Nikmati masa pensiun dengan penuh rasa sykur.
Menemukan Makna Hidup di Tengah Rutinitas yang Membosankan
Oleh: Djoko Iriandono, S.E., M.A.*)
Ketika masa pensiun tiba, kita tidak lagi dikejar bel waktu kantor, tumpukan pekerjaan, rapat yang panjang, atau target yang harus diselesaikan. Namun, ada satu hal yang kadang justru muncul tanpa diundang: perasaan kehilangan arah. Hari-hari terasa panjang, kegiatan semakin sedikit, dan waktu seolah berjalan begitu lambat. Padahal, hidup belum selesai. Barangkali, kita hanya sedang memasuki babak baru yang membutuhkan cara pandang berbeda.
Ada sebuah perubahan besar yang sering kali tidak disadari ketika seseorang memasuki masa pensiun. Selama puluhan tahun, hidupnya diatur oleh jadwal. Pagi-pagi harus bersiap berangkat kerja, menyelesaikan tugas, menghadiri rapat, bertemu rekan kerja, menghadapi berbagai persoalan, dan pulang ketika pekerjaan sudah selesai. Begitu seterusnya, dari Senin hingga Jumat, bahkan terkadang sampai akhir pekan.
Kesibukan itu kadang melelahkan. Ada saat-saat ketika kita berharap segera tiba hari libur. Ada pula keinginan untuk segera pensiun agar bisa menikmati kebebasan, tanpa harus memikirkan urusan kantor dan pekerjaan yang seolah tidak pernah ada habisnya.
Namun, ketika masa itu benar-benar datang, ternyata tidak semua berjalan seperti yang dibayangkan.
Tidak ada lagi kewajiban untuk segera bersiap menuju tempat kerja setelah menunaikan salat Subuh. Tidak ada lagi telepon dari kantor yang menanyakan perkembangan pekerjaan. Tidak ada lagi undangan rapat, disposisi surat, laporan yang harus diselesaikan, atau seseorang yang menunggu keputusan kita.
Awalnya, keadaan seperti ini tentu terasa menyenangkan. Setelah salat Subuh, kita bisa menikmati pagi dengan lebih santai. Menyeruput kopi tanpa tergesa-gesa, membaca buku, menonton televisi, membuka pesan di WhatsApp, berselancar di Facebook, menikmati video-video pendek di YouTube, atau sekadar duduk di teras rumah sambil menghirup udara pagi.
Tidak ada lagi desakan waktu. Tidak ada lagi perasaan terburu-buru. Pagi yang dahulu terasa begitu singkat kini seolah menjadi lebih panjang, memberikan kesempatan kepada kita untuk menikmati hal-hal sederhana yang mungkin dahulu sering terabaikan.
Tetapi, setelah beberapa bulan berlalu, sebagian orang mulai merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Hari-hari terasa sama. Bangun tidur, sarapan, membaca berita, menonton televisi, sesekali keluar rumah, lalu kembali beristirahat. Besoknya melakukan hal yang hampir serupa.
Rutinitas yang dahulu terasa melegakan perlahan berubah menjadi kebosanan.
Bahkan, ada yang diam-diam merindukan suasana kantor. Bukan semata-mata karena pekerjaannya, melainkan karena suasana kebersamaan, percakapan dengan teman sejawat, perasaan dibutuhkan, dan kepuasan ketika berhasil menyelesaikan sebuah tugas.
Di sinilah kita perlu memahami satu hal: pensiun dari pekerjaan bukan berarti pensiun dari kehidupan.
Ketika Jabatan Berakhir, Kehidupan Tetap Berjalan
Selama bekerja, sering kali tanpa sadar kita mengukur diri melalui jabatan, kedudukan, dan tanggung jawab yang kita emban. Kita merasa berarti karena ada orang yang membutuhkan kehadiran kita, ada bawahan yang menunggu arahan, dan ada pekerjaan yang harus diselesaikan.
Ketika semua itu berhenti, muncul pertanyaan dalam hati: masih adakah sesuatu yang bisa kita lakukan? Masihkah kehadiran kita dibutuhkan?
Pertanyaan semacam ini sangat manusiawi. Apalagi bagi mereka yang puluhan tahun menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengabdi kepada institusi, masyarakat, atau negara.
