Post Power Syndrome
Gambar diambil dari :https://lifestyle.okezone.com/
Oleh: Djoko Iriandono, S.E., M.A.*)
Sejak zaman dahulu kala sampai saat ini banyak orang yang memimpikan untuk memiliki kekuasaan, karena dengan kekuasaan dalam genggamannya mereka akan merasa memiliki pengaruh yang kuat terhadap orang lain. Selain itu banyak diantara mereka yang beranggapan bahwa kekuasan adalah sumber kepuasan. Itulah sebabnya banyak orang yang berupaya dengan berbagai macam cara untuk mendapatkan kekuasaan itu.
Besar atau kecil kekuasaan yang pernah dimiliki oleh sesorang, ketika kekuasaan itu pergi meninggalkan orang tersebut maka akan menimbulkan dampak negatif, yaitu apa yang disebut dengan “Post Power Syndrome”. Fenomena ini merujuk pada dampak psikologis yang dialami oleh seseorang setelah hilangnya kekuasaan dari genggamannya. Dalam essai ini, Penulis akan mencoba menelusuri lebih dalam mengenai Post Power Syndrome dan efeknya terhadap kehidupan seseorang.
Dalam kehidupan sehari-hari Anda pasti pernah mendengar dan bahkan mungkin bertemu secara langsung dengan seseorang yang sudah pensiun tetapi cara berbicara, bersikap dan berperilakunya seolah-olah masih menduduki sebuah jabatan. Inilah yang disebut dengan istilah Post Power Syndrome. Orang seperti ini hidup dalam bayang bayang masa lalunya yang penuh dengan penghargaan dan penghormatan dari orang lain karena jabatannya.
Post Power Syndrome dapat dikatakann sebagai suatu kondisi mental seseorang yang timbul akibat dari hilangnya kekuasaan yang diikuti dengan adanya perubahan yang signifikan seperti pengaruh dan kendali terhadap orang lain yang dahulu dimilikinya. Ketika seseorang terbiasa dengan kekuasaan dan pengaruh yang besar, kemudian kekuasaan itu hilang begitu saja seiring dengan masuknya masa pensiun maka hal ini dapat menjadi pengalaman yang menghancurkan psikologis orang tersebut.
Post Power Syndrome mempunyai dampak negatif yang patut diwaspadai. Salah satu dampak yang paling nyata adalah perasaan kehilangan identitas diri. Seseorang bisa lebih terpuruk dalam menapaki hari-hari di masa pensiun jika sebelumnya ia memiliki kekuasaan yang tinggi dan sangat menikmati kekuasaan tersebut karena kekuasaan yang berada dalam genggamannya memberikan rasa keberhasilan, kepuasan, dan kebanggaan yang mendalam. Namun, ketika kekuasaan diambil darinya, dia merasa kehilangan arah dan identitas. Dia mungkin merasa dirinya tidak lagi memiliki nilai yang sama atau bahkan meragukan keberhasilan dan kemampuan dirinya yang sebenarnya.
Dampak negatif lainnya dari Post Power Syndrome adalah perasaan kesepian. Selain itu juga munculnya perasaan terisolasi atau dikucilkan oleh orang lain. Dahulu ketika seseorang memiliki jabatan dan kekuasaan, dia sering dikelilingi oleh orang-orang yang mungkin berusaha mendapatkan manfaat dari hubungan diantara mereka. Namun, setelah pensiun kekuasaan telah pergi meninggalkannya dan begitu juga dengan orang-orang yang dahulu selalu mengelilinginya. Orang-orang yang dahulu berada di sekitarnya mungkin sekarang sibuk melayani pimpinannya yang baru atau bahkan mungkin tidak lagi begitu tertarik kepadanya. Rasa isolasi dan kesepian ini dapat memperburuk kondisi mental seseorang yang terkena Post Power Syndrome.
Tidak hanya itu, Post Power Syndrome juga dapat memicu terjadinya depresi, kecemasan, dan stres yang berkepanjangan. Jika tidak ditangani dengan baik, dampak-dampak negatif ini akan dapat memperburuk kondisi mental dan fisik seseorang dan bahkan mungkin mengarah pada gangguan mental yang lebih serius.
