TIGA TAMU YANG PASTI DATANG: REZEKI, TAKDIR, DAN KEMATIAN
Oleh: Dr. Ir. H. Irianto Lambrie, M.M
Ketua Umum BPIC Kaltim
Hidup ini adalah sebuah perjalanan panjang. Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan terjadi beberapa langkah di depan. Ada hari-hari yang penuh kebahagiaan, tetapi ada pula hari-hari yang memaksa kita meneteskan air mata. Ada rencana yang berhasil, tetapi tidak sedikit pula yang berakhir di luar harapan.
Kita sering mengira bahwa hidup sepenuhnya berada di tangan kita. Kita bekerja keras, menyusun rencana, mengejar cita-cita, membangun karier, mengumpulkan harta, menjaga kesehatan, dan berusaha melakukan yang terbaik.
Semua itu penting.
Tetapi pada akhirnya kita harus menyadari satu hal: manusia berusaha, Allah yang menentukan.
Dalam perjalanan hidup, ada tiga “tamu” yang akan datang kepada setiap manusia.
Tamu pertama adalah rezeki.
Rezeki telah Allah ukur. Ia datang melalui jalan yang terkadang dapat kita duga, tetapi tidak jarang melalui jalan yang sama sekali tidak pernah kita bayangkan.
Karena itu, jangan terlalu sombong ketika mendapatkan banyak rezeki. Dan jangan terlalu putus asa ketika rezeki terasa sempit.
Allah berfirman:
“Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”
(QS. At-Talaq: 2–3)
Ayat ini mengajarkan bahwa rezeki tidak selalu mengikuti perhitungan manusia. Kadang-kadang pintu yang kita kira tertutup justru menjadi jalan datangnya pertolongan.
Karena itu, tugas kita bukan memastikan dari mana rezeki akan datang. Tugas kita adalah berusaha dengan sungguh-sungguh, bekerja dengan jujur, berdoa dengan penuh keyakinan, lalu bertawakal kepada Allah.
Tamu kedua adalah takdir.
Inilah bagian kehidupan yang sering paling sulit kita terima.
Kita mempunyai keinginan. Allah mempunyai ketetapan.
Kita membuat rencana, tetapi Allah menentukan hasil akhirnya.
Ada orang yang sudah bekerja keras, tetapi belum mendapatkan apa yang diharapkan. Ada yang ingin tinggal di suatu tempat, tetapi justru harus berpindah. Ada yang berharap mempertahankan sesuatu, tetapi Allah mengambilnya. Ada pula yang berkali-kali gagal, sebelum akhirnya menemukan jalan yang ternyata jauh lebih baik.
Pada saat seperti itu, kita sering bertanya, “Mengapa harus saya?”
Padahal mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah, “Apa yang sedang Allah ajarkan kepada saya melalui semua ini?”
Allah berfirman:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
(QS. Al-Baqarah: 286)
Tidak semua yang kita anggap sebagai kehilangan benar-benar merupakan kerugian. Tidak semua yang kita sebut sebagai kegagalan benar-benar merupakan akhir dari perjalanan.
Kadang-kadang Allah menutup satu pintu karena Dia sedang mengarahkan kita menuju pintu yang lain.
Dan di sinilah kesabaran menjadi sangat penting.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Ketika memperoleh kesenangan, ia bersyukur dan itu menjadi kebaikan baginya. Ketika tertimpa kesusahan, ia bersabar dan itu pun menjadi kebaikan baginya. (HR. Muslim No. 2999)
Artinya, seorang mukmin tidak pernah benar-benar kehilangan arah.
Ketika mendapat nikmat, ia bersyukur.
Ketika mendapat ujian, ia bersabar.
Ketika rencana berjalan sesuai harapan, ia mengucapkan alhamdulillah.
Ketika kenyataan berbeda dari keinginannya, ia berkata, qadarullah—ini adalah ketetapan Allah.
Tamu ketiga adalah kematian.
Inilah tamu yang paling pasti, tetapi sering paling kita lupakan.
