Jadilah guru yang pandai mendengarkan bukan hanya yang pandai berbicara.
Ketika Guru Belajar Berbicara dan Mendengarkan
Oleh: Djoko Iriandono, S.E. M.A.*)
Ada kalanya kita merasa sudah menjelaskan sesuatu dengan sangat baik.
Kita sudah menerangkan pelajaran dari awal sampai akhir. Sudah menggunakan papan tulis. Sudah memberikan contoh. Bahkan mungkin sudah mengulang penjelasan dua atau tiga kali.
Tetapi ketika kita bertanya, “Sudah paham?”
Kelas mendadak sunyi.
Tidak ada yang menjawab.
Lalu kita mulai berpikir, “Apa yang salah? Bukankah tadi sudah saya jelaskan?”
Barangkali yang kurang bukan pengetahuan kita. Bisa jadi, cara kita berkomunikasilah yang perlu diperbaiki.
Menjadi guru ternyata bukan hanya tentang seberapa banyak yang kita ketahui. Bukan pula tentang seberapa tinggi pendidikan kita atau seberapa banyak buku yang sudah kita baca.
Ada satu kemampuan sederhana yang sering kita lupakan: berbicara dan mendengarkan.
Sebab ilmu yang hebat pun bisa kehilangan makna ketika disampaikan dengan cara yang tidak sampai ke hati.
Dan sebaliknya, kalimat yang sederhana kadang justru mampu mengubah seseorang.
Saya kira, hampir setiap guru pernah mengalami ini.
Ada seorang siswa yang selama berbulan-bulan terlihat biasa saja. Nilainya tidak istimewa. Tidak banyak bertanya. Bahkan cenderung diam di kelas.
Suatu hari, setelah pelajaran selesai, guru berkata kepadanya,
“Kalau belum mengerti, tidak apa-apa. Bapak/Ibu akan menjelaskan lagi. Jangan takut bertanya.”
Hanya satu kalimat.
Tetapi mungkin bagi siswa itu, kalimat tersebut berarti: “Ternyata ada guru yang mau memahami saya.”
Dari situlah kadang perubahan dimulai.
Guru tidak selalu harus banyak bicara
Kita sering mengira guru yang pandai berkomunikasi adalah guru yang pandai berbicara.
Padahal tidak selalu demikian.
Guru yang baik justru tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam untuk mendengarkan.
Di kelas, kita memang diberi kesempatan untuk berbicara lebih banyak daripada siswa. Tetapi bukan berarti suara guru harus memenuhi seluruh ruang kelas.
Ada waktunya kita menjelaskan.
Ada waktunya kita bertanya.
Dan ada waktunya kita diam, lalu membiarkan anak-anak berbicara.
Sebab ketika seorang siswa mengangkat tangan dan berkata, “Pak, saya sebenarnya tidak mengerti dari tadi...”
Jangan buru-buru menjawab.
Dengarkan.
Mungkin di balik kalimat sederhana itu ada keberanian yang sedang tumbuh.
Mungkin selama ini ia takut dianggap bodoh.
Mungkin ia pernah ditertawakan ketika bertanya.
Mungkin ia memang membutuhkan penjelasan dengan cara yang berbeda.
Anak-anak tidak selalu membutuhkan guru yang punya semua jawaban. Kadang-kadang mereka hanya membutuhkan guru yang bersedia mendengarkan pertanyaan mereka sampai selesai.
Menjelaskan yang sulit dengan bahasa yang sederhana
Ada satu ukuran sederhana untuk melihat apakah seorang guru benar-benar memahami materi yang diajarkannya.
Bukan seberapa banyak istilah sulit yang bisa ia gunakan.
Tetapi seberapa sederhana ia mampu menjelaskan sesuatu yang sulit.
Kita tentu pernah bertemu orang yang sangat pintar. Ketika berbicara, istilahnya macam-macam. Kalimatnya panjang. Tetapi setelah ia selesai bicara, kita justru semakin bingung.
Jangan sampai kita menjadi guru seperti itu.
Anak-anak tidak datang ke sekolah untuk mengagumi betapa pintarnya gurunya.
Mereka datang untuk belajar.
Karena itu, jangan malu menggunakan bahasa sederhana. Jangan takut mengulang penjelasan. Jangan merasa harga diri kita turun hanya karena harus menjelaskan sesuatu dengan cara yang sangat sederhana.
Justru di situlah letak kepiawaian seorang guru.
Guru yang hebat bukan yang membuat murid berkata, “Wah, gurunya pintar sekali.”
Tetapi yang membuat murid berkata,
“Oh... ternyata begini maksudnya. Sekarang saya mengerti.”
