Sekolah bukan tempat mencuci karakter anak.
Sebuah Renungan untuk Kita yang Sama-sama Mencintai Anak
Oleh: Djoko Iriandono, S.E., M.A. *)
Artikel ini lahir dari kegelisahan yang saya rasakan setelah bertahun-tahun berkecimpung di dunia pendidikan. Kegelisahan itu bukan semata-mata tentang menurunnya prestasi belajar anak, melainkan tentang cara pandang sebagian orang tua terhadap makna pendidikan itu sendiri. Masih ada yang beranggapan bahwa setelah anak diberi makan, dipakaikan seragam, dibayarkan uang sekolah, lalu diantar ke gerbang sekolah, maka seluruh tugas mendidik, mengajar, membimbing, dan membentuk karakter anak sepenuhnya menjadi tanggung jawab guru. Seolah-olah peran orang tua berhenti ketika pintu gerbang sekolah tertutup.
Padahal, kenyataan tidaklah sesederhana itu. Pendidikan bukanlah pekerjaan yang dapat diserahkan dari satu pihak kepada pihak lain seperti menitipkan barang untuk diperbaiki. Pendidikan adalah ikhtiar bersama yang hanya akan berhasil apabila keluarga dan sekolah berjalan seiring, saling menguatkan, dan saling melengkapi. Melalui tulisan ini, saya mengajak kita semua untuk merenungkan kembali hakikat pendidikan, sekaligus meluruskan anggapan bahwa sekolah adalah tempat yang bertugas "membereskan" semua persoalan anak. Sebab sesungguhnya, sekolah bukanlah laundry, melainkan mitra keluarga dalam membentuk generasi yang cerdas, berkarakter, dan berakhlak mulia.

Berikut ini adalah artikel selengkapnya. Selamat membaca!
Setiap pagi, jutaan anak Indonesia berangkat ke sekolah.
Diantar oleh ayahnya yang terburu-buru berangkat bekerja.
Dicium ibunya yang masih sibuk menyiapkan bekal.
Ada yang berjalan kaki, ada yang naik sepeda motor, ada pula yang diantar mobil.
Semua orang tua mempunyai harapan yang sama.
“Nak, belajarlah yang rajin.”
Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan harapan yang sangat besar.
Mereka berharap anaknya kelak menjadi dokter.
Menjadi insinyur.
Menjadi guru.
Menjadi pemimpin.
Atau sekadar menjadi manusia yang hidupnya lebih baik daripada orang tuanya.
Namun, di balik harapan itu, sering kali tanpa disadari muncul sebuah cara berpikir yang keliru.
Anak sudah diserahkan ke sekolah.
Uang sekolah sudah dibayar.
Seragam sudah dibelikan.
Buku sudah lengkap.
Lalu muncul keyakinan yang tidak pernah diucapkan, tetapi terasa dalam sikap.
“Sekarang giliran sekolah yang mendidik anak saya.”
Seolah-olah pendidikan dapat dipindahkan sepenuhnya dari rumah ke ruang kelas.
Suatu ketika seorang guru bercerita kepada saya.
Seorang murid berkali-kali berkata kasar kepada temannya.
Guru menegur dengan sabar.
Mengajak berdialog.
Memberikan pembinaan.
Namun beberapa hari kemudian perilaku itu terulang lagi.
Ketika orang tuanya dipanggil, jawaban yang keluar justru membuat guru itu terdiam.
“Bukankah itu tugas sekolah, Pak Guru? Kan anak saya lebih banyak di sekolah.”
Saya hanya bisa tersenyum getir mendengar kisah itu.
Benarkah demikian?
Mari kita berhitung sebentar.
Dalam satu hari ada dua puluh empat jam.
Di sekolah, seorang anak rata-rata berada sekitar tujuh jam.
Selebihnya?
Ia hidup bersama keluarganya.
Tidur di rumah.
Makan di rumah.
Bermain di lingkungan rumah.
Berbicara dengan orang tuanya.
Melihat bagaimana ayah memperlakukan ibu.
Menyaksikan bagaimana ibunya berbicara kepada tetangga.
Melihat bagaimana keluarganya menghadapi masalah.
Semua itu adalah pelajaran.
Pelajaran yang tidak pernah ditulis di papan tulis.
Pelajaran yang jauh lebih kuat daripada ribuan nasihat.
