Hati-hati dengan mulutmu. Pilihlah narasi yang bijak ketika marah.
Oleh: Djoko Iriandono*)
Ada satu hal yang sering kita lupakan ketika sedang marah kepada anak, yaitu: kata-kata kita tidak selalu berhenti sebagai kata-kata.
Bisa jadi, kalimat yang keluar hanya dalam beberapa detik, justru tinggal di dalam hati anak selama bertahun-tahun.
“Dasar bodoh!”
“Begitu saja tidak bisa!”
“Kamu memang anak nakal!”
“Bandel sekali kamu!”
“Kapan kamu bisa jadi anak yang benar?”
“Tidak akan jadi apa-apa kamu kalau begini terus!”
Pernahkah kita mengucapkan kalimat-kalimat seperti itu?
Mungkin pernah.
Bahkan mungkin kita mengucapkannya tanpa benar-benar bermaksud demikian. Kita hanya sedang lelah. Sedang kecewa. Sedang menghadapi masalah. Sedang banyak pikiran. Lalu anak melakukan sesuatu yang membuat emosi kita meledak.
Kita marah.
Mulut pun berbicara lebih cepat daripada pikiran.
Setelah suasana reda, kita mungkin lupa.
Tetapi anak belum tentu lupa.
Anak-anak adalah manusia yang sedang belajar mengenal dirinya.
Mereka belajar siapa dirinya dari apa yang dikatakan orang-orang terdekatnya.
Ketika seorang anak berkali-kali mendengar, “Kamu bodoh,” lama-lama ia bisa mulai mempercayainya.
Ketika seorang anak terus-menerus disebut “nakal”, ia bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya memang anak nakal.
Ketika seorang anak selalu dibandingkan dengan saudaranya, ia bisa mulai merasa bahwa dirinya tidak pernah cukup baik.
Padahal mungkin yang salah hanya perilakunya.
Bukan dirinya.
Anak yang menumpahkan air bukan berarti anak ceroboh.
Anak yang mendapat nilai rendah bukan berarti anak bodoh.
Anak yang sulit diatur bukan berarti anak nakal.
Anak yang melakukan kesalahan bukan berarti anak gagal.
Perilakunya yang perlu diperbaiki, bukan harga dirinya yang harus dihancurkan.
Inilah yang sering kita lupakan.
Orang tua tentu boleh marah.
Guru juga boleh kecewa.
Kita semua manusia.
Tidak mungkin setiap saat kita bisa tenang, sabar dan sempurna.
Tetapi ada perbedaan besar antara memarahi perilaku anak dan menghina pribadi anak.
“Bapak tidak suka kamu melakukan itu.”
Berbeda dengan:
“Dasar kamu anak nakal!”
“Nilaimu kali ini rendah. Mari kita cari tahu apa yang membuatmu kesulitan.”
Berbeda dengan:
“Memang kamu bodoh!”
“Kamu salah. Perbaiki.”
Berbeda dengan:
“Kamu memang tidak pernah bisa melakukan sesuatu dengan benar.”
Kalimat pertama mungkin membuat anak merasa tidak nyaman sesaat.
Tetapi kalimat kedua bisa meninggalkan luka yang jauh lebih panjang.
Wahai para orang tua…
Ketika sedang marah, jagalah lisan kita.
Jangan sampai karena kesalahan kecil yang dilakukan anak, kita menjatuhkan harga dirinya.
Jangan sampai karena nilai rapornya kurang bagus, kita membuatnya merasa tidak berguna.
Jangan sampai karena ia melakukan kesalahan, kita mengucapkan sesuatu yang justru menjadi beban hidupnya.
Sebab kita tidak pernah tahu, kalimat mana yang akan terus diingatnya sampai dewasa.
Bisa jadi kita sudah lupa.
Tetapi ia masih mengingatnya.
Bertahun-tahun kemudian.
Wahai para guru…
Hal yang sama juga berlaku di sekolah.
Anak-anak yang berada di hadapan Anda bukan sekadar murid.
Mereka adalah manusia-manusia kecil yang sedang membangun kepercayaan dirinya.
Mungkin hari ini mereka belum pandai matematika.
Belum lancar membaca.
Belum disiplin.
Belum mampu mengendalikan emosi.
Belum memahami tanggung jawab.
Tetapi tugas kita bukan memberi mereka cap.
Tugas kita adalah membantu mereka tumbuh.
Seorang guru mungkin mengajar seorang anak hanya selama satu tahun.
Tetapi satu kalimat dari guru bisa dikenang anak itu selama puluhan tahun.
Betapa banyak orang dewasa yang masih mengingat ucapan gurunya ketika mereka masih kecil.
Ada yang berkata:
“Terima kasih, Bu. Dulu Ibu yang membuat saya percaya bahwa saya bisa.”
Tetapi ada juga yang diam-diam menyimpan luka:
“Sejak dulu saya selalu merasa bodoh karena guru saya mengatakan demikian.”
