Ayah Irwan
“Menuntun, Bukan Menuntut”: Parenting Islamic Center Kaltim Ajak Orang Tua Menjadi Teladan bagi Anak
SAMARINDA – Yayasan Baitul Muttaqien Islamic Center Kalimantan Timur menggelar kegiatan parenting bagi orang tua peserta didik TPA, TPQ, Kelompok Bermain (KB), TK, SD, dan SMP Islamic Center Kalimantan Timur, Jumat (31/7/2026). Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.30 hingga 11.30 WITA tersebut diikuti sekitar 800 peserta, terdiri atas orang tua murid, kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, unsur yayasan, serta pihak terkait lainnya di gedung pertemuan Islamic Center Kalimantan Timur.
Mengangkat tema “Menuntun, Bukan Menuntut: dari Sekadar Kata, Menjadi Teladan”, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Yayasan Baitul Muttaqien Islamic Center Kalimantan Timur untuk memperkuat sinergi antara keluarga dan lembaga pendidikan dalam mendampingi tumbuh kembang anak.
Tema tersebut sekaligus mengingatkan bahwa pendidikan anak tidak cukup dilakukan melalui nasihat, perintah, maupun tuntutan. Anak justru lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat dan rasakan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, keteladanan orang tua dan pendidik menjadi salah satu kunci penting dalam pembentukan karakter anak.
Ayah Irwan Ajak Orang Tua Mengubah Cara Mendidik
Hadir sebagai narasumber utama Ayah Irwan, praktisi dan penulis buku parenting yang lahir di kota Payakumbuh, Sumatera Barat dan kini tinggal di Jakarta. Selama kurang lebih 90 menit, Ayah Irwan menyampaikan berbagai pandangan dan pengalaman tentang bagaimana orang tua seharusnya menempatkan diri dalam proses pendidikan anak.
Materi yang disampaikan mendapat perhatian besar dari peserta. Ratusan orang tua tampak antusias mengikuti pemaparan hingga selesai. Suasana semakin hidup ketika memasuki sesi tanya jawab. Berbagai persoalan yang dihadapi orang tua dalam mendampingi anak menjadi bahan diskusi bersama narasumber.
Pesan penting yang mengemuka adalah perlunya perubahan paradigma dalam mendidik anak: dari banyak menuntut menjadi lebih banyak menuntun, dari sekadar memberi perintah menjadi memberi contoh, dan dari hanya mengharapkan perubahan pada anak menjadi berani memulai perubahan dari diri orang tua sendiri.
Sebab, pendidikan sesungguhnya tidak hanya berlangsung ketika orang tua sedang memberikan nasihat. Cara orang tua berbicara, memperlakukan pasangan, mengendalikan emosi, menjalankan ibadah, menggunakan telepon genggam, menghargai waktu, hingga bersikap kepada orang lain, semuanya dapat menjadi “pelajaran hidup” yang diam-diam direkam oleh anak.
Pendidikan Anak Membutuhkan Kemitraan
Kegiatan parenting ini juga memiliki arti penting bagi Islamic Center Kalimantan Timur karena menghadirkan orang tua peserta didik dari berbagai jenjang pendidikan dalam satu forum, mulai TPA dan TPQ hingga SMP.
Hal tersebut menunjukkan bahwa mendidik anak merupakan proses panjang yang membutuhkan kesinambungan antara pendidikan di rumah dan di sekolah. Sekolah tidak mungkin bekerja sendiri dalam membangun karakter peserta didik. Demikian pula orang tua membutuhkan dukungan sekolah dan para pendidik dalam menghadapi berbagai tantangan perkembangan anak.
Karena itu, hubungan sekolah dan keluarga perlu dibangun sebagai sebuah kemitraan pendidikan. Apa yang ditanamkan di sekolah seyogianya mendapatkan penguatan di rumah. Sebaliknya, nilai-nilai baik yang telah dibiasakan dalam keluarga perlu terus dipelihara dan dikembangkan di lingkungan sekolah.