Namun, kita perlu menyadari bahwa nilai seseorang tidak pernah ditentukan oleh jabatan yang pernah disandangnya. Jabatan hanyalah amanah yang memiliki batas waktu. Sementara itu, nilai kemanusiaan, pengalaman, pengetahuan, dan kebaikan yang pernah kita tanamkan tidak ikut berakhir ketika surat keputusan pensiun diterbitkan.
Kita mungkin tidak lagi menjadi kepala kantor, kepala sekolah, pejabat, atau pimpinan sebuah organisasi. Tetapi kita tetap seorang ayah, ibu, kakek, nenek, sahabat, tetangga, dan bagian dari masyarakat.
Ada banyak peran yang masih bisa kita jalankan. Bahkan, mungkin justru sekarang kita memiliki kesempatan lebih luas untuk menjalankannya dengan sepenuh hati.
Belajar Menikmati Hal-Hal Sederhana
Ketika masih aktif bekerja, kita sering menunda kebahagiaan. Kita berkata, nanti kalau sudah pensiun akan lebih banyak waktu untuk keluarga. Nanti kalau sudah tidak sibuk, kita akan lebih sering berolahraga. Nanti kalau sudah longgar, kita ingin membaca buku, mengunjungi teman lama, atau sekadar menikmati pagi tanpa memikirkan pekerjaan.
Sayangnya, setelah pensiun, tidak sedikit dari kita yang justru bingung mengisi waktu luang tersebut.
Padahal, kebahagiaan tidak selalu harus ditemukan melalui kegiatan besar, perjalanan jauh, atau pencapaian yang luar biasa.
Ada kebahagiaan dalam secangkir kopi pada pagi hari. Ada ketenteraman ketika menyaksikan matahari terbit. Ada kehangatan ketika bercengkerama dengan pasangan. Ada kegembiraan ketika cucu datang berkunjung dan bercerita tentang pengalaman sekolahnya.
Hal-hal sederhana seperti itu sering kali luput dari perhatian ketika kita masih disibukkan oleh pekerjaan.
Sekarang, cobalah menikmatinya.
Tidak perlu merasa bersalah ketika selesai ibadah salat subuh kemudian tidur lagi dan bangun lebih siang sesekali. Tidak perlu merasa kehilangan harga diri hanya karena tidak lagi memiliki jadwal rapat. Tidak perlu pula membandingkan kehidupan kita sekarang dengan masa ketika masih aktif bekerja.
Setiap tahap kehidupan mempunyai keindahannya sendiri. Masa muda memiliki semangat dan tenaga. Masa bekerja memberikan kesempatan untuk berkarya dan mengabdi. Masa pensiun menawarkan ruang untuk menikmati hasil perjalanan panjang sekaligus memperkaya kehidupan dengan cara yang berbeda.
Jangan Biarkan Hari-Hari Berlalu Tanpa Tujuan
Menikmati masa pensiun bukan berarti membiarkan waktu berlalu begitu saja. Justru, kebebasan waktu yang kita miliki perlu diisi dengan kegiatan yang membuat hidup tetap terasa berarti.
Tidak harus bekerja kembali atau mencari jabatan baru. Kita bisa memulai dari hal-hal kecil yang selama ini tertunda.
Bagi yang menyukai tanaman, mulailah merawat bunga atau membuat kebun kecil di halaman rumah. Bagi yang senang membaca, kunjungilah perpustakaan atau bergabung dengan komunitas literasi. Sementara itu, bagi mereka yang memiliki pengalaman panjang di dunia pendidikan, tidak ada salahnya terus berbagi pengetahuan dengan guru-guru muda.
Tuliskan berbagai pengalaman dan praktik baik yang pernah dilakukan, baik dalam mengelola pembelajaran, mendidik, maupun membentuk karakter siswa. Tuangkan pengalaman tersebut dalam bentuk artikel, kemudian bagikan melalui media sosial agar dapat dibaca dan menjadi inspirasi bagi para guru maupun orang tua.
Siapa tahu, tulisan sederhana yang kita buat dari rumah justru memberikan manfaat bagi banyak orang. Pengalaman yang selama ini tersimpan dalam ingatan tidak hanya menjadi kenangan pribadi, tetapi juga dapat menjadi warisan pengetahuan bagi generasi berikutnya.
Mereka yang pernah menjadi pemimpin, pejabat, pengusaha, atau profesional juga memiliki pengalaman yang berharga untuk dibagikan kepada generasi berikutnya.
