Detail Update

Detail Update

Tetaplah Berbuat Baik: Nasehat untuk Jiwa yang Tegar di Tengah Pro dan Kontra

Card image cap

Oleh: Djoko Iriandono*)

Di dunia ini, setiap langkah, kata, dan kebijakan seseorang tak akan pernah lepas dari sorotan. Apapun bentuknya—apakah itu ucapan yang lembut, tindakan yang mulia, atau kebijakan yang bijak—selalu akan ada dua kutub yang menyertainya: yang mendukung (pro) dan yang menolak (kontra). Ini adalah sunatullah, hukum alam yang tidak bisa dihindari. Bahkan kebenaran yang paling terang pun bisa tampak buram bagi mereka yang hatinya tertutup.

Maka kepada engkau yang sedang berbuat baik, yang hatinya diliputi niat tulus, yang langkahnya dibimbing oleh iman dan niat menggapai ridha Allah—janganlah engkau goyah hanya karena ucapan miring, cibiran, dan penolakan dari mereka yang tak memahami niatmu. Yakinlah, bahwa kebaikan itu akan selalu memiliki sahabat yang tidak terlihat: malaikat yang mencatat, dan Allah yang Maha Mengetahui.

Kebaikan Tidak Selalu Diterima Dunia

Ada saatnya, engkau berdiri dengan teguh memperjuangkan kejujuran di tengah sistem yang korup. Ada masanya, engkau menawarkan kasih sayang di lingkungan yang terbiasa membalas dengan kebencian. Ada kalanya, engkau memilih jujur walau semua orang terbiasa berdusta. Dan di saat seperti itu, mungkin engkau merasa sendiri, dianggap aneh, bahkan dicibir.

Namun ingatlah, bahkan para nabi dan rasul—manusia-manusia terbaik pilihan Allah—pun mengalami hal serupa. Nabi Nuh diejek sebagai orang gila karena membangun kapal di atas daratan. Nabi Ibrahim dilempar ke dalam api karena menolak menyembah berhala. Nabi Muhammad ﷺ disebut tukang sihir, pendusta, bahkan gila—padahal ia adalah pribadi paling jujur dan lembut akhlaknya. Jika para nabi pun mengalami penolakan saat membawa kebaikan dan kebenaran, maka wajar jika manusia biasa seperti kita juga mengalaminya.

Malaikat dan Setan Akan Selalu Ada

Setiap tindakan akan memancing reaksi. Jika engkau berbuat baik, maka yakinlah: minimal malaikat akan mencatatnya sebagai amal, dan setan akan membencinya. Begitulah hakikat ujian kebaikan: selalu ada pihak yang tidak suka, bukan karena kebaikanmu salah, tapi karena kebaikan itu mengganggu agenda keburukan yang telah lama mapan.

Ketika engkau mencegah korupsi, pasti ada yang marah, karena merasa aliran "rezekinya" terancam. Ketika engkau menegakkan adab dan akhlak, pasti ada yang mencemooh, karena terbiasa dengan kebebasan tanpa batas. Ketika engkau mengajak pada dakwah dan kebenaran, pasti ada yang mencibir, karena mereka lebih nyaman hidup dalam kelalaian. Maka jangan heran jika kebaikanmu ditentang. Jangan sedih jika usahamu diremehkan. Kebaikan bukan dinilai dari berapa banyak yang menyukainya, tapi dari siapa yang menilainya: Allah.

Jangan Berhenti Hanya Karena Mereka Tak Mengerti

Salah satu bisikan setan yang paling halus adalah membuat orang baik merasa lelah dan kecewa. Setan tahu, jika orang-orang baik berhenti berbuat karena cibiran dan kritik, maka dunia akan semakin kosong dari cahaya. Maka waspadalah. Jika hatimu mulai berkata, "Buat apa aku berbuat baik? Tidak dihargai juga."—ketahuilah, itu adalah bisikan jahat yang harus dilawan.

Kebaikanmu tak harus dilihat manusia. Tidak perlu selalu mendapat pujian. Apalah artinya popularitas jika kehilangan keberkahan? Apalah artinya sanjungan jika niatmu mulai bergeser? Tetaplah lurus. Jika niatmu karena Allah, maka cukup Allah yang menilai. Bahkan sekecil apapun kebaikan, Allah tak akan membiarkannya sia-sia.

