Oleh: Djoko Iriandono*)
“Kalau awal puasanya berbeda, berarti malam ganjilnya juga berbeda. Lalu Lailatul Qadar turunnya yang mana?”
Pertanyaan seperti ini sering terdengar setiap kali umat Islam di Indonesia memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan. Tidak jarang pertanyaan itu muncul dengan nada serius, kadang pula dengan sedikit kebingungan.
Pertanyaan yang sama juga muncul dalam kajian rutin ba’da dzuhur di Masjid Baitul Muttaqien Islamic Center tadi siang. Jamaah yang baru saja menyelesaikan salat dzuhur tidak langsung beranjak pulang. Mereka tetap duduk di dalam masjid, menunggu dimulainya kajian Ramadhan yang rutin diselenggarakan sepanjang bulan suci.
Narasumber kajian siang itu adalah KH. Muhammad Rasyid, S.PdI. Selain sebagai Imam Besar Masjid Raya Baitul Muttaqien, beliau juga menjabat sebagai Ketua I Badan Pengelola Islamic Center Kalimantan Timur. Dengan gaya penyampaian yang tenang namun tajam, beliau mengulas salah satu pertanyaan dari seorang jamaah tentang Lailatul Qadar. Pertanyaan ini sebenarnya bukanlah hal baru karena pertanyaan ini ternyata selalu muncul setiap kali terjadi perbedaan awal Ramadhan di negara kita.
Apakah Lailatul Qadar bisa turun dua kali?
Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi di baliknya tersimpan persoalan teologis, fiqh, sekaligus cara kita memahami hikmah ibadah.
Tulisan ini merupakan rangkuman sekaligus pengembangan dari penjelasan yang disampaikan dalam kajian tersebut, yang kiranya dapat menjadi bahan refleksi bersama.
Ketika Awal Ramadhan Berbeda
Perbedaan awal Ramadhan di Indonesia sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru. Dalam sejarahnya, umat Islam di tanah air sudah berkali-kali mengalami perbedaan dalam menentukan hari pertama puasa.
Pada tahun 2026 misalnya, organisasi Islam Muhammadiyah menetapkan awal Ramadhan pada 18 Februari. Sementara itu, Pemerintah Republik Indonesia melalui sidang isbat menetapkan awal puasa pada 19 Februari.
Perbedaan satu hari ini tampaknya sederhana, tetapi kemudian menimbulkan berbagai pertanyaan di tengah masyarakat.
Salah satu yang paling sering muncul adalah soal Lailatul Qadar.
Rasulullah ﷺ menganjurkan umat Islam untuk mencari Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Namun ketika awal Ramadhan berbeda, maka hitungan malam ganjil itu pun ikut berbeda.
Bagi sebagian orang, ini menimbulkan kebingungan:
Jika hitungan malamnya berbeda, apakah berarti Lailatul Qadar juga turun dua kali?
Lailatul Qadar dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an memberikan penjelasan yang sangat jelas tentang kemuliaan malam ini.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Lailatul Qadar.”
(QS. Al-Qadr: 1)
Ayat berikutnya bahkan menegaskan keistimewaannya:
“Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan.”
(QS. Al-Qadr: 3)
Seribu bulan berarti sekitar 83 tahun. Artinya, satu malam ini nilainya lebih besar daripada ibadah selama puluhan tahun.
Tidak heran jika kaum muslimin berlomba-lomba menghidupkan malam-malam terakhir Ramadhan dengan salat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa.
Namun menariknya, Al-Qur’an tidak pernah menyebut tanggal pasti terjadinya Lailatul Qadar.
Rasulullah Tidak Menyebut Tanggalnya
Dalam banyak hadis sahih, Rasulullah ﷺ hanya memberikan petunjuk umum.
Beliau bersabda:
“Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadhan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Biasanya malam ganjil yang dimaksud adalah tanggal 21, 23, 25, 27, dan 29 Ramadhan.
Namun Rasulullah ﷺ tidak pernah mengatakan secara pasti bahwa Lailatul Qadar terjadi pada malam tertentu.
Para ulama menjelaskan bahwa hal ini bukan tanpa alasan.
Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ sebenarnya pernah hampir memberitahukan kepada para sahabat tentang tanggal Lailatul Qadar. Namun ketika beliau keluar untuk menyampaikannya, dua orang sahabat sedang berselisih sehingga pengetahuan itu kemudian diangkat oleh Allah.
Peristiwa ini dipahami oleh para ulama sebagai sebuah hikmah.
Seandainya tanggalnya diketahui secara pasti, mungkin banyak orang hanya akan beribadah pada satu malam saja.
Dengan dirahasiakannya malam tersebut, umat Islam terdorong untuk menghidupkan banyak malam dengan ibadah.
Lailatul Qadar Tetap Satu
Para ulama sepakat bahwa Lailatul Qadar hanya terjadi satu malam dalam satu Ramadhan.
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa Lailatul Qadar adalah satu malam yang terjadi pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, namun waktunya dirahasiakan oleh Allah.
Artinya, malam tersebut tidak berubah hanya karena manusia berbeda dalam menghitung kalender.
Perbedaan hanya terjadi pada cara manusia menghitung hari, bukan pada ketetapan Allah.
Dengan kata lain, Lailatul Qadar tidak pernah “menyesuaikan diri” dengan kalender manusia.
Ia datang pada malam yang telah ditetapkan oleh Allah sejak dahulu.
Perbedaan Tidak Selalu Merugikan
Jika dilihat dari sudut pandang lain, perbedaan awal Ramadhan sebenarnya tidak selalu merugikan umat Islam.
Justru dalam beberapa hal, perbedaan ini bisa menjadi peluang ibadah yang lebih luas.
Bayangkan seseorang mengikuti jadwal pemerintah, tetapi ia juga memperbanyak ibadah pada malam yang dianggap ganjil oleh kelompok lain.
Tanpa disadari, ia justru menghidupkan lebih banyak malam dengan ibadah.
Dan mungkin saja, pada salah satu malam itu ia mendapatkan Lailatul Qadar.
Karena pada akhirnya yang dinilai oleh Allah bukanlah kalender yang kita ikuti, tetapi kesungguhan ibadah yang kita lakukan.
Terlalu Sibuk dengan Tanggal
Dalam praktiknya, manusia sering kali terlalu sibuk memperdebatkan tanggal.
Apakah malam ini malam ke-27?
Apakah ini malam ganjil atau genap?
Padahal Rasulullah ﷺ justru mengajarkan sesuatu yang jauh lebih sederhana.
Beliau menghidupkan seluruh malam pada sepuluh hari terakhir Ramadhan.
Bahkan Aisyah RA meriwayatkan bahwa ketika sepuluh malam terakhir tiba, Rasulullah ﷺ mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.
Artinya, fokus utama bukanlah pada menemukan tanggal tertentu, tetapi pada memperbanyak ibadah.
Penutup: Mungkin Malam yang Kita Abaikan
Perbedaan awal Ramadhan antara Muhammadiyah dan Pemerintah Republik Indonesia mungkin membuat kalender ibadah kita tampak berbeda.
Sebagian memulai puasa lebih dahulu. Sebagian yang lain menyusul sehari kemudian.
Namun sesungguhnya, Lailatul Qadar tidak pernah bergantung pada perhitungan manusia.
Ia tidak menunggu apakah kita menghitung dari tanggal 18 atau tanggal 19.
Ia tidak berubah hanya karena manusia berbeda metode dalam menentukan awal bulan.
Lailatul Qadar tetap datang pada malam yang telah Allah tetapkan.
Yang berubah hanyalah cara kita menghitungnya.
Karena itu, mungkin sudah saatnya kita berhenti terlalu sibuk memperdebatkan tanggal.
Sebab bisa jadi, malam yang selama ini kita tunggu dengan penuh perhitungan justru bukan malam yang Allah pilih.
Sebaliknya, malam yang kita anggap biasa saja—malam ketika masjid mulai sepi, ketika sebagian orang sudah terlelap—justru menjadi malam ketika langit terbuka.
Pada malam itu, para malaikat turun membawa rahmat.
Pada malam itu, doa-doa diangkat tanpa penghalang.
Dan pada malam itu pula, tanpa kita sadari, Allah sedang menuliskan takdir terbaik bagi hamba-hamba-Nya.
Wallahu a'lam bish-shawab
*) Kasi Kominfo BPIC Kaltim