Detail Update

Detail Update

HIDUP YANG PENUH KEBERKAHAN

Card image cap Jangan pernah berhenti memohon kepada Allah SWT agar senantiasa dianugerahi kehidupan yang penuh keberkahan.

HIDUP YANG PENUH KEBERKAHAN

Bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat kita berikan

Oleh: Dr. Ir. H. Irianto Lambrie, M.M

Ketua Umum BPIC Kaltim

 

Ada kalanya manusia merasa bahwa kebahagiaan akan datang setelah memiliki lebih banyak: harta yang lebih banyak, jabatan yang lebih tinggi, rumah yang lebih besar, atau kehidupan yang lebih mapan.

Kita bekerja keras untuk mencapainya. Waktu dan tenaga dicurahkan. Berbagai kesempatan dikejar. Namun, setelah sebagian keinginan terpenuhi, sering kali muncul keinginan berikutnya.

Akibatnya, hidup terasa seperti perjalanan yang tidak pernah selesai.

Padahal, boleh jadi yang kita cari bukanlah kehidupan yang lebih banyak, melainkan kehidupan yang lebih berkah.

Keberkahan tidak selalu ditandai oleh kelimpahan. Keberkahan adalah ketika sesuatu yang kita miliki menghadirkan kebaikan, ketenangan, manfaat, dan rasa cukup.

Rumah yang sederhana dapat menjadi tempat yang penuh keberkahan apabila di dalamnya terdapat kasih sayang dan ketenteraman. Rezeki yang tidak berlebihan dapat menjadi rezeki yang berkah apabila diperoleh dengan cara yang halal, mencukupi kebutuhan, dan masih dapat dibagikan kepada orang lain.

Demikian pula dengan umur. Panjang usia adalah nikmat, tetapi usia yang digunakan untuk kebaikan jauh lebih bernilai.

Jangan Sampai Kita Lupa Bersyukur

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering lebih mudah melihat apa yang belum dimiliki daripada mensyukuri apa yang telah diterima.

Kita melihat keberhasilan orang lain, kemudian membandingkannya dengan kehidupan sendiri. Kita melihat rumah yang lebih besar, kendaraan yang lebih baik, jabatan yang lebih tinggi, atau kehidupan yang tampak lebih nyaman.

Padahal, apa yang terlihat belum tentu menggambarkan seluruh kenyataan.

Kita tidak pernah mengetahui sepenuhnya perjuangan, persoalan, dan beban yang dihadapi orang lain.

Karena itu, salah satu kunci kehidupan yang berkah adalah belajar menghargai apa yang telah Allah berikan.

Kesehatan yang masih kita miliki adalah nikmat.

Keluarga yang masih bersama kita adalah nikmat.

Kesempatan untuk bekerja dan berkarya adalah nikmat.

Kemampuan untuk beribadah dan memperbaiki diri adalah nikmat.

Bahkan kesempatan untuk meminta maaf atas kesalahan masa lalu merupakan nikmat yang tidak ternilai.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”
QS. Ibrahim: 7

Syukur bukan berarti berhenti berusaha. Syukur justru memberikan kekuatan untuk terus berikhtiar tanpa kehilangan ketenangan hati.

Keberkahan Dimulai dari Niat

Setiap pekerjaan yang kita lakukan memiliki nilai yang berbeda, bergantung pada niat yang menyertainya.

Bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga merupakan bentuk tanggung jawab. Mengajar dengan sungguh-sungguh merupakan bentuk pengabdian. Membantu orang lain merupakan wujud kepedulian. Mengelola amanah dengan jujur merupakan bagian dari ibadah.

Karena itu, sebelum bertanya seberapa besar hasil yang akan diperoleh, ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri:

Untuk apa semua ini saya lakukan?

Niat yang baik akan memberikan arah kepada setiap aktivitas. Pekerjaan yang sederhana dapat memiliki nilai yang besar ketika dilakukan dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab.

Sebaliknya, pekerjaan yang tampak besar dapat kehilangan maknanya apabila hanya didorong oleh kepentingan pribadi dan keinginan memperoleh pengakuan.

Keberkahan, dengan demikian, tidak hanya ditentukan oleh apa yang kita kerjakan, tetapi juga oleh bagaimana dan untuk apa kita melakukannya.

Waktu yang Berkah

Setiap manusia memiliki waktu yang sama: 24 jam dalam sehari.

Namun, hasil yang diperoleh setiap orang berbeda. Ada yang dalam waktu terbatas mampu menghasilkan banyak kebaikan. Ada pula yang memiliki banyak kesempatan, tetapi waktunya berlalu tanpa manfaat yang berarti.

Karena itu, yang perlu kita mohon bukan hanya umur yang panjang, tetapi umur yang berkah.

Umur yang berkah adalah umur yang diisi dengan ilmu, ibadah, pengabdian, pekerjaan yang bermanfaat, serta perhatian kepada keluarga dan lingkungan.

Semakin bertambah usia, semestinya semakin banyak pula manfaat yang dapat kita berikan.

Kita tidak harus selalu melakukan sesuatu yang besar. Mengajarkan ilmu, memberikan nasihat yang baik, membantu orang yang membutuhkan, menjaga hubungan silaturahmi, atau sekadar memberikan perhatian kepada seseorang yang sedang menghadapi kesulitan, semuanya merupakan bagian dari kebaikan.