Kita tidak pernah tahu akan menjadi guru seperti apa dalam ingatan murid-murid kita.
Karena itu, pilihlah kata-kata dengan hati-hati.
Bukan berarti anak tidak boleh ditegur.
Bukan berarti guru tidak boleh memberikan hukuman yang mendidik.
Bukan berarti orang tua harus selalu membiarkan kesalahan anak.
Tidak.
Anak tetap harus diberi batas.
Anak tetap harus diajarkan disiplin.
Anak tetap harus mengetahui mana yang benar dan mana yang salah.
Tetapi mendidik tidak harus dengan merendahkan.
Menegur tidak harus dengan menghina.
Mendisiplinkan tidak harus dengan mengutuk.
Kita bisa berkata:
“Kesalahan ini tidak boleh kamu ulangi.”
“Kamu sebenarnya bisa lebih baik dari ini.”
“Ibu kecewa dengan perbuatanmu, tetapi Ibu tetap sayang kepadamu.”
“Bapak tahu kamu sedang kesulitan. Mari kita perbaiki bersama.”
“Tidak apa-apa gagal hari ini. Yang penting kamu mau belajar dan mencoba lagi.”
Bukankah kalimat seperti itu jauh lebih membangun?
Dan satu hal lagi yang tidak kalah penting:
Biasakan mendoakan anak dengan kata-kata yang baik.
Ketika anak berbuat salah, jangan hanya mengatakan apa yang tidak kita sukai.
Katakan juga apa yang kita harapkan.
“Semoga kamu menjadi anak yang baik.”
“Semoga Allah memberi kamu kemudahan untuk belajar.”
“Semoga kamu menjadi orang yang bermanfaat.”
“Semoga Allah menjaga langkahmu.”
“Semoga kelak kamu menjadi orang yang membanggakan dan membawa manfaat bagi banyak orang.”
Karena anak-anak membutuhkan bukan hanya koreksi.
Mereka membutuhkan harapan.
Mereka membutuhkan orang dewasa yang tetap percaya kepada mereka bahkan ketika mereka sedang gagal.
Ada sebuah nasihat sederhana yang seharusnya kita pegang:
Jika tidak mampu berkata baik ketika sedang marah, lebih baik diam sejenak.
Tarik napas dalam-dalam. Pejamkan mata. Berikan waktu kepada hati untuk menenangkan diri. Jangan biarkan emosi sesaat membuat kita mengucapkan kata-kata yang kelak kita sesali.
Bayangkanlah suatu hari nanti, di akhirat, ketika tangan kecil anak yang hari ini mungkin sedang melakukan kesalahan dan membuat kita marah, justru menjadi tangan yang menarik tangan kita menuju surga Allah SWT.
Bukankah kita ingin anak-anak kita menjadi jalan bagi kita menuju surga, bukan justru menjadi alasan datangnya penyesalan?
Maka, ketika amarah datang, tahanlah lisan. Diamlah sejenak. Tenangkan hati.
Setelah hati benar-benar tenang, barulah berbicara.
Sebab ketika sedang marah, kita sering mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ingin kita katakan. Dan terkadang, satu kalimat yang terucap dalam kemarahan dapat meninggalkan luka yang jauh lebih lama daripada kemarahan itu sendiri.
Ingat! Kata-kata yang sudah keluar tidak bisa ditarik kembali.
Kita bisa meminta maaf.
Tetapi luka yang ditimbulkannya mungkin membutuhkan waktu panjang untuk sembuh.
Wahai para orang tua…
Wahai para guru…
Anak-anak kita sedang tumbuh.
Mereka sedang mencari siapa dirinya.
Jangan sampai rumah dan sekolah yang seharusnya menjadi tempat mereka tumbuh justru menjadi tempat mereka belajar membenci dirinya sendiri.
Jangan sampai lidah kita menjadi alasan seorang anak kehilangan kepercayaan dirinya.
Jangan sampai satu kalimat kemarahan kita menjadi suara yang terus bergema di kepalanya sampai ia dewasa.
Karena itu, berhati-hatilah dengan ucapan.
Saat marah, tetaplah memilih kata yang mendidik.
Saat kecewa, tetaplah menjaga martabat anak.
Saat menegur, tetaplah sisakan harapan.
Dan ketika mendoakan mereka, doakanlah yang baik-baik.
Sebab kita tidak pernah tahu…
Bisa jadi, kalimat yang kita ucapkan hari ini sedang menjadi doa yang menyertai perjalanan hidup mereka di masa depan.
Maka sebelum berbicara kepada anak, tanyakan kepada diri sendiri:
“Jika kalimat ini benar-benar menjadi doa, apakah aku rela doa ini terjadi pada anakku?”
Kalau jawabannya tidak… Maka Jangan Ucapkan!
*) Ketua Komite SMAN 3 Samarinda.