeluh dan tidak pula hanya menunggu keadaan membaik. Ia mengubah posisi layar, menyesuaikan arah perahu, membaca gelombang, lalu mencari jalur yang paling memungkinkan.
Tujuannya tetap sama, tetapi caranya bisa berubah.
Di situlah letak perbedaan yang sering kali tidak kita sadari dalam menjalani kehidupan. Banyak orang mempunyai tujuan yang baik, tetapi terlalu kaku terhadap cara untuk mencapainya. Ketika jalan pertama tertutup, mereka menganggap seluruh perjalanan telah berakhir. Ketika rencana tidak berjalan sesuai harapan, mereka merasa kehidupan sedang tidak adil.
Padahal, mungkin yang perlu diubah bukan tujuannya, melainkan layarnya.
Kita tidak selalu bisa memilih angin yang datang dalam kehidupan. Kita tidak dapat menentukan kapan masalah muncul, kapan keadaan berubah, atau kapan sesuatu yang sudah direncanakan tiba-tiba tidak berjalan sebagaimana mestinya. Ada hal-hal yang memang berada di luar kendali kita.
Yang masih berada dalam kendali kita adalah bagaimana merespons keadaan tersebut.
Kehilangan kesempatan bisa menjadi pengalaman. Kegagalan bisa menjadi pelajaran. Perubahan bisa menjadi jalan menuju sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kita bayangkan. Bahkan sebuah penolakan kadang membuka pintu menuju tempat yang lebih sesuai.
Bukan berarti setiap kesulitan harus dipandang indah. Tidak semua kegagalan membawa keberuntungan secara langsung. Ada masa ketika kita memang harus menerima rasa kecewa, beristirahat sejenak, lalu mengumpulkan kembali kekuatan. Sikap realistis bukan berarti selalu kuat atau tidak boleh sedih. Realistis berarti mampu melihat keadaan sebagaimana adanya tanpa kehilangan kemampuan untuk menentukan langkah berikutnya.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menghadapi “angin” yang berubah arah.
Seorang pegawai mungkin sudah bekerja keras, tetapi kariernya tidak berkembang seperti yang diharapkan. Seorang pengusaha mungkin telah menyusun rencana dengan matang, tetapi kondisi pasar berubah. Seorang anak muda mungkin telah memilih jalan pendidikan tertentu, lalu menyadari bahwa bidang tersebut tidak sesuai dengan dirinya. Dalam keluarga, masyarakat, bahkan dalam kehidupan pribadi, selalu ada keadaan yang tidak dapat kita atur sepenuhnya.
Pesimis akan berkata, “Memang tidak ada jalan.”
Optimis akan berkata, “Pasti ada jalan.”
Sedangkan realistis akan bertanya, “Kalau jalan ini tertutup, jalan mana yang masih bisa ditempuh?”
Pertanyaan terakhir terdengar sederhana, tetapi memiliki kekuatan yang besar. Ia menggeser perhatian kita dari masalah menuju kemungkinan. Kita tidak lagi menghabiskan seluruh energi untuk mempertanyakan mengapa keadaan menjadi seperti ini. Kita mulai mencari apa yang masih dapat dilakukan.
Hidup memang tidak selalu memberi kita angin yang baik. Ada kalanya angin bertiup terlalu kencang. Ada saat ketika laut begitu tenang sehingga perahu nyaris tidak bergerak. Ada pula waktu ketika arah angin berubah berkali-kali dalam satu perjalanan.
Nelayan yang berpengalaman tidak menuntut laut untuk selalu tenang. Ia belajar membaca laut.
Begitu pula manusia yang matang dalam menjalani kehidupan. Ia tidak menuntut hidup agar selalu berjalan sesuai keinginannya. Ia belajar membaca keadaan, memahami perubahan, kemudian menyesuaikan diri tanpa kehilangan arah.
Menyesuaikan diri bukan berarti menyerah. Mengubah cara bukan berarti meninggalkan tujuan. Justru kemampuan untuk beradaptasi sering kali menjadi alasan seseorang bisa bertahan lebih lama dibanding mereka yang hanya mengandalkan rencana awal.
Mungkin kita tidak dapat memilih angin yang bertiup hari ini. Namun kita masih dapat memilih bagaimana layar kita diarahkan.
Di sanalah keberuntungan sering kali lahir. Bukan semata-mata karena keadaan berpihak kepada kita, melainkan karena kita mampu mengubah keadaan yang ada menjadi peluang untuk terus bergerak.
Sebab dalam perjalanan hidup, yang paling penting bukan selalu seberapa baik angin bertiup, tetapi seberapa cakap kita mengendalikan layar.
Tujuan boleh tetap sama. Harapan boleh terus dijaga. Tetapi ketika keadaan berubah, jangan takut mengubah arah layar. Bisa jadi, angin yang semula kita anggap sebagai penghalang justru sedang menunjukkan jalan lain menuju tujuan yang selama ini kita cari.
*) Kasi Kominfo BPIC Kaltim