Sebab nilai kehidupan pada akhirnya bukan hanya diukur dari lamanya seseorang hidup, tetapi dari seberapa besar manfaat yang ditinggalkannya.

Rezeki yang Berkah

Manusia tentu membutuhkan rezeki yang cukup untuk menjalani kehidupan. Karena itu, bekerja dan berusaha merupakan bagian penting dari kehidupan.

Namun, dalam mencari rezeki, jangan sampai kita hanya mengejar jumlah dan melupakan keberkahan.

Rezeki yang berkah adalah rezeki yang diperoleh melalui jalan yang benar, digunakan secara bertanggung jawab, mencukupi kebutuhan, serta memberikan manfaat bagi orang lain.

Tidak ada gunanya memperoleh banyak harta jika hati selalu gelisah.

Tidak banyak artinya memiliki kekayaan apabila keluarga kehilangan perhatian.

Tidak berarti sebuah keberhasilan jika dalam proses mencapainya kita harus mengorbankan kejujuran dan kehormatan.

Karena itu, kita perlu membiasakan diri untuk tidak hanya berdoa agar rezeki diperluas, tetapi juga agar rezeki tersebut diberkahi dan menjadi sumber kebaikan.

Berbagi Memperluas Makna Kehidupan

Salah satu bentuk keberkahan adalah ketika apa yang kita miliki dapat dirasakan manfaatnya oleh orang lain.

Berbagi tidak selalu harus dalam jumlah besar. Sedekah yang sederhana, bantuan kepada tetangga, memberikan waktu untuk mendengarkan orang lain, atau membantu seseorang menyelesaikan persoalannya, semuanya memiliki nilai.

Ada kebahagiaan tertentu yang hanya dapat dirasakan ketika kita mampu memberikan sesuatu kepada orang lain.

Semakin bertambah usia, semestinya semakin kita memahami bahwa kehidupan bukan hanya tentang apa yang dapat kita peroleh, tetapi juga tentang apa yang dapat kita berikan.

Belajar Tawakal

Tidak semua yang kita rencanakan akan berjalan sesuai dengan harapan.

Ada usaha yang berhasil dan ada yang belum berhasil. Ada doa yang segera mendapatkan jawaban dan ada yang membutuhkan waktu panjang.

Dalam keadaan seperti itu, kita perlu memahami makna tawakal.

Tawakal bukan berarti menyerah tanpa usaha. Tawakal adalah melakukan ikhtiar dengan sungguh-sungguh, kemudian menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT.

Kita memiliki kewajiban untuk berusaha, tetapi tidak memiliki kuasa untuk menentukan seluruh hasil.

Karena itu, ketika usaha telah dilakukan secara maksimal, hati perlu belajar menerima ketetapan Allah dengan sabar dan lapang.

Boleh jadi sesuatu yang kita anggap sebagai kegagalan justru menjadi jalan menuju kebaikan yang belum kita pahami.

Pada Akhirnya, Apa yang Akan Kita Tinggalkan?

Semakin bertambah usia, kita semakin menyadari bahwa tidak ada sesuatu pun yang benar-benar kita miliki.

Harta akan ditinggalkan.

Jabatan akan berakhir.

Kekuasaan akan berganti.

Rumah dan kendaraan akan berpindah tangan.

Bahkan nama kita pun suatu saat akan dilupakan.

Namun, kebaikan dapat meninggalkan jejak yang lebih panjang.

Ilmu yang pernah kita ajarkan dapat terus diamalkan.

Anak-anak yang kita didik dapat meneruskan nilai-nilai kebaikan.

Orang yang pernah kita bantu mungkin akan mengingatnya sepanjang hidup.

Dan amal yang dilakukan dengan ikhlas dapat menjadi bekal ketika kita tidak lagi memiliki kesempatan untuk berbuat.

Karena itu, jangan hanya berusaha membuat kehidupan kita lebih berhasil. Berusahalah membuat kehidupan kita lebih bermakna.

Jangan hanya mengejar kehidupan yang lebih panjang. Upayakan agar kehidupan yang kita jalani menjadi kehidupan yang lebih bermanfaat.

Pada akhirnya, hidup yang penuh keberkahan bukanlah hidup tanpa masalah. Keberkahan adalah ketika dalam setiap persoalan kita masih mampu menemukan kesabaran, dalam setiap nikmat kita mampu menemukan rasa syukur, dan dalam setiap kesempatan kita mampu menemukan jalan untuk berbuat baik.

Semoga Allah SWT memberikan keberkahan kepada usia kita, kesehatan kita, keluarga kita, pekerjaan kita, rezeki kita, ilmu kita, serta seluruh amanah yang kita jalankan.

Semoga semakin bertambah usia, semakin bertambah pula manfaat yang dapat kita berikan.

Dan ketika suatu saat kita menoleh kembali pada perjalanan hidup yang telah dilalui, kita dapat berkata dengan penuh rasa syukur:

“Alhamdulillah, kehidupan yang Allah titipkan kepada saya telah saya gunakan sebaik-baiknya untuk berbuat dan memberikan manfaat.”

Semoga demikian.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

TAGS