Detail Update

Detail Update

Jangan Menangisi Satu Pintu yang Tertutup

Card image cap

Oleh: Djoko Iriandono*)

“Artikel ini penulis persembahkan kepada siapa saja yang tengah berjuang meraih impiannya di tengah berbagai kegagalan dan keterbatasan, terutama kepada para pahlawanku — guru-guru honorer — yang dengan penuh ketulusan tetap mengabdi sambil menyongsong ketidakpastian tahun 2027.”

Dalam hidup ini, hampir semua orang pernah memimpikan kesuksesan. Ada yang ingin sukses dalam pekerjaan, pendidikan, usaha, keluarga, atau bahkan dalam perjuangan memperbaiki dirinya sendiri. Tidak ada manusia yang sejak lahir ditakdirkan gagal. Setiap orang sebenarnya memiliki peluang untuk berhasil. Namun kenyataannya, tidak semua orang mampu mencapai apa yang diimpikannya.

Mengapa demikian?

Banyak orang mengira bahwa kegagalan terjadi karena kurangnya kemampuan, tidak adanya kesempatan, atau keadaan hidup yang tidak mendukung. Padahal sering kali penyebab utamanya bukan itu. Banyak orang sebenarnya memiliki potensi besar, memiliki kesempatan yang cukup, bahkan memiliki jalan menuju keberhasilan. Sayangnya, mereka terlalu mudah terpuruk ketika menghadapi satu kegagalan.

Mereka berhenti bukan karena tidak mampu berjalan, tetapi karena hatinya sudah lebih dahulu menyerah.

Di sinilah letak perbedaan antara orang yang akhirnya berhasil dan orang yang memilih berhenti di tengah jalan. Orang sukses bukan selalu orang paling pintar, bukan pula orang yang selalu beruntung. Orang sukses biasanya adalah mereka yang mampu bangkit lebih cepat ketika jatuh. Mereka tidak membiarkan dirinya tenggelam terlalu lama dalam kecewa.

Kegagalan memang menyakitkan. Ditolak pekerjaan terasa pahit. Usaha yang bangkrut membuat hati hancur. Tidak lolos seleksi bisa menurunkan rasa percaya diri. Dikhianati oleh orang yang dipercaya dapat mematahkan semangat. Semua itu manusiawi. Tidak ada yang salah dengan merasa sedih. Namun yang berbahaya adalah ketika kesedihan itu membuat seseorang berhenti melangkah.

Hari-hari ini, perasaan seperti itu juga sedang dirasakan oleh para pahlawan kita, yaitu: para guru honorer di berbagai daerah. Mereka yang selama bertahun-tahun mengabdi di ruang kelas, mendidik anak-anak bangsa dengan segala keterbatasan, kini menghadapi kecemasan baru menyongsong tahun 2027. Beredar kekhawatiran bahwa guru honorer tidak lagi diperbolehkan mengajar apabila status kepegawaiannya belum jelas atau belum terselesaikan dalam skema pemerintah.

Bagi sebagian orang mungkin ini hanya sekadar kebijakan administratif. Namun bagi para guru honorer, ini adalah soal harapan hidup. Ada yang sudah puluhan tahun mengajar dengan gaji yang jauh dari layak. Ada yang tetap datang ke sekolah meski honor yang diterima bahkan tidak cukup memenuhi kebutuhan rumah tangga. Mereka bertahan bukan semata karena materi, tetapi karena kecintaan terhadap dunia pendidikan.

Ironisnya, ketika pengabdian panjang itu belum juga menghadirkan kepastian, muncul kekhawatiran kehilangan kesempatan mengajar. Tidak sedikit guru honorer yang mulai merasa cemas, sedih, bahkan kehilangan arah. Sebagian merasa pintu pengabdiannya perlahan mulai tertutup.

Namun di sinilah kehidupan mengajarkan sesuatu yang penting: jangan biarkan satu pintu yang tertutup membuat kita kehilangan seluruh harapan.

Banyak orang terlalu fokus pada satu pintu yang tertutup.

Ketika satu kesempatan gagal diraih, pikirannya hanya tertuju pada kehilangan itu. Ia terus memandang pintu yang tertutup sambil meratapi nasibnya. Ia merasa hidup sudah selesai. Padahal sebenarnya, kehidupan tidak pernah hanya menyediakan satu pintu.

Masalahnya, karena terlalu dekat dengan pintu yang tertutup, seseorang menjadi tidak mampu melihat pintu-pintu lain yang sebenarnya sedang terbuka.

Cobalah sesekali mundur sedikit dari masalah yang sedang dihadapi. Lihat hidup dengan pandangan yang lebih luas. Bisa jadi jalan yang gagal kita tempuh sebenarnya bukan jalan terbaik bagi kita. Bisa jadi Allah sedang mengarahkan kita menuju tempat yang lebih baik, lebih matang, dan lebih sesuai dengan kemampuan kita.

