Dulu maksiat offline, tetapi sekarang maksiatnya online
Oleh: Djoko Iriandono, S.E., M.A.*)
Di masa lalu, ketika seseorang ingin berbuat maksiat, ia harus melangkahkan kaki. Ia harus keluar rumah, mencari tempat, menemui orang, atau mendatangi lingkungan yang membuka peluang bagi perbuatan tersebut. Ada jarak yang harus ditempuh, ada waktu yang harus disediakan, bahkan ada rasa malu jika bertemu orang yang mengenalnya.
Kini, semua itu berubah.
Di era digital, maksiat tidak lagi selalu membutuhkan perjalanan. Cukup dengan satu telepon genggam di tangan, seseorang dapat membuka pintu-pintu dosa dari tempat tidurnya. Tidak perlu keluar rumah. Tidak perlu bertemu siapa pun. Tidak perlu menunggu malam. Bahkan, semua itu dapat dilakukan hanya dalam hitungan detik.
Inilah salah satu ujian terbesar umat manusia pada zaman ini.
Allah SWT telah mengingatkan:
“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32)
Perhatikan bahwa Allah tidak hanya melarang zina, tetapi juga melarang “mendekatinya”. Artinya, segala jalan yang mengantarkan kepada dosa pun harus dijauhi.
Hari ini, jalan menuju maksiat semakin pendek.
Media sosial yang seharusnya menjadi sarana silaturahmi, kadang berubah menjadi tempat mempertontonkan aurat. Grup percakapan yang semestinya menjadi wadah berbagi ilmu, berubah menjadi ruang ghibah dan fitnah. Internet yang mestinya menjadi perpustakaan ilmu dunia, justru sering dijadikan pintu masuk menuju pornografi, perjudian, penipuan, hingga penyebaran kebencian.
Tidak sedikit orang yang awalnya hanya “iseng melihat”. Beberapa menit kemudian, ia sudah tenggelam dalam dosa yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Begitulah setan bekerja.
Ia tidak selalu mengajak manusia kepada dosa besar sekaligus. Ia memulai dari langkah-langkah kecil. Satu klik. Satu video. Satu pesan pribadi. Satu gambar. Satu komentar. Lama-kelamaan hati menjadi terbiasa, rasa malu menghilang, dan dosa terasa biasa.
Lebih mengkhawatirkan lagi, jejak digital tidak pernah benar-benar hilang.
Dosa yang dahulu hanya diketahui oleh segelintir orang, kini dapat tersebar ke jutaan manusia hanya dalam beberapa detik. Satu video maksiat dapat ditonton jutaan kali. Satu unggahan yang mengandung fitnah dapat dibagikan ribuan orang. Satu konten yang mengajak kepada kemaksiatan dapat terus beredar bertahun-tahun, bahkan ketika pembuatnya telah meninggal dunia.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa yang mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapatkan dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR. Muslim)
Bayangkan seseorang mengunggah konten yang mengandung maksiat hari ini. Sepuluh tahun kemudian konten itu masih ditonton. Dua puluh tahun kemudian masih dibagikan. Bahkan setelah ia meninggal dunia, dosa itu masih terus mengalir.
Inilah yang disebut sebagai dosa jariyah.
Sebaliknya, media digital juga dapat menjadi ladang amal yang luar biasa.
Satu tulisan yang mengingatkan manusia kepada Allah dapat dibaca ribuan orang. Satu video kajian dapat menjadi sebab seseorang berhijrah. Satu unggahan ayat Al-Qur’an dapat menggerakkan hati yang sedang jauh dari Tuhannya. Satu kalimat motivasi yang tulus dapat menguatkan orang yang hampir putus asa.
Teknologi pada hakikatnya hanyalah alat.
Pisau yang sama dapat digunakan untuk memasak atau melukai. Internet yang sama dapat dipakai untuk belajar Al-Qur’an atau membuka pintu kemaksiatan. Telepon genggam yang sama dapat menjadi jalan menuju surga atau menyeret pemiliknya ke dalam penyesalan.
Karena itu, yang perlu dijaga bukan hanya layar ponsel, tetapi juga hati yang menggerakkan jari-jari kita.
Setiap sentuhan layar akan dimintai pertanggungjawaban. Setiap komentar akan dicatat. Setiap pesan yang dikirim tidak akan pernah luput dari pengawasan Allah SWT.
Firman Allah:
“Tidak ada suatu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf: 18)
Ayat ini tidak hanya berlaku bagi lisan, tetapi juga bagi tulisan. Di era digital, jari-jari kita sering kali berbicara lebih banyak daripada mulut kita. Maka, sebelum menekan tombol “kirim”, bertanyalah kepada diri sendiri:
Apakah tulisan ini mendatangkan pahala atau dosa?
Apakah komentar ini menyenangkan Allah atau justru mengundang murka-Nya?
Apakah unggahan ini akan menjadi amal jariyah atau dosa jariyah?
Sebagian orang begitu berhati-hati menjaga pakaian agar tidak kotor, tetapi kurang berhati-hati menjaga riwayat pencarian di internet. Ada yang sangat menjaga nama baik di hadapan manusia, tetapi tidak menjaga apa yang ia lakukan ketika sendirian bersama telepon genggamnya.
Padahal, kesendirian bukan berarti tanpa pengawasan.
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa ihsan adalah beribadah seakan-akan melihat Allah. Jika tidak mampu, yakinlah bahwa Allah selalu melihat kita.
Mungkin tidak ada manusia yang mengetahui apa yang kita lihat di layar ponsel. Mungkin tidak ada keluarga yang mengetahui isi percakapan kita. Mungkin tidak ada teman yang mengetahui akun-akun yang kita kunjungi.
Namun Allah Maha Mengetahui.
Kemajuan teknologi tidak pernah mengurangi pengawasan-Nya.
Karena itu, marilah kita menjadikan dunia digital sebagai ladang amal, bukan ladang dosa. Gunakan media sosial untuk menyebarkan ilmu, kebaikan, inspirasi, dan kasih sayang. Jadikan setiap unggahan sebagai saksi yang membela kita di hadapan Allah, bukan sebagai bukti yang memberatkan kita.
Hari ini, tantangan memang lebih berat dibandingkan generasi terdahulu. Maksiat hadir di genggaman. Godaan datang tanpa diundang. Tetapi pahala pun demikian. Kesempatan berdakwah, berbagi ilmu, dan menebar manfaat juga terbuka seluas-luasnya.
Pilihan itu ada di ujung jari kita.
Semoga Allah SWT menjaga hati kita dari fitnah dunia digital, menguatkan iman kita di tengah derasnya arus teknologi, serta menjadikan setiap perangkat yang kita miliki sebagai sarana mendekatkan diri kepada-Nya, bukan sebaliknya.
Sebab pada akhirnya, bukan telepon genggam yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah, melainkan tangan yang menggunakannya, mata yang memandangnya, hati yang menginginkannya, dan jiwa yang memilih jalannya.
*) Kominfo BPIC Kaltim