Detail Update

Detail Update

SARASEHAN NASIONAL TATA KELOLA MASJID

Card image cap Sarasehan Nasional

Sarasehan Nasional: BPIC Kaltim Dorong Transformasi Masjid sebagai Pusat Peradaban Umat

SAMARINDA — Badan Pengelola Islamic Centre (BPIC) Kalimantan Timur menggelar Sarasehan Nasional bertema “Penguatan Fungsi Masjid bagi Kemajemukan Indonesia: Transformasi dan Inovasi Masjid Berkelanjutan”, Selasa (25/8/2026), di Gedung Olah Bebaya Etam, Kompleks Rumah Jabatan Gubernur Kalimantan Timur, Samarinda.

Sarasehan yang digelar dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H tersebut dibuka oleh Ketua Umum BPIC Kaltim, Dr. Ir. H. Irianto Lambrie, M.M yang sekaligus memberikan sambutan atas nama Gubernur Kalimantan Timur.

Kegiatan ini menjadi ruang bertukar gagasan mengenai penguatan kembali fungsi masjid agar tidak hanya menjadi tempat pelaksanaan ibadah mahdhah, tetapi berkembang sebagai pusat pembinaan umat, pendidikan, sosial, pemberdayaan ekonomi, persaudaraan, hingga pusat peradaban.

Sarasehan menghadirkan empat narasumber, yakni KH Drs. Muhammad Taufiq Bajeber (Dewan Penasehat Masjid Al Falah Surabaya); KH Ir. Khusnaidi Ikhwani, MM (ketua takmir masjid Al Falah Sragen), Ustadz M. Ichsan Salam (CEO Badan Wakaf Al Qur’an); serta Prof. Dr. H. Zurqoni, M.Ag (Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Muhammad Idris Samarinda).

Taufiq Bajeber: Masjid Harus Menghadirkan Kedamaian dan Kemakmuran

Dalam pemaparannya, KH Drs. Muhammad Taufiq Bajeber menekankan pentingnya mengembalikan masjid pada fungsi yang luas dan menyentuh kehidupan umat.

Menurutnya, setidaknya terdapat empat fungsi penting yang perlu dihadirkan melalui masjid. Pertama, masjid menjadi tempat untuk berislam dan membentuk akhlak mulia. Masjid tidak cukup hanya ramai oleh aktivitas ritual, tetapi juga harus mampu melahirkan pribadi-pribadi muslim yang baik akhlaknya.

Kedua, masjid menjadi tempat menyebarkan kedamaian. Kehadiran masjid semestinya menghadirkan suasana yang menenteramkan serta memperkuat persaudaraan di tengah masyarakat.

Ketiga, masjid memiliki peran untuk menyebarkan kemakmuran. Memakmurkan masjid dengan demikian harus berjalan beriringan dengan upaya masjid ikut memakmurkan jamaah dan lingkungan di sekitarnya.

Keempat, masjid merupakan ruang bersosialisasi dan membangun hubungan antarsesama. Masjid dapat menjadi titik perjumpaan umat, memperkuat silaturahmi dan membangun kepedulian sosial.

Gagasan tersebut menegaskan bahwa ukuran keberhasilan sebuah masjid bukan semata-mata terletak pada kemegahan bangunannya, melainkan juga pada seberapa besar keberadaannya memberikan manfaat kepada umat dan masyarakat.

Khusnaidi Ikhwani: Revolusi Takmir Harus Bergerak dari Wacana Menuju Aksi

Sementara itu, KH Ir. Khusnaidi Ikhwani, MM mengangkat gagasan “Revolusi Takmir Masjid”. Ia mengajak para pengelola masjid untuk mulai bergerak dari pemahaman dan gagasan menuju langkah konkret.

Menurutnya, umat saat ini mungkin tidak kekurangan ilmu. Banyak pihak telah memahami bahwa masjid bukan sekadar tempat menunaikan ibadah, tetapi juga dapat menjadi pusat ilmu, pelayanan, pemberdayaan, persaudaraan dan peradaban umat.

Persoalannya bukan lagi sebatas mengetahui apa yang harus dilakukan, melainkan menentukan dari mana perubahan itu harus dimulai.

Pertanyaan tersebut kemudian berkembang pada bagaimana menentukan prioritas, siapa yang mengambil langkah pertama, bagaimana mengubah gagasan menjadi aksi, serta bagaimana memastikan gerakan yang dibangun tidak berhenti sebagai program sesaat.

Inilah yang menjadi ruh revolusi takmir masjid. Perubahan tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Ia dapat berawal dari keberanian melakukan evaluasi, kesediaan untuk berbenah, satu keputusan nyata, serta sekelompok orang yang bersedia bergerak bersama.

Pesan penting dari gagasan tersebut adalah bahwa masjid tidak lagi membutuhkan terlalu banyak wacana mengenai perubahan. Yang lebih dibutuhkan adalah orang-orang yang bersedia memulai perubahan itu sendiri.

Perubahan tersebut harus terukur, kolaboratif, berkelanjutan dan berorientasi kepada kemaslahatan umat. Takmir juga tidak perlu menunggu semua keadaan menjadi sempurna untuk mulai bergerak. Hal terpenting adalah menentukan apa yang dapat mulai dikerjakan hari ini.