Kadang manusia terlalu memaksa masuk melalui satu pintu, padahal Tuhan sudah menyiapkan gerbang lain yang jauh lebih besar.

Sayangnya, tidak semua orang sabar menunggu arah baru itu muncul.

Ada orang yang gagal sekali lalu memutuskan dirinya tidak berbakat. Ada yang ditolak satu kali lalu merasa dunia tidak adil. Ada pula yang mengalami satu kesalahan kemudian mengubur seluruh impiannya. Padahal sejarah kehidupan menunjukkan bahwa hampir semua orang besar pernah mengalami penolakan, kegagalan, bahkan hinaan sebelum akhirnya berhasil.

Begitu pula para guru honorer. Jangan sampai keadaan yang sulit hari ini membuat semangat pengabdian ikut mati. Dunia pendidikan masih membutuhkan orang-orang yang tulus mendidik. Jika satu jalan terasa sempit, maka teruslah mencari jalan lain untuk tetap berkarya, mengajar, belajar, dan memberi manfaat. Sebab nilai seorang pendidik tidak hanya ditentukan oleh status administratif, tetapi oleh ketulusan dan kontribusinya kepada generasi masa depan.

Kegagalan bukan tanda bahwa perjalanan telah berakhir. Sering kali, kegagalan hanyalah isyarat bahwa kita perlu mencari jalan yang berbeda. Masih banyak cara untuk tetap mengabdikan diri sebagai pembangun masa depan anak bangsa. Yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk membuka wawasan dan menerima kenyataan bahwa mungkin satu pintu telah tertutup, agar kita dapat melihat pintu-pintu lain yang sebenarnya sedang terbuka.

Jangan habiskan waktu hanya untuk duduk diam, meratapi nasib, lalu menyalahkan keadaan. Bangkitlah. Melangkahlah sedikit menjauh dari pintu yang tertutup itu. Sebab ketika kita berhenti terpaku pada satu kegagalan, kita akan mulai menyadari bahwa kehidupan masih menyediakan banyak kesempatan lain untuk tumbuh, berkarya, dan meraih kesuksesan.

Jadi, jangan menjadi pribadi yang terlalu “baper” terhadap kegagalan hidup. Jangan biarkan satu masalah menghancurkan seluruh harapan masa depan. Hidup ini terlalu luas untuk berhenti hanya karena satu jalan buntu.

Jika satu kesempatan hilang, carilah kesempatan lain. Jika satu rencana gagal, buatlah rencana baru. Jika satu impian runtuh, bangun kembali dengan pondasi yang lebih kuat.

Ingatlah, matahari pun tenggelam setiap sore, tetapi esok pagi ia kembali terbit dengan cahaya yang baru.

Begitu pula manusia. Kita boleh lelah, boleh kecewa, bahkan boleh menangis. Namun setelah itu kita harus kembali berdiri. Sebab hidup tidak akan menunggu orang yang terus larut dalam kesedihan.

Orang yang terus maju biasanya bukan orang yang hidupnya paling mudah. Mereka hanyalah orang-orang yang tidak mau menyerah terlalu lama.

Mungkin hari ini Anda sedang menghadapi pintu yang tertutup. Mungkin Anda baru saja gagal dalam sesuatu yang sangat Anda perjuangkan. Mungkin Anda merasa kecewa karena harapan tidak berjalan sesuai rencana. Namun percayalah, selama Anda masih mau bergerak, masih mau belajar, dan masih mau mencoba, maka peluang untuk sukses itu tetap ada walau dengan jalan yang berbeda.

Jangan habiskan energi hanya untuk meratapi apa yang hilang.

Gunakan tenaga dan pikiran Anda untuk menemukan peluang baru yang mungkin selama ini tidak pernah Anda lihat. Dunia ini penuh dengan kemungkinan. Kadang keberhasilan datang bukan dari jalan yang pertama kita pilih, tetapi dari jalan lain yang sebelumnya tidak pernah kita duga.

Maka teruslah melangkah.

Jangan takut memulai kembali. Jangan malu belajar lagi. Jangan gengsi mencoba kesempatan baru. Dan yang paling penting, jangan biarkan kegagalan membuat Anda kehilangan keyakinan terhadap diri sendiri.

Sebab sesungguhnya, kesuksesan bukan milik mereka yang tidak pernah gagal. Kesuksesan adalah milik mereka yang tetap berjalan meskipun pernah jatuh berkali-kali.

Boleh jadi hari ini satu pintu tertutup untuk Anda. Tetapi siapa tahu, beberapa langkah di depan sana, telah terbuka banyak pintu lain yang sedang menunggu Anda masuk dengan versi diri yang lebih kuat dan lebih bijaksana.

 

*) Kasi Kominfo BPIC Kaltim