makan bersama
Gambar diambil dari : https://food.detik.com/info-kuliner/d-5750323/sering-main-hp-saat-makan-begini-menurut-pandangan-islam
Oleh: Djoko Iriandono, S.E., M.A.*)
Pada masa lampau sampai pada akhir tahun ’90-an kita sering mendengar pepatah yang mengatakan “Mulutmu, Harimaumu” yaitu yang berarti bahwa perkataan bisa menjadi “senjata tajam” dan jika tidak dijaga akan dapat menyakiti orang lain dan diri kita sendiri. Pepatah ini masih cukup relevan sampai saat ini, namun dengan seiring kemajuan teknologi dimana media sosial menjadi gaya hidup maka pepatah tersebut berkembang menjadi “Jemari tanganmu, Harimaumu” yang mempunyai arti kurang lebih sama dengan pepatah sebelumnya dan yang berbeda hanya konteksnya saja.
Di era sekarang hampir semua orang (mulai dari anak usia sekolah sampai kakek/nenek) memiliki Hand Phone (HP). Dalam era digital yang terus berkembang seperti sekarang ini, sosial media dengan segala bentuk platformnya telah menjadi model/gaya hidup dari sebagian besar umat manusia di seluruh penjuru dunia. Platform-platform ini meliputi: Facebook, Instragram, telegram, YouTube, LinkIn, Tik Tok, SnapChat, Pinterest, Twiter dan reddit dan kesemuanya hanya tinggal sentuh dengan jari jemari di layar HP.
Semua platform tersebut di atas memberikan kemampuan bagi setiap orang untuk berhubungan dengan orang-orang dari berbagai belahan dunia. Mereka dapat saling berbagi pikiran dan ide/gagasan serta dapat mengakses beragam informasi dari berbagai sumber dengan cepat. Namun disadari ataupun tidak, sosial media juga menimbulkan banyak masalah. Oleh karena itu, sangat penting bagi pengguna sosial media untuk bijak dalam menggunakan dan berinteraksi dengan orang lain.
Dalam esai ini, Penulis akan mencoba menjelaskan mengapa bersikap bijak dalam bersosial media itu penting? Selain itu juga akan Penulis uraikan beberapa prinsip yang dapat membantu para pengguna sosial media dalam menjaga keseimbangan serta dampak positif yang ditimbulkan dan beberapa dampak negatifnya ketika penggunaan sosial media yang tidak didasari dengan pemahaman yang cukup akan pentingnya bersikap bijak.
Disadari atau tidak para pengguna sosial media akan terpengaruhi pikiran, emosi, dan segala tindakannya. Ketika pengguna sosial media tidak memiliki pengetahuan dan kesadaran yang cukup, maka akan dapat terperangkap dalam siklus informasi yang tidak sehat dan akibatnya akan merasa cemas atau tidak berharga karena perbandingan sosial. Oleh karena itu, penting bagi para pengguna sosial media untuk menyadari dampak sosial media dan bertindak dengan bijak dalam menghadapinya.
Pada akhir-akhir ini banyak pengguna sosial media yang masuk ke pengadilan karena dianggap melanggar undang-undang transaksi elektronik. Hal ini ditengarahi karena banyaknya para pengguna sosial media yang tidak memiliki pemahaman yang cukup tentang mana konten yang boleh dibagikan dan mana yang tidak. Sebelum membagikan sesuatu, seharusnya para pengguna sosial media perlu memikirkan apakah konten tersebut bermanfaat, akurat, dan tidak merugikan orang lain. Para pengguna sosial media harus mengutamakan kebenaran dan menjaga integritas informasi agar dapat membantu terciptanya lingkungan sosial media yang lebih sehat dan dapat dipercaya. Terkadang informasi yang akurat saja masih dipermasalahkan orang, apalagi kalau informasi yang kita bagikan itu berupa hoaks.