Kita bisa menjadi relawan, terlibat dalam kegiatan sosial, membantu pengelolaan masjid, mendampingi anak-anak belajar, atau berpartisipasi dalam kegiatan lingkungan.
Bahkan, kegiatan sederhana seperti berjalan kaki setiap pagi bersama teman-teman sebaya dapat memberikan kegembiraan tersendiri.
Yang terpenting bukan seberapa besar kegiatan yang kita lakukan, melainkan apakah kegiatan itu memberikan manfaat dan membuat kita merasa hidup.
Jangan pula memaksakan diri untuk selalu sibuk. Kita tidak sedang berlomba mengejar target seperti ketika masih bekerja. Pilihlah kegiatan yang sesuai dengan kemampuan, kesehatan, minat, dan keadaan kita.
Masa pensiun seharusnya menjadi masa ketika kita lebih leluasa menentukan apa yang ingin dilakukan, bukan masa ketika kita kembali membebani diri dengan tuntutan yang tidak perlu.
Menemukan Ruang Pengabdian yang Baru
Saya sendiri merasakan bahwa memasuki masa pensiun bukan berarti harus berhenti melakukan sesuatu yang bermanfaat.
Setelah lebih dari tiga puluh tahun mengabdikan diri di dunia pendidikan, perjalanan pekerjaan saya telah melalui berbagai tahapan. Saya pernah menjadi guru, kemudian dipercaya menjadi kepala sekolah selama beberapa tahun, hingga akhirnya mengemban sejumlah jabatan struktural sebagai kepala seksi dan kepala bidang di lingkungan Dinas Pendidikan Kota.
Pengalaman tersebut tentu memberikan banyak pelajaran. Ada kegembiraan ketika berhasil menyelesaikan persoalan pendidikan, ada tantangan ketika harus mengambil keputusan, dan ada kepuasan ketika melihat guru serta tenaga kependidikan berkembang menjadi lebih baik.
Ketika memasuki masa pensiun, saya sempat berpikir bahwa sebagian besar pengalaman itu mungkin akan menjadi kenangan masa lalu. Namun, ternyata kehidupan memberikan kesempatan untuk melanjutkan pengabdian dalam bentuk yang berbeda.
Saat ini, saya memilih untuk tetap mengabdikan diri di Islamic Center Kalimantan Timur. Saya terlibat dalam bidang Komunikasi, Informasi, dan Pelayanan Umat. Salah satu tugas utama saya adalah menginformasikan berbagai program dan kegiatan Islamic Center kepada masyarakat melalui media komunikasi, terutama website. Itulah sebabnya mengapa saya banyak mengisi website Islamic Center dengan berita dan artikel.
Melalui kegiatan ini, saya menemukan kesibukan yang berbeda dari pekerjaan kedinasan dahulu. Tidak lagi berhadapan dengan urusan administrasi pemerintahan atau persoalan birokrasi pendidikan, tetapi lebih banyak berinteraksi dengan informasi, tulisan, dokumentasi kegiatan, dan berbagai program pelayanan umat.
Ada kepuasan tersendiri ketika informasi tentang kegiatan keagamaan, pendidikan, sosial, dan pelayanan masyarakat dapat tersampaikan dengan baik. Terlebih ketika informasi tersebut membuat masyarakat semakin mengenal berbagai program Islamic Center dan mengetahui manfaat yang bisa mereka peroleh.
Pengalaman saya di dunia pendidikan juga ternyata masih dibutuhkan. Di Yayasan Baitul Muttaqien Islamic Center, saya dipercayakan mengemban amanah sebagai Kepala Bidang Peningkatan Mutu Tenaga Pendidik dan Kependidikan.
Amanah ini memberi kesempatan kepada saya untuk kembali berinteraksi dengan para guru dan tenaga kependidikan, berbagi pengalaman, serta ikut memikirkan bagaimana kualitas pendidikan di lingkungan Islamic Center dapat terus ditingkatkan.
Dari kegiatan tersebut, saya merasakan bahwa pengalaman yang dikumpulkan selama puluhan tahun ternyata tidak harus berhenti ketika masa kedinasan berakhir. Ilmu, keterampilan, dan pengalaman itu masih dapat digunakan, meskipun dalam lingkungan dan bentuk pengabdian yang berbeda.
Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa setiap pensiunan harus mencari kesibukan baru atau bergabung dengan organisasi tertentu. Setiap orang memiliki pilihan dan keadaan yang berbeda. Ada yang lebih menikmati waktu bersama keluarga, ada yang memilih berkebun, menekuni hobi, memperdalam ibadah, atau melakukan kegiatan sosial di lingkungan tempat tinggalnya.
Namun, satu hal yang ingin saya bagikan: jangan pernah merasa bahwa masa terbaik dalam hidup kita telah berlalu hanya karena kita sudah pensiun.
Selama masih diberi kesehatan dan kesempatan, selalu ada ruang untuk belajar, berkarya, berbagi, dan mengabdi.
Barangkali bentuk pengabdian kita sekarang tidak lagi sebesar atau seformal dahulu. Kita mungkin tidak lagi memiliki kewenangan seperti ketika masih aktif bekerja. Namun, selama sesuatu yang kita lakukan membawa manfaat bagi orang lain, sesungguhnya kita masih sedang menjalankan tugas kehidupan.
Memperbaiki Hubungan dengan Keluarga dan Lingkungan
Ada satu hal yang sering kali baru kita sadari setelah pensiun: betapa banyak waktu yang dahulu terlewat bersama keluarga.
Ketika masih bekerja, mungkin kita terlalu sering pulang sore. Ada percakapan dengan pasangan yang tertunda karena pekerjaan. Ada cerita anak-anak yang tidak sempat kita dengarkan karena pikiran masih tertuju pada urusan kantor.
Kini, kesempatan itu terbuka kembali.
Gunakan waktu untuk berbincang lebih banyak dengan pasangan. Sesekali ajaklah anak dan cucu makan bersama. Dengarkan cerita mereka tanpa tergesa-gesa memberikan nasihat. Kunjungi saudara, sahabat lama, atau tetangga yang sudah lama tidak kita temui.
Jangan menunggu ada acara keluarga untuk saling menyapa.
Hubungan yang hangat tidak dibangun hanya melalui pertemuan besar, tetapi juga melalui perhatian kecil yang dilakukan secara terus-menerus.
Mungkin kita tidak lagi memiliki banyak bawahan yang harus kita koordinasikan, tetapi kita masih memiliki keluarga yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang.
Mungkin tidak ada lagi orang yang menunggu keputusan kita di kantor, tetapi ada orang-orang terdekat yang senang ketika kita menyediakan waktu untuk mendengarkan mereka.
Bukankah itu juga sebuah bentuk keberhasilan dalam kehidupan?
Memperbanyak Syukur, Mengurangi Keluhan
Semakin bertambah usia, semakin banyak hal yang patut kita syukuri.
Kita masih diberi kesempatan untuk bangun pagi, menghirup udara segar, menikmati makanan, bertemu keluarga, dan menyaksikan kehidupan terus berjalan. Tidak semua orang memperoleh kesempatan yang sama.
Ada teman yang dahulu bekerja bersama kita, tetapi kini telah lebih dahulu berpulang. Ada sahabat yang sedang berjuang menghadapi berbagai kesulitan kehidupan. Ada pula orang-orang yang memasuki masa pensiun dengan kondisi ekonomi atau kesehatan yang tidak seberuntung kita.
Menyadari kenyataan tersebut seharusnya membuat kita lebih menghargai apa yang masih kita miliki.
Bukan berarti kita tidak boleh memiliki keinginan. Bukan pula berarti kita harus menerima segala keadaan tanpa berusaha. Namun, jangan sampai keinginan yang belum terpenuhi membuat kita lupa mensyukuri nikmat yang sudah ada.
Dalam kehidupan beragama, kita diajarkan bahwa syukur bukan hanya diucapkan melalui lisan. Syukur juga diwujudkan dengan menggunakan waktu, kesehatan, rezeki, dan kemampuan untuk melakukan kebaikan.
Jika dahulu kita mengabdikan tenaga untuk pekerjaan, sekarang kita dapat mengabdikan pengalaman dan kebijaksanaan untuk keluarga serta masyarakat.
Jika dahulu kita mengejar keberhasilan dalam karier, sekarang kita dapat memperbanyak amal yang manfaatnya dirasakan orang lain.
