Detail Update

Detail Update

Berbohong: Sebuah Tinjauan Moral dan Sosial

Card image cap Lie

Oleh: Djoko Iriandono*)

Berbohong: Sebuah Tinjauan Moral dan Sosial

Sejak viralnya film yang berjudul “Fina Sebelum 7 Hari”, di berbagai platform media sosial seperti Tik-Tok, YouTube, WhatsApp, Facebook dal lain sebagainya serta media mainstream baik cetak maupun elektronik dari hari ke hari tidak henti-hentinya membahas tentang kasus pembunuhan Fina dan Eky yang sudah memasukkan 8 orang terpidana pada tahun 2016 silam. 7(tujuh) orang diantaranya mendapat ganjaran pidana seumur hidup sedang 1(satu) orang mendapat ganjaran 8 tahun penjara, namun karena berkelakuan baik yang satu orang tersebut hanya menjalani kurungan selama 4 tahun sehingga tahun 2020 yang lalu yang bersangkutan telah menghirup udara bebas.

Ada orang yang menyalahkan sutradara mengapa Ia membuat film tersebut sehingga menimbulkan kegaduhan yang belum tahu kapan akan berakhir. Namun ada juga yang memuji karena dengan adanya film tersebut terdapat peluang untuk dibukanya kembali kasus Vina Cirebon yang sudah inkrah (berkekutan hukum tetap) yang oleh banyak netizen diduga adanya praktek peradilan sesat pada tahun 2016 yang lalu. Demi tegaknya keadilan, pada akhirnya para netizen dan sebagian masyarakat Indonesia menuntut kepada pihak kepolisian agar kasus  Vina Cirebon dibuka kembali.

Mengapa para netizen mendorong untuk dibukanya kasus Vina Cirebon tersebut? Hal ini disebabkan menurut para netizen keputusan yang telah diambil oleh lembaga peradilan dari barbagai tingkatan tidak didasarkan atas 2(dua) alat bukti yang syah, melainkan hanya berdasarkan “Keterangan Bohong” dari para saksi dan pihak-pihak lain yang pada akhirnya merugikan orang-orang yang saat ini menjadi terpidana atau bahkan kepada orang yang saat ini didakwa sebagai DPO yang baru ditangkap. Para netizen menduga bahwa para terpidana seumur hidup dan DPO yang berhasil ditangkap tersebut belum tentu benar-benar bersalah.

Berbohong sebenarnya tidak hanya merugikan orang lain, tetapi juga akan merugikan diri sendiri dan keluarga terdekatnya. Berbohong adalah tindakan menyampaikan informasi yang tidak benar dengan tujuan untuk menipu atau mengelabui orang lain. Meskipun sering kali dianggap sebagai perilaku negatif, berbohong adalah fenomena yang kompleks dan memiliki dampak yang luas dalam kehidupan sosial dan moral manusia. Dalam esai ini, Penulis tidak akan memaparkan siapa saja yang berbohong dalam kasus Vina Cirebon tersebut, tetapi akan mencoba mengeksplorasi alasan-alasan mengapa orang berbohong, konsekuensi dari berbohong, serta perspektif moral dan sosial mengenai kejujuran dan kebohongan.

Alasan-Alasan Berbohong

Orang berbohong karena berbagai alasan, yang bisa bersifat pribadi maupun sosial. Salah satu alasan paling umum adalah untuk menghindari hukuman atau konsekuensi negatif. Misalnya, seorang anak mungkin berbohong kepada orang tuanya untuk menghindari hukuman karena melakukan sesuatu yang salah. Orang dewasa juga sering kali berbohong untuk melindungi diri mereka sendiri dari situasi yang tidak menguntungkan, seperti kehilangan pekerjaan atau merusak hubungan.

Selain itu, berbohong juga dapat digunakan untuk melindungi perasaan orang lain. Ini sering disebut sebagai "white lies" atau kebohongan putih, di mana seseorang berbohong untuk menghindari menyakiti perasaan orang lain. Misalnya, seseorang mungkin mengatakan bahwa mereka menyukai hadiah yang diberikan oleh teman, padahal sebenarnya tidak suka, hanya untuk menghindari melukai perasaan teman tersebut.