Karena anak belajar bukan hanya dari apa yang kita katakan.
Tetapi terutama dari apa yang kita lakukan.
Saya sering mengatakan bahwa guru itu mengajar dengan mulut.
Tetapi orang tua mendidik dengan kehidupan.
Guru bisa menjelaskan arti kejujuran selama empat puluh menit di dalam kelas.
Namun, jika malam harinya seorang anak mendengar ayahnya berkata,
"Nak, kalau ada yang menelepon, bilang saja Ayah tidak ada."
Maka satu kalimat sederhana itu dapat menghapus pelajaran empat puluh menit yang baru saja diterimanya di sekolah.
Anak belajar bahwa apa yang dilakukan orang dewasa ternyata lebih penting daripada apa yang diajarkan guru.
Hal yang sama sering kali terjadi pada saat proses penerimaan siswa baru. Demi memasukkan anak ke sekolah yang dianggap terbaik, ada orang tua yang rela menempuh jalan yang tidak semestinya—memanipulasi data, memberikan keterangan yang tidak sesuai dengan kenyataan, atau mencari berbagai celah agar aturan dapat dilanggar. Mungkin mereka menganggap itu sekadar ikhtiar demi masa depan anak. Namun, tanpa disadari, anak sedang menyaksikan sebuah pelajaran yang sangat mahal, yaitu: bahwa kejujuran bisa dikalahkan oleh kepentingan, dan aturan boleh disiasati jika hasilnya menguntungkan.
Barangkali dokumen itu memang berhasil membuka pintu sebuah sekolah. Akan tetapi, pada saat yang sama, ia juga berpotensi menutup pintu kejujuran di dalam hati seorang anak.
Yang rusak bukan sekadar sebuah proses administrasi, melainkan cara berpikirnya. Di dalam benaknya mulai tumbuh keyakinan bahwa kemenangan lebih penting daripada kejujuran, bahwa hasil lebih utama daripada proses, dan bahwa kecurangan adalah sesuatu yang wajar selama tidak ketahuan.
Padahal, pendidikan sejatinya bukan hanya mengantarkan anak masuk ke sekolah yang baik, melainkan membentuknya menjadi manusia yang baik.
Guru mengajarkan disiplin di sekolah.
Namun, jika setiap pagi orang tua justru datang terlambat mengantar anak tanpa merasa bersalah, anak kembali menerima pelajaran yang berbeda. Ia belajar bahwa disiplin cukup menjadi materi pelajaran di kelas, tetapi tidak harus menjadi kebiasaan dalam kehidupan.
Guru mengajarkan sopan santun.
Tetapi di rumah anak mendengar umpatan dan bentakan.
Guru mengajarkan membaca Al-Qur’an.
Namun di rumah Al-Qur’an berbulan-bulan tidak pernah dibuka.
Anak tidak pernah bingung.
Ia hanya meniru.
Yang lebih menarik lagi adalah cara kita menilai hasil pendidikan.
Ketika anak melakukan pelanggaran, kita segera mencari siapa yang harus disalahkan.
Guru BK dianggap kurang tegas.
Guru agama dianggap gagal.
Wali kelas dianggap kurang perhatian.
Sekolah dianggap tidak mampu mendidik.
Tetapi ketika anak memperoleh medali olimpiade…
Ketika menjadi juara kelas…
Ketika diterima di perguruan tinggi favorit…
Ketika sukses dalam kariernya…
Dengan bangga kita berkata,
“Itu anaknya siapa dulu?”
Kalimat itu terdengar lucu.
Tetapi sesungguhnya menyimpan sebuah ironi.
Prestasi diakui sebagai hasil didikan orang tua.
Kegagalan dianggap kesalahan sekolah.
Padahal keberhasilan seorang anak tidak pernah lahir dari satu tangan.
Ia lahir dari doa ibunya.
Dari kerja keras ayahnya.
Dari kesabaran guru-gurunya.
Dari lingkungan yang baik.
Dari perjuangan anak itu sendiri.
Tidak ada kemenangan yang dimiliki sendirian.
Dan tidak ada kegagalan yang pantas dilemparkan kepada orang lain.
Kadang-kadang saya menggunakan sebuah analogi yang sederhana.
Mudah-mudahan tidak menyinggung siapa pun.
Sebagian orang tua memperlakukan sekolah seperti laundry.