Hadirnya informasi yang cepat dari seluruh platform sosial media ke hadapan pengguna sosial media dapat mengaburkan kebenaran informasi itu sendiri sehingga membuat para pengguna sulit untuk membedakan antara fakta dan opini, kebenaran atau kebohongan. Oleh karena itu, penting bagi kita semua para pengguna sosial media untuk mengembangkan keterampilan kritis dalam mengevaluasi informasi yang berasal dari sosial media.
Patut untuk diingat bahwa sebelum menyebarkan suatu informasi yang diterima, pengguna sosial media perlu tabayun atau memeriksa sumbernya, membandingkan dengan sumber yang lain, dan mempertimbangkan konteks serta motivasi di balik informasi tersebut. Dengan menjadi kritis terhadap informasi, Penulis yakin para pengguna sosial media akan dapat menghindari penyebaran hoaks dan kontribusi terhadap peredaran informasi yang salah.
Salah satu kelebihan sosial media adalah kemampuan untuk berinteraksi dengan banyak orang dalam satu waktu. Namun, terkadang antusiasme dalam bersosial media, sering melupakan perasaan dan perspektif orang lain. Sebagai contoh, misalnya kita baru saja masuk ke restoran yang mahal dan dihadapan kita telah tersaji berbagai makanan yang lezat. Tanpa berfikir macam-macam umumnya kita langsung saja merekam (video atau foto) kegiatan makan-makan tersebut dan selanjutnya kita bagikan ke facebook, istagram atau media lainnya. Pernahkah kita berfikir bahwa di luar sana banyak orang yang belum atau bahkan tidak pernah makan enak di restoran? Hal ini bisa menimbulkan tafsir yang macam-macam dan pada akhirnya bisa menimbulkan masalah sosial bahkan masalah hukum.
Oleh karena itu, penting bagi kita (para pengguna sosial media) untuk lebih bijak cara berkomunikasi dengan penuh empati di sosial media. Mendengarkan dengan baik, menghargai perbedaan pendapat, dan menghindari komentar atau perilaku yang menyakiti dapat menciptakan lingkungan sosial yang lebih inklusif dan mendukung.
Sosial media dapat menjadi ladang yang tidak terbatas, menghabiskan waktu kita tanpa sadar. Terlalu banyak terlibat dalam sosial media dapat mengganggu produktivitas, kesehatan fisik terutama mata, kesehatan mental, dan interaksi sosial yang nyata. Sering kita perhatikan dengan aktifnya seseorang di berbagai platform sosial media pada akhirnya dapat mendekatkan orang yang jauh tetapi menjauhkan orang yang dekat.
Anda mungkin akan menyangkal kalau penulis katakan bahwa terhitung sejak revolusi industi ke satu sampai ke 4 ini, kemajuan teknologi yang paling dahsyat adalah dengan ditemukannya alat komunikasi berupa Mobile Phone atau Hand Phone. Dengan ditemukan HP, banyak produk lain yang terbunuh alias mati karena fungsinya tergantikan oleh HP ini. Sebut saja Radio, Koran, Televisi, Camera dan masih banyak lagi. Celakanya HP ini juga membunuh kemesraan dalam keluarga. Biasanya setidaknya pada acara makan malam seluruh anggota keluarga bercengkerama sambil makan. Tetapi sekarang mereka semua diam, mulut mereka mengunyah makanan tetapi mata mereka menatap HP masing-masing sambil sesekali tersenyum karena melihat konten sosial media yang dibaca atau dilihatnya.
Jika Anda tidak ingin kehilangan kehangatan dan momen penting di keluarga maka bijaklah dalam mengatur waktu dan batasan dalam penggunaan sosial media. Menentukan jadwal dan membatasi waktu yang dihabiskan di platform tersebut karena hal ini akan dapat membantu menjaga keseimbangan antara dunia virtual dan kehidupan sehari-hari.