Kalimat sederhana itu mungkin jauh lebih membahagiakan bagi seorang guru.
Ada saatnya kita menegur, tetapi jangan melukai
Menjadi guru juga berarti harus berani menegur.
Tidak semua perilaku siswa boleh dibiarkan. Ada saatnya kita harus mengatakan bahwa sesuatu itu salah.
Tetapi menegur tidak harus dengan suara keras.
Mendidik tidak harus dengan mempermalukan.
Kita mungkin pernah marah kepada seorang siswa karena ia tidak mengerjakan tugas. Kita mungkin pernah kecewa karena ia berulang kali melakukan kesalahan yang sama.
Dan ketika emosi sedang tinggi, kata-kata sering keluar lebih cepat daripada pikiran.
“Memang kamu tidak pernah bisa diandalkan.”
“Dasar malas.”
“Kalau begini terus, mau jadi apa kamu?”
Kita mungkin mengucapkannya hanya beberapa detik.
Setelah itu kita lupa.
Tetapi anak itu mungkin mengingatnya bertahun-tahun.
Inilah yang kadang tidak kita sadari sebagai guru.
Bagi kita, sebuah kalimat mungkin hanya kalimat. Bagi seorang anak, kalimat itu bisa menjadi suara yang terus tinggal di kepalanya.
Karena itu, ketika harus menegur, tegurlah perilakunya. Jangan menghancurkan harga dirinya.
Katakan,
“Kamu bisa lebih baik dari ini.”
Bukan,
“Kamu memang tidak bisa apa-apa.”
Keduanya sama-sama teguran.
Tetapi yang pertama masih menyisakan harapan.
Dan bukankah pendidikan memang seharusnya memberikan harapan?
Orang tua bukan lawan kita
Komunikasi guru tidak berhenti di pintu kelas.
Ada orang tua yang harus kita ajak berbicara.
Kadang-kadang kita bertemu orang tua ketika anaknya bermasalah. Nilainya turun. Sering terlambat. Tidak mengerjakan tugas. Atau melakukan sesuatu yang membuat sekolah harus turun tangan.
Dalam situasi seperti itu, mudah bagi kita untuk mencari siapa yang salah.
Guru merasa orang tua kurang memperhatikan.
Orang tua merasa sekolah terlalu keras.
Akhirnya masing-masing sibuk mempertahankan diri.
Padahal ada satu hal yang seharusnya kita ingat:
Guru dan orang tua berada di pihak yang sama.
Kita sama-sama ingin anak itu tumbuh menjadi manusia yang baik.
Karena itu, jangan hanya menghubungi orang tua ketika ada masalah.
Sesekali kirimkan pesan sederhana:
“Bu, hari ini anak Ibu tampil bagus sekali di kelas.”
Atau,
“Pak, saya melihat ada perkembangan positif pada anak Bapak minggu ini.”
Tidak perlu panjang.
Orang tua akan merasa bahwa anak mereka benar-benar diperhatikan.
Dan ketika suatu hari kita harus menyampaikan masalah, hubungan yang sudah terbangun akan membuat pembicaraan menjadi jauh lebih mudah.
Kita tidak datang sebagai orang yang menghakimi.
Kita datang sebagai orang yang ingin membantu.
“Bapak/Ibu, mari kita cari jalan keluarnya bersama. Anak kita membutuhkan dukungan dari kita semua.”
Kalimat seperti itu terasa jauh berbeda dibandingkan,
“Anak Bapak memang bermasalah.”
Bahasanya berbeda.
Dampaknya pun berbeda.
Dengan sesama guru, kita juga perlu belajar menjaga kata-kata
Ada satu hal yang sering terlupakan dalam pembicaraan tentang komunikasi guru: cara kita berbicara dengan sesama guru.
Padahal anak-anak melihat semuanya.
Mereka melihat bagaimana guru berbicara dengan guru lain.
Mereka melihat bagaimana kita menyikapi perbedaan pendapat.
Mereka mendengar ketika kita membicarakan kekurangan teman di ruang guru.
Dan tanpa kita sadari, mereka belajar dari semua itu.
Kalau kita ingin anak-anak belajar menghargai orang lain, bukankah kita juga harus memberi contoh?
Tidak apa-apa berbeda pendapat.
Tidak apa-apa tidak setuju.
Yang penting, jangan menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling menjatuhkan.
Kalau ada masalah dengan seorang teman, bicarakan kepada orangnya. Jangan membicarakannya kepada banyak orang.
Sebab sering kali masalah kecil menjadi besar bukan karena persoalannya, tetapi karena terlalu banyak mulut yang ikut membicarakannya.