Semangat itu dirangkum dalam tiga pesan: berbenah untuk memakmurkan masjid, bergerak untuk menguatkan umat, dan bersama membangun peradaban.

Zurqoni: Masjid Masa Depan Harus Modern, Integratif dan Adaptif

Prof. Dr. H. Zurqoni, M.Ag dalam paparannya mengajak peserta melihat kembali perjalanan fungsi masjid dari masa Rasulullah SAW, kondisi masjid saat ini, hingga bagaimana masjid semestinya dikembangkan pada masa depan.

Pada masa Rasulullah SAW, masjid memiliki peran multidimensional. Selain menjadi pusat ibadah, masjid juga berfungsi dalam kehidupan sosial, interaksi masyarakat, perlindungan, pengelolaan berbagai urusan masyarakat, bahkan memiliki dimensi politik dalam konteks kehidupan umat ketika itu.

Perubahan sosial kemudian membuat fungsi tersebut mengalami penyempitan. Banyak masjid kini dipahami terutama sebagai tempat pelaksanaan ibadah mahdhah seperti salat, iktikaf dan zikir.

Padahal, umat Islam menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari menurunnya literasi keagamaan, melemahnya ikatan sosial, terbatasnya pembinaan generasi muda, hingga terkikisnya nilai-nilai budaya Islam akibat arus globalisasi.

Karena itu, menurut Zurqoni, idealnya masjid mampu menjadi institusi terdepan dalam menjawab kebutuhan masyarakat.

Untuk menuju masjid modern, paradigma pengelolaan masjid perlu bergeser dari sekadar memperhatikan arsitektur atau keindahan fisik menuju pusat pelayanan yang inklusif, ramah lingkungan, dan memberikan dampak nyata bagi umat.

Masjid masa depan juga harus bersifat integratif, yakni mampu mengintegrasikan kesalehan spiritual dengan kecakapan digital. Selain itu, masjid harus adaptif terhadap perkembangan zaman dan menghadirkan inovasi yang mampu menarik generasi muda sekaligus meningkatkan kesejahteraan umat.

Transformasi Fungsi dan Inovasi Masjid

Transformasi tersebut menuntut pergeseran fungsi masjid dari sekadar tempat salat dan kegiatan ritual menjadi pusat kajian, pusat pemberdayaan umat, pusat peradaban, pusat kegiatan, lembaga pendidikan, serta pusat inovasi dan layanan sosial.

Nilai-nilai keislaman juga perlu diintegrasikan dengan perkembangan sains dan teknologi modern. Pada saat yang sama, program keagamaan harus semakin inklusif, antara lain melalui kegiatan mentoring, kajian tematik dan pembinaan karakter religius.

Dalam konteks inovasi, Prof. Zurqoni memaparkan setidaknya empat bidang yang dapat dikembangkan masjid, yakni digitalisasi, sains dan teknologi modern, kreativitas, serta Eco-Masjid.

Digitalisasi dapat diterapkan pada pelayanan umat, dakwah dan sistem informasi manajemen berbasis aplikasi. Pemanfaatan platform digital dan media sosial seperti YouTube, Instagram, Facebook dan TikTok dapat menjadi sarana dakwah, sementara layanan keuangan digital dapat dimanfaatkan untuk mendukung infak, zakat dan wakaf.

Konsep Eco-Masjid diarahkan untuk menghadirkan masjid yang ramah lingkungan melalui efisiensi energi, pengelolaan air dan sampah, penggunaan energi surya, hingga daur ulang air wudu.

Masjid juga perlu menyesuaikan diri dengan gaya hidup generasi muda. Penyediaan akses internet, ruang diskusi terbuka atau co-working space, serta kegiatan yang dekat dengan minat generasi milenial dan Gen Z dapat menjadi bagian dari strategi menghadirkan generasi muda kembali ke masjid.

Masjid Bukan Hanya Dimakmurkan, tetapi Memakmurkan

Berbagai gagasan yang muncul dalam Sarasehan Nasional BPIC Kaltim tersebut bertemu pada satu benang merah: masjid masa depan tidak cukup hanya dimakmurkan oleh jamaah, tetapi harus mampu memakmurkan jamaah dan masyarakat di sekitarnya.

Transformasi itu membutuhkan perubahan cara pandang sekaligus keberanian para pengelola masjid untuk berinovasi. Kemegahan bangunan tetap penting, tetapi jauh lebih penting adalah kehidupan yang tumbuh di dalamnya serta manfaat yang dirasakan masyarakat di sekelilingnya.

Melalui sarasehan ini, BPIC Kaltim berharap masjid semakin mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya sebagai pusat ibadah. Masjid harus tetap menjadi tempat manusia mendekatkan diri kepada Allah SWT, sekaligus menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan, meningkatkan pengetahuan, memberdayakan ekonomi, membina generasi muda dan menghadirkan kedamaian di tengah kemajemukan Indonesia.

Semangat itulah yang hendak dibangun melalui Sarasehan Nasional: mengembalikan masjid sebagai pusat kehidupan umat, mentransformasikan pengelolaannya sesuai perkembangan zaman, dan menjadikannya salah satu pilar dalam membangun peradaban Indonesia yang maju, damai dan berkelanjutan.

By. Kominfo BPIC Kaltim.