Terlebih di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi saat ini, anak menghadapi lingkungan pendidikan yang jauh lebih kompleks. Mereka tidak hanya belajar dari orang tua dan guru, tetapi juga dari media sosial, internet, teman sebaya, serta berbagai konten digital yang hadir hampir tanpa batas.
Dalam kondisi seperti itu, peran orang tua tidak cukup hanya sebagai pengawas, melainkan harus menjadi pendamping, penuntun, sekaligus teladan.
Keteladanan Menjadi Inti Pendidikan
Tema “Menuntun, Bukan Menuntut” menjadi refleksi penting bagi orang tua maupun pendidik. Tidak jarang orang dewasa memiliki harapan yang sangat tinggi terhadap anak. Anak diminta disiplin, rajin belajar, santun dalam berbicara, rajin beribadah, tidak berlebihan menggunakan gawai, serta mampu mengendalikan diri.
Namun pertanyaan yang tidak kalah penting adalah: sudahkah orang dewasa memberikan contoh terhadap apa yang dituntut dari anak?
Di sinilah keteladanan mendapatkan tempat yang sangat penting dalam pendidikan. Anak mungkin tidak selalu mengingat semua nasihat yang disampaikan orang tuanya, tetapi mereka akan lebih mudah mengingat apa yang setiap hari mereka saksikan.
Semangat tersebut sejalan dengan firman Allah SWT:
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu....”
(QS. Al-Ahzab: 21)
Ayat tersebut mengingatkan bahwa salah satu metode pendidikan yang paling kuat adalah uswah hasanah, yakni pendidikan melalui keteladanan.
Antusiasme Peserta hingga Akhir Acara
Berdasarkan susunan kegiatan, acara diawali dengan pembukaan, pembacaan basmalah, tilawah Al-Qur'an, doa, menyanyikan lagu Indonesia Raya, serta sambutan dari UPT Diklat BPIC. Selanjutnya peserta mengikuti sesi utama parenting bersama Ayah Irwan dan sesi tanya jawab.
Rangkaian kegiatan juga diisi dengan perkenalan Damai Aqsa (DA), pemutaran video, kegiatan komitmen dan donasi, pengumuman total donasi, serta penyerahan cenderamata kepada Ayah Irwan dan Damai Aqsa. Acara kemudian ditutup dan diakhiri dengan foto bersama.
Antusiasme peserta yang bertahan mengikuti kegiatan hingga selesai menjadi gambaran bahwa persoalan pengasuhan dan pendidikan anak merupakan kebutuhan penting bagi para orang tua.
Melalui kegiatan seperti ini, Yayasan Baitul Muttaqien Islamic Center Kalimantan Timur berharap komunikasi dan kolaborasi antara orang tua, guru, sekolah, dan yayasan semakin kuat.
Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak semata-mata diukur dari seberapa tinggi nilai akademik seorang anak. Pendidikan juga harus mampu melahirkan generasi yang memiliki iman, akhlak, kemandirian, tanggung jawab, dan kemampuan menghadapi kehidupan.
Dan semuanya bermula dari lingkungan terdekat anak: keluarga dan sekolah.
Karena anak tidak hanya membutuhkan orang dewasa yang pandai mengatakan apa yang harus mereka lakukan. Mereka membutuhkan orang tua dan pendidik yang bersedia berjalan di sampingnya, menunjukkan arah, memberi ruang untuk bertumbuh, dan menghadirkan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Sebab mendidik bukan sekadar menuntut anak menjadi baik, tetapi menuntun mereka menuju kebaikan melalui keteladanan.
“Anak tidak memerlukan orang tua yang sempurna. Melainkan memerlukan orang tua yang senantiasa mau memperbaiki dirinya sendiri sehingga patut diteladani.”
By. Kominfo BPIC Kaltim