Mungkin tidak ada lagi penghargaan yang diberikan oleh institusi. Tidak ada lagi upacara penyerahan tanda jasa. Namun, ada kepuasan batin yang jauh lebih berharga ketika kita mengetahui bahwa kehadiran kita membawa manfaat bagi sesama.
Menikmati Kehidupan Tanpa Harus Selalu Membuktikan Sesuatu
Salah satu beban yang perlu dilepaskan oleh mereka yang memasuki masa pensiun adalah keinginan untuk terus membuktikan diri (Post Power Syndrome) .
Tidak sedikit orang yang merasa harus tetap menunjukkan bahwa dirinya masih mampu, masih berpengaruh, dan masih memiliki kedudukan. Akibatnya, masa pensiun justru diisi dengan kegelisahan karena terus membandingkan keadaan sekarang dengan masa lalu.
Padahal, kita tidak harus selalu menjadi orang penting untuk menjalani kehidupan yang penting.
Tidak harus memiliki jabatan untuk dihormati. Tidak harus memberikan instruksi agar didengar. Tidak harus terlibat dalam setiap kegiatan agar merasa dibutuhkan.
Ada waktunya kita memimpin, ada waktunya kita memberi kesempatan kepada orang lain untuk memimpin. Ada waktunya kita berbicara, dan ada waktunya kita cukup menjadi pendengar. Setiap orang ada jamannya dan setiap jaman ada orangnya.
Belajarlah menikmati kehidupan tanpa harus selalu berada di tengah perhatian orang lain.
Sesekali duduklah bersama teman-teman lama, bercanda tentang pengalaman masa lalu, mengenang perjalanan panjang yang pernah dilalui, dan tertawa atas berbagai kejadian yang dahulu mungkin terasa berat.
Tidak semua hal harus menjadi prestasi. Tidak semua waktu harus menghasilkan sesuatu yang dapat diukur.
Kadang-kadang, menikmati kehidupan dengan hati yang tenang sudah merupakan sebuah pencapaian.
Hidup Belum Selesai, Masih Banyak Kebaikan yang Bisa Dilakukan
Masa pensiun bukanlah garis akhir perjalanan hidup. Ia hanyalah perubahan babak.
Kita memang tidak lagi memiliki kesibukan kedinasan. Namun, masih banyak hal yang bisa dilakukan, masih banyak orang yang bisa disayangi, masih banyak pengetahuan yang bisa dibagikan, dan masih banyak kebaikan yang bisa ditanamkan.
Jangan biarkan rumah menjadi tempat kita hanya menunggu waktu berlalu. Jangan pula membiarkan hari-hari dipenuhi keluhan karena tidak lagi memiliki pekerjaan.
Bangunlah pagi dengan rasa syukur. Rencanakan kegiatan sederhana. Rawat kesehatan. Pelihara persahabatan. Dekatkan diri kepada keluarga dan Allah SWT. Berikan perhatian kepada lingkungan sekitar.
Dan yang tidak kalah penting, berdamailah dengan perjalanan hidup yang sudah kita lalui.
Kita tidak perlu terus-menerus merindukan masa lalu, sebab masa lalu tidak akan kembali. Kita juga tidak perlu terlalu mencemaskan masa depan, sebab tidak seorang pun mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi esok hari.
Nikmatilah hari ini dengan sebaik-baiknya.
Sebab, kebahagiaan di masa pensiun bukanlah tentang seberapa banyak waktu luang yang kita miliki, melainkan seberapa baik kita mengisi waktu itu dengan rasa syukur, kasih sayang, dan perbuatan yang bermanfaat.
Mungkin dahulu kita sibuk membangun karier, mengejar prestasi, dan mengumpulkan berbagai pencapaian. Sekarang, tibalah waktunya membangun sesuatu yang tidak kalah penting: ketenteraman hati.
Jika suatu pagi kita terbangun, membuka jendela, menikmati secangkir kopi, lalu tersenyum karena masih diberi kesempatan menjalani hari, sesungguhnya kita sedang menikmati salah satu anugerah terbesar dalam kehidupan.
Kita memang sudah pensiun dari pekerjaan. Tetapi jangan pernah pensiun dari rasa syukur, semangat hidup, dan keinginan untuk berbuat baik.
Sebab, selama napas masih berembus, selalu ada alasan untuk bangun pagi, selalu ada kesempatan untuk berbagi, dan selalu ada kebaikan yang bisa kita lakukan.
*) Kasi Kominfo BPIC kaltim.