Dalam mengatasi Post Power Syndrome, penting bagi individu yang terkena dampaknya untuk melakukan beberapa langkah yang dapat membantu pemulihan mereka. Berikut adalah beberapa saran yang dapat dipertimbangkan:
Langkah pertama adalah menerima perubahan yang terjadi. Mengakui bahwa kehilangan kekuasaan adalah bagian dari kehidupan yang terjadi secara alami dan bahwa identitas seseorang tidak terbatas pada posisi atau jabatan yang mereka miliki. Penting untuk memfokuskan perhatian pada hal-hal lain yang memberikan makna dan kebahagiaan dalam kehidupan, seperti hubungan pribadi, minat dan hobi, serta pengembangan diri.
Selanjutnya penting untuk berusaha mencari dukungan sosial dari orang-orang terdekat, baik teman, keluarga, atau mantan rekan kerja yang dipercaya. Berbicara tentang perasaan dan pengalaman dengan mereka akan dapat membantu mengurangi perasaan isolasi dan kesepian yang terjadi akibat post power syndrome. Mereka dapat memberikan perspektif baru dan dukungan emosional, serta membantu menemukan kembali kekuatan dan nilai-nilai yang mendasari kehidupan.
Setelah kehilangan kekuasaan, kita dapat mencari cara untuk mengembangkan identitas baru yang tidak tergantung pada jabatan atau posisi. Ini melibatkan penggalian nilai-nilai inti, minat, dan tujuan hidup yang lebih dalam. Melalui eksplorasi diri yang jujur dan refleksi mendalam, individu dapat menemukan sumber kekuatan dan makna baru yang dapat membantu mereka melanjutkan kehidupan dengan keyakinan dan optimisme.
Penting bagi individu yang terkena dampak Post Power Syndrome untuk menjaga keseimbangan dalam hidup mereka. Fokus pada kesehatan fisik dan mental adalah hal yang sangat penting. Melakukan kegiatan fisik teratur, seperti olahraga atau yoga, dapat membantu mengurangi stres dan meningkatkan kesejahteraan secara keseluruhan. Selain itu, menjaga pola tidur yang sehat, mengelola stres melalui teknik relaksasi, dan menjaga pola makan yang seimbang juga dapat berkontribusi pada pemulihan yang lebih baik.
Jika individu mengalami kesulitan yang parah atau gejala yang berkepanjangan, sangat penting untuk mencari bantuan dari profesional kesehatan mental. Terapis atau konselor yang terlatih dapat membantu individu menjelajahi dan memahami perubahan emosional yang terjadi, menawarkan strategi koping yang efektif, dan membantu mereka membangun kembali kepercayaan diri dan keseimbangan hidup.
Post Power Syndrome memiliki dampak yang cukup serius. Namun kita tidak perlu terlalu kawatir karena dampak psikologis yang muncul setelah hilangnya kekuasaan dapat kita atasi. Proses pemulihan terhadap post power syndrome ini memerlukan dukungan keluarga, kerabat dan teman atau profesional kesehatan mental untuk konseling guna menjelajahi dan memahami perubahan emosional yang terjadi serta mengembangkan kembali identitas dan tujuan hidup.
Dalam kesimpulannya, Post Power Syndrome adalah fenomena psikologis yang nyata dan signifikan yang terjadi pada banyak individu setelah mengalami atau kehilangan posisi kekuasaan yang penting. Dampaknya dapat meliputi kehilangan identitas, perasaan isolasi dan kesepian, serta penurunan kesehatan mental. Penting bagi kita untuk memahami dan memberikan dukungan kepada individu yang terkena dampaknya, dan untuk menciptakan lingkungan yang mempromosikan keseimbangan dan kesejahteraan baik ketika memiliki kekuasaan maupun setelah kehilangan kekuasaan.
*) Kasi Kominfo BPIC Kaltim