Pakaian kotor diantar.
Beberapa hari kemudian diambil kembali dalam keadaan bersih, harum, rapi, dan siap dipakai.
Pemilik pakaian cukup membayar.
Seluruh pekerjaan dilakukan oleh pihak laundry.
Bukankah cara pandang seperti ini mulai merasuki dunia pendidikan?
Anak datang dengan kebiasaan berkata kasar.
Sekolah diminta membuatnya santun.
Anak kecanduan gawai.
Sekolah diminta membuatnya rajin belajar.
Anak tidak pernah salat di rumah.
Sekolah diminta menjadikannya saleh.
Anak tidak pernah membaca buku.
Sekolah diminta membuatnya gemar membaca.
Betapa berat beban yang dipikul sekolah apabila rumah melepaskan tanggung jawabnya.
Padahal sekolah bukan laundry.
Guru bukan tukang cuci karakter.
Mereka adalah penanam benih.
Tetapi benih hanya akan tumbuh subur apabila tanahnya dipelihara oleh keluarga.
Sesungguhnya rumah adalah sekolah pertama.
Ayah adalah kepala sekolah pertamanya.
Ibu adalah guru pertamanya.
Ruang keluarga adalah kelas pertamanya.
Meja makan adalah laboratorium pertama tempat anak belajar menghargai orang lain.
Mushalla di rumah adalah tempat pertama anak mengenal Tuhannya.
Sekolah hanya melanjutkan apa yang telah dimulai oleh keluarga.
Kalau pondasinya kuat, sekolah akan sangat mudah membangun lantai-lantai berikutnya.
Tetapi jika pondasinya rapuh, sekolah harus bekerja berkali-kali lebih keras.
Karena itu, marilah kita berhenti saling menyalahkan.
Guru tidak mungkin menggantikan ayah.
Guru tidak mungkin menggantikan ibu.
Sebagaimana orang tua juga tidak mungkin menggantikan semua guru.
Kita bukan dua pihak yang sedang membuat perjanjian bisnis.
Orang tua bukan pelanggan.
Sekolah bukan perusahaan jasa.
Kita adalah dua sahabat yang sedang mengerjakan proyek terbesar dalam kehidupan.
Proyek itu bernama masa depan anak-anak kita.
Anak-anak tidak membutuhkan orang tua yang hanya mampu membayar uang sekolah.
Mereka membutuhkan ayah yang mau mendengar ceritanya.
Ibu yang bersedia memeluknya ketika ia gagal.
Guru yang sabar membimbingnya ketika ia salah.
Dan lingkungan yang terus mendoakannya agar menjadi manusia yang bermanfaat.
Kelak, ketika anak-anak kita telah dewasa, mereka mungkin tidak lagi mengingat berapa harga seragam yang pernah kita belikan.
Mereka mungkin lupa berapa mahal uang sekolah yang pernah kita bayarkan.
Tetapi mereka tidak akan pernah lupa siapa yang menemani mereka belajar.
Siapa yang mendengarkan keluh kesahnya.
Siapa yang mengajarkan kejujuran dengan contoh, bukan hanya kata-kata.
Siapa yang memeluknya ketika dunia terasa tidak ramah.
Pendidikan bukanlah soal siapa yang paling banyak berkorban.
Pendidikan adalah tentang siapa yang tetap setia berjalan bersama anak hingga mereka mampu berjalan sendiri.
Maka marilah kita bergandengan tangan.
Jangan menyerahkan seluruh beban kepada sekolah.
Jangan pula membiarkan orang tua berjuang sendirian.
Karena membesarkan seorang anak bukan pekerjaan satu orang.
Ia adalah pekerjaan sebuah keluarga, sebuah sekolah, dan sebuah masyarakat.
Dan izinkan saya menutup tulisan ini dengan satu kalimat yang sederhana.
Sekolah bukan laundry.
Sekolah adalah rumah kedua.
Sedangkan rumah pertama tetaplah keluarga.
Jika keduanya saling menguatkan, insya Allah kita tidak hanya akan melahirkan anak-anak yang cerdas, tetapi juga manusia-manusia yang berakhlak, berempati, dan mampu membawa cahaya bagi zamannya.
*) Kabid Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Yayasan Baitul Muttaqien Islamic Center Kaltim, Ketua Komite SMAN 3 Samarinda.