Ada juga kebohongan yang bertujuan untuk memperoleh keuntungan pribadi atau material. Ini termasuk kebohongan yang dilakukan dalam bisnis atau politik untuk mendapatkan keuntungan finansial atau kekuasaan. Tindakan ini biasanya memiliki dampak yang lebih serius karena melibatkan penipuan yang dapat merugikan orang lain secara signifikan.

Selanjutnya ada orang yang berbohong karena terpaksa. Dia terpaksa mengakui perbuatan yang tidak dilakukan (berbohong) karena mendapat ancaman, siksaan dan berbagai tindakan kekerasan baik fisik maupun psikis. Dalam pengadilan biasanya pengakuan yang terpaksa ini (bohong) seorang terdakwa yang tertulis di BAP akan dianggap sebagai kebenaran, apalagi hal itu diucapkan dibawah sumpah.

Konsekuensi Berbohong

Berbohong memiliki berbagai konsekuensi, baik untuk individu yang berbohong maupun untuk orang-orang di sekitarnya. Secara pribadi, kebohongan dapat menyebabkan perasaan bersalah dan stres. Menjaga kebohongan agar tetap tersembunyi memerlukan upaya yang besar dan dapat menyebabkan kecemasan serta ketegangan mental. Dalam jangka panjang, ini dapat berdampak buruk pada kesehatan mental seseorang.

Secara sosial, berbohong dapat merusak hubungan dan kepercayaan. Ketika seseorang mengetahui bahwa mereka telah dibohongi, rasa percaya terhadap orang yang berbohong akan menurun atau bahkan hilang sama sekali. Kepercayaan adalah fondasi dari hubungan yang sehat, baik itu dalam keluarga, persahabatan, maupun hubungan profesional. Kehilangan kepercayaan dapat menyebabkan keretakan hubungan yang sulit untuk diperbaiki.

Dalam skala yang lebih luas, budaya berbohong dapat merusak integritas dan moralitas masyarakat. Jika kebohongan menjadi hal yang biasa, maka nilai-nilai kejujuran dan integritas akan terdegradasi. Hal ini dapat mengakibatkan ketidakpercayaan umum terhadap institusi sosial, seperti pemerintahan, sistem hukum, dan media. Ketika masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap institusi-institusi ini, stabilitas sosial dan kemajuan kolektif menjadi terancam.

Perspektif Moral dan Etika

Secara moral, berbohong sering kali dianggap salah karena melanggar prinsip kejujuran dan integritas. Berbagai tradisi moral dan agama menekankan pentingnya kejujuran sebagai nilai fundamental. Misalnya, dalam ajaran agama Islam, berbohong adalah dosa besar, dan kejujuran dianggap sebagai cerminan dari iman yang kuat. Demikian pula, dalam agama Kristen, salah satu dari Sepuluh Perintah Tuhan adalah "Jangan mengucapkan saksi dusta," yang menunjukkan pentingnya kejujuran.

Dari perspektif filsafat moral, ada berbagai pandangan tentang kebohongan. Immanuel Kant, seorang filsuf Jerman, berpendapat bahwa berbohong selalu salah, terlepas dari konsekuensinya. Menurut Kant, kejujuran adalah kewajiban moral absolut. Sebaliknya, filsuf utilitarian seperti John Stuart Mill mungkin berargumen bahwa kebohongan dapat dibenarkan jika menghasilkan kebaikan yang lebih besar bagi lebih banyak orang. Pendekatan ini lebih pragmatis dan mempertimbangkan hasil akhir dari tindakan berbohong.

Kesimpulan

Berbohong adalah fenomena yang kompleks dengan dampak yang luas dalam kehidupan pribadi, sosial, dan moral manusia. Meskipun orang mungkin berbohong dengan alasan yang berbeda-beda, konsekuensi dari kebohongan hampir selalu merugikan. Berbohong dapat merusak hubungan, mengikis kepercayaan, dan melemahkan nilai-nilai moral dalam masyarakat. Oleh karena itu, penting bagi individu dan masyarakat untuk menghargai dan menekankan pentingnya kejujuran. Dengan mempromosikan kejujuran dan integritas, kita dapat membangun masyarakat yang lebih sehat, lebih percaya, dan lebih adil.


*) Admin