"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasannya)." (QS. Az-Zalzalah: 7)

Kebaikan adalah Jalan yang Terjal, Tapi Terang

Menjadi orang baik di dunia yang semakin gaduh ini bukanlah perkara mudah. Tapi ia adalah jalan yang penuh kemuliaan. Jalan yang dilalui dengan penuh kesabaran, tekad, dan keteguhan. Kadang engkau harus menahan luka karena fitnah, menahan marah karena disalahpahami, menahan air mata karena kebaikan dibalas kejahatan.

Namun di situlah pahalanya. Di situlah kemuliaannya. Di situlah keberanianmu diuji. Karena siapa saja bisa menjadi baik saat semua mendukung. Tapi hanya yang berjiwa kuat yang tetap istiqamah walau diterpa badai celaan.

Biarlah Mereka Bicara, Engkau Tetap Melangkah

Jika engkau menanam, jangan berharap semua orang akan ikut menyiram. Ada yang akan mencemooh, ada yang menertawakan, ada pula yang diam saja. Tapi jangan biarkan tanganmu berhenti. Teruslah menanam, karena pada waktunya, akan datang panen yang tak terduga.

Jika engkau menolong, jangan berharap semua akan membalas. Ada yang akan menuduhmu pencitraan, ada yang menyangka engkau punya motif tersembunyi. Tapi jangan biarkan niatmu ternoda. Teruslah menolong, karena kebaikan yang tulus akan membuahkan keberkahan, meski tak disyukuri oleh manusia.

Jika engkau berkata benar, jangan heran jika banyak telinga yang menolak mendengar. Tapi tetaplah berkata benar, karena suara kebenaran tak akan pernah sia-sia.

Bersabarlah dan Berdoalah

Bersabarlah, wahai jiwa-jiwa yang ingin menjaga nurani. Dunia ini tempat ujian. Jangan berharap semua akan mudah. Tapi yakinlah, Allah tidak pernah tidur. Dia Maha Melihat. Dia tahu kapan engkau menangis karena terzalimi. Dia tahu kapan engkau terjatuh karena difitnah. Dia tahu kapan engkau bangkit lagi dengan keyakinan baru.

Berdoalah. Mintalah kepada-Nya agar engkau diberi kekuatan untuk tetap istiqamah. Jangan minta agar dunia memuji, tapi mintalah agar hati ini tetap teguh dalam jalan kebaikan.

"Ya Allah, tunjukkan aku kebenaran sebagai kebenaran, dan beri aku kekuatan untuk mengikutinya. Dan tunjukkan aku kebatilan sebagai kebatilan, dan beri aku kekuatan untuk menjauhinya."

Penutup: Tetaplah Menjadi Orang Baik

Akhirnya, jangan pernah berhenti berbuat baik hanya karena dunia tidak berterima kasih. Jangan berhenti jujur hanya karena semua orang memilih jalan pintas. Jangan berhenti ikhlas hanya karena orang salah paham.

Ingatlah, setiap ucapan baik, sikap adil, keputusan jujur, dan tindakan ikhlas akan menjadi saksi di hadapan Allah. Dan Dia—Zat yang Maha Mengetahui lagi Maha Adil—tidak akan pernah menyia-nyiakan satu huruf pun dari kebaikanmu.

Engkau mungkin bukan siapa-siapa di mata manusia, tapi bisa jadi engkau sangat istimewa di langit. Maka tetaplah berbuat baik, meski engkau merasa sendiri. Karena sesungguhnya engkau tidak pernah sendiri. Malaikat mencatat. Allah melihat. Surga menantimu.

“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Bekerjalah! Maka, Allah, rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu. Kamu akan dikembalikan kepada (Zat) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Lalu, Dia akan memberitakan kepada kamu apa yang selama ini kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah: 105)

Semoga Allah meneguhkan langkah kita di jalan kebaikan, hingga akhir hayat. Aamiin.

*) Kasi Kominfo BPIC Kaltim