Ia tidak mengenal jabatan. Tidak membedakan kaya dan miskin. Tidak bertanya apakah kita sudah siap atau belum. Tidak menunggu rumah selesai dibangun, anak-anak selesai sekolah, pekerjaan selesai, atau semua impian tercapai.
Allah telah mengingatkan:
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.”
(QS. Ali ’Imran: 185)
Kita tidak tahu kapan tamu terakhir itu datang. Bahkan Al-Qur’an mengingatkan bahwa tidak ada satu jiwa pun yang mengetahui di bumi mana ia akan mati. (QS. Luqman: 34)
Karena itu, kematian bukan sesuatu yang perlu ditakuti dengan cara yang membuat kita kehilangan harapan. Kematian justru seharusnya menjadi pengingat agar kita tidak terlalu larut dalam kehidupan dunia.
Ada sesuatu yang menarik dari kisah para nabi.
Ketika Nabi Musa a.s. berada di hadapan laut dan di belakangnya pasukan Fir’aun, Allah tidak serta-merta menghilangkan laut itu. Allah justru memerintahkan Musa memukulkan tongkatnya, lalu laut terbelah menjadi jalan.
Ketika Nabi Ibrahim a.s. dilemparkan ke dalam api, Allah tidak menjadikan api itu hilang. Allah berfirman:
“Wahai api! Jadilah kamu dingin dan keselamatan bagi Ibrahim.”
(QS. Al-Anbiya: 69)
Demikian pula Nabi Isa a.s. Ketika musuh-musuhnya bermaksud membunuhnya, Allah menyelamatkannya dengan mengangkatnya kepada-Nya. Al-Qur’an menegaskan bahwa mereka tidak membunuh dan tidak menyalibnya. (QS. An-Nisa: 157–158)
Dari kisah-kisah itu kita belajar sesuatu yang sangat dalam.
Pertolongan Allah tidak selalu berbentuk hilangnya masalah.
Kadang masalah tetap ada, tetapi Allah memberi kita kekuatan untuk menghadapinya.
Kadang jalan tidak dibuat menjadi mudah, tetapi hati kita dibuat menjadi lebih kuat.
Kadang pintu tidak langsung dibuka, tetapi Allah memberi kesabaran agar kita tetap mengetuk.
Dan sering kali, pertolongan Allah datang pada saat yang menurut perhitungan manusia sudah sangat terlambat.
Padahal bagi Allah, tidak pernah ada kata terlambat.
Mungkin hari ini kita sedang menghadapi kesulitan. Mungkin ada sesuatu yang belum selesai. Mungkin ada harapan yang belum terwujud. Mungkin ada doa yang terasa belum dijawab.
Jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Allah tidak mendengar.
Bisa jadi Allah sedang mempersiapkan jawaban dalam bentuk yang berbeda.
Bisa jadi Allah sedang mengubah keadaan kita.
Atau bisa jadi Allah sedang mengubah diri kita terlebih dahulu, agar kita siap menerima apa yang kelak diberikan-Nya.
Sebab hidup bukan hanya tentang mendapatkan apa yang kita inginkan.
Hidup juga tentang belajar menerima apa yang Allah tetapkan.
Rezeki mengajarkan kita bersyukur.
Takdir mengajarkan kita bersabar dan bertawakal.
Kematian mengajarkan kita bersiap dan memperbaiki diri.
Maka jangan terlalu gelisah memikirkan hari esok. Jangan pula terlalu larut menyesali hari kemarin.
Lakukan apa yang menjadi bagian kita.
Berusaha sebaik-baiknya.
Berdoa sebanyak-banyaknya.
Berbuat baik selama masih diberi kesempatan.
Dan ketika hasil akhirnya tidak sesuai dengan yang kita harapkan, percayalah bahwa Allah tidak pernah salah dalam menetapkan sesuatu.
Sebab kita hanya melihat satu halaman dari perjalanan hidup.
Sedangkan Allah mengetahui seluruh ceritanya.
Bersabarlah.
Bukan karena semua masalah pasti segera hilang.
Tetapi karena kita percaya bahwa dalam setiap kesulitan, Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.
Dan mungkin, pertolongan itu sebenarnya sudah datang.
Hanya saja, kita belum mengenali bentuknya.
Wallahu a'lam bishawab