Selanjutnya, ketika berada di dunia sosial media, penting bagi kita untuk menjaga privasi dan keamanan pribadi. Informasi pribadi yang kita bagikan di sosial media dapat digunakan dengan berbagai cara, baik oleh pihak yang memiliki niat baik maupun jahat. Oleh karena itu, bijaklah dalam memilih informasi yang ingin dibagikan dan periksa pengaturan privasi di akun sosial media kita. Penting untuk menghindari membagikan informasi yang sensitif atau pribadi kepada publik yang luas. Selain itu, penting juga untuk memperbarui dan menggunakan kata sandi yang kuat serta melindungi akun sosial media kita dari serangan atau penyalahgunaan. Apalagi sekarang banyak penjahat yang berusaha membajak akun kita yang kemudian dipergunakan untuk kepentingan jahat seperti membagikan video porno, meminta uang atas nama kita atau bahkan menyebarkan file program malware (merupakan perangkat lunak yang bekerja dengan memasuki komputer tanpa perizinan serta dapat menyebabkan kerusakan pada sistem) untuk mencuri data perbankan kemudian menguras seluruh saldo uang kita di bank. Maka hati-hatilah.
Lebih jauh, sosial media sering kali menjadi tempat diskusi dan perdebatan yang sengit. Dalam menghadapi konten yang mungkin menyebabkan emosi atau reaksi negatif, penting bagi kita untuk menjaga keseimbangan emosional dan mengelola respon kita dengan baik. Hindari terjebak dalam spiral negatif di komentar atau membalas dengan kemarahan dan kebencian. Sebaliknya, berusahalah untuk tetap tenang, berdialog dengan cara yang konstruktif, dan menghargai pendapat orang lain. Dengan melakukan hal ini, kita dapat membangun lingkungan sosial media yang lebih damai dan saling menghormati.
Akhirnya perlu Penulis tekankan di sini bahwa sosial media memiliki daya tarik yang kuat dan dapat menyebabkan kecanduan. Anda akan merasa terus menerus perlu untuk memeriksa notifikasi atau menghabiskan waktu yang berlebihan di platform sosial media dan hal ini akan dapat mengganggu keseimbangan kehidupan kita. Penting bagi kita untuk menyadari kecenderungan kecanduan ini sangat berbahaya dan kita harus punya tekad yang kuat untuk mengambil langkah-langkah dalam upaya menghindarinya. Mengatur waktu penggunaan sosial media, menentukan batasan, dan mencari kegiatan alternatif di luar dunia digital dapat membantu kita untuk memiliki kehidupan yang seimbang dan lebih produktif.
Dalam dunia sosial media yang semakin kompleks dan serba cepat, bijaklah dalam bersosial media menjadi prinsip yang tidak boleh diabaikan. Dengan menjaga privasi dan keamanan, mengelola emosi dan reaksi, serta menghindari kecanduan, kita dapat mengoptimalkan manfaat sosial media tanpa mengorbankan kesejahteraan kita. Dalam menjalani kehidupan digital, penting bagi kita untuk selalu mengingat bahwa kita memiliki kendali atas bagaimana kita menggunakan dan berinteraksi dengan sosial media. Dengan mengamalkan kesadaran dan kebijaksanaan, kita dapat memanfaatkan potensi positif sosial media dan menciptakan pengalaman yang bermanfaat dan membangun bagi diri kita sendiri dan juga komunitas sosial media yang lebih luas.
Sebagai penutup sekali lagi Penulis ingin mengingatkan baik untuk diri Penulis sendiri atau kepada seluruh pembaca bahwa sosial media memiliki potensi besar untuk mempengaruhi kehidupan kita, baik secara positif maupun negatif. Dalam hal ini, bijaklah dalam bersosial media. Dengan kesadaran ini maka sebelum kita berbagi segala sesuatu di sosial media kita akan selalu mempertimbangkan secara kritis informasi baik yang berupa tulisan, foto maupun video dengan empati. Kita harus mampu mengatur waktu dengan bijak sehingga kita dapat menciptakan pengalaman sosial media yang bermakna, membangun hubungan yang positif, serta menjaga keseimbangan dalam kehidupan digital dan kehidupan nyata. Dengan demikian, mari kita menjadi pengguna sosial media yang bijak untuk kebaikan diri sendiri dan juga masyarakat luas.
*) Kasi Kominfo BPIC Kaltim.