Sekolah seharusnya menjadi tempat orang-orang dewasa memberikan contoh tentang bagaimana perbedaan dikelola dengan dewasa.
Sebelum berbicara, berhentilah sebentar
Mungkin ini salah satu latihan komunikasi yang paling sulit bagi seorang guru.
Berhenti sebentar sebelum berbicara.
Terutama ketika sedang marah.
Kita tidak harus menjawab semua hal saat itu juga.
Tidak semua kesalahan siswa harus langsung dibalas dengan kemarahan.
Tidak semua perbedaan pendapat harus segera dimenangkan.
Kadang-kadang kita hanya perlu menarik napas.
Diam beberapa detik.
Lalu bertanya kepada diri sendiri:
“Kalau kalimat ini keluar dari mulut saya, apakah anak ini akan menjadi lebih baik atau justru semakin terluka?”
Pertanyaan sederhana itu mungkin bisa menyelamatkan kita dari banyak penyesalan.
Sebab kata-kata yang sudah keluar tidak bisa dipanggil kembali.
Kita bisa meminta maaf.
Tetapi bekasnya mungkin tetap ada.
Guru juga masih harus belajar
Setelah puluhan tahun menjadi guru, mungkin kita merasa sudah cukup memahami anak-anak.
Padahal setiap generasi datang dengan dunia yang berbeda.
Anak-anak hari ini tumbuh bersama telepon genggam, media sosial, video pendek, dan berbagai macam informasi yang tidak pernah kita temui ketika kita masih sekolah.
Karena itu, guru juga harus terus belajar.
Belajar memahami bahasa mereka.
Belajar mendengarkan.
Belajar menerima kritik.
Bahkan sesekali bertanya kepada siswa,
“Menurut kalian, cara Bapak/Ibu menjelaskan tadi sudah jelas belum?”
Pertanyaan itu tidak akan membuat kita terlihat bodoh.
Justru menunjukkan bahwa kita masih mau belajar.
Sebab pada akhirnya, guru juga manusia.
Kita bisa salah bicara.
Kita bisa salah memahami.
Kita bisa terlalu cepat marah.
Kita bisa merasa sudah menjelaskan dengan baik, padahal anak-anak belum mengerti.
Dan itu bukan sesuatu yang harus membuat kita malu.
Yang penting adalah kesediaan untuk memperbaiki diri.
Karena yang diingat anak sering kali bukan pelajarannya
Bertahun-tahun setelah meninggalkan sekolah, mungkin seorang siswa sudah lupa rumus matematika yang pernah kita ajarkan.
Ia mungkin lupa tanggal-tanggal sejarah yang pernah kita tuliskan di papan tulis.
Ia mungkin bahkan lupa judul buku yang pernah kita minta dibaca.
Tetapi ia bisa jadi masih ingat seorang guru yang pernah berkata,
“Kamu pasti bisa.”
Ia mungkin masih ingat ketika kita menepuk pundaknya saat ia sedang sedih.
Ia mungkin masih ingat ketika kita bersedia mendengarkan ceritanya.
Ia mungkin masih ingat bahwa pernah ada seorang guru yang percaya kepadanya ketika ia sendiri belum percaya kepada dirinya.
Barangkali itulah kekuatan komunikasi seorang guru.
Bukan sekadar membuat anak memahami pelajaran.
Tetapi membuat mereka merasa dihargai, dipercaya, dan dianggap penting.
Pada akhirnya, guru tidak hanya mengajar melalui apa yang dikatakannya.
Guru juga mengajar melalui cara ia berbicara.
Melalui cara ia mendengarkan.
Melalui cara ia menegur.
Melalui cara ia menghargai orang lain.
Dan melalui cara ia memperlakukan anak-anak yang dipercayakan kepadanya.
Maka, sebelum masuk kelas pagi ini, mungkin ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri:
“Hari ini, kata-kata seperti apa yang ingin saya tinggalkan di hati anak-anak?”
Sebab mungkin saja, dari sekian banyak pelajaran yang kita sampaikan sepanjang hidup, ada satu kalimat sederhana dari kita yang kelak mereka ingat sampai tua.
Dan semoga kalimat itu bukan kalimat yang melukai.
Semoga ia menjadi kalimat yang menguatkan.
Semoga ia menjadi kalimat yang membuat seorang anak percaya bahwa dirinya berharga.
Karena menjadi guru bukan hanya tentang mengisi kepala anak dengan pengetahuan.
*) Kabid Peningkatan Mutu Guru Yayasan Baitul Muttaqien Islamic Center Kaltim.