Guru Jaman Dahulu dan Sekarang
Oleh: Djoko Iriandono*)
“Bu, Andi sudah datang. Dia lagi menunggu di ruang tamu”, kata Lina kepada Bu Ratna. Sambil menghela napas Bu Ratna menjawab: “Lina, ibu sebenarnya sudah seminggu yang lalu mau bicara soal hubunganmu dengan Andi. “Mau bicara soal apa bu?”, kata Lina menimpali ibunya.
Dengan sedikit terdengar agak bergetar Bu Ratna mengatakan “Ibu nggak yakin dia itu pasangan yang tepat untuk kamu”. Kenapa bu? Kata Lina sambil sedikit memicingkan matanya. Andi itu orangnya tampan, baik, sopan dan dia tulus sama Lina.
Iya, ibu tahu. Tapi Lina, Andi itu cuma seorang guru. Kamu tahu sendiri, gaji guru nggak seberapa. Gimana kalian mau hidup enak nanti? Kata Bu Ratna.
Bu, kenapa Ibu pikir soal gaji itu segalanya? Andi itu pekerja keras, dan Lina nggak peduli soal uang. Yang penting dia cinta sama Lina, dan Lina cinta sama dia, kata Lina sambil bersungut-sungut.
Lina, tampan dan cinta saja nggak cukup. Nanti kalau kamu sudah menikah, kamu bakal tahu beratnya hidup. Apalagi jika sudah mempunyai anak. Anakmu perlu minum susu, bukan minum cinta suamimu. Apa kamu mau hidup pas-pasan selamanya? Kata Bu Ratna dengan nada suara yang agak meninggi.
Lina nggak pernah pikir Andi itu kekurangan, Bu. Justru Lina bangga dia jadi guru. Dia mendidik generasi bangsa! Apa itu nggak cukup buat Ibu? Dengan sedikit terisak menahan tangis Lina mencoba meyakinkan ibunya.
Ibu sangat menyayangimu. Ibu cuma nggak mau kamu menyesal nantinya. Kamu masih punya banyak pilihan. Cari yang lebih mapan. Kamu ini cantik dan berpendidikan. Banyak pegawai yang mempunyai masa depan di luar sana. Ada pegawai bank, ada pegawai kantor gubernur, ada pegawai pertamina ada pengusaha kayu dan masih banyak lagi orang yang berprofesi menjanjikan untuk hidup layak di masa depan. Tetapi mengapa justru kamu memilih seorang guru yang masa depannya tidak jelas. Kata Bu Ratna dengan suara yang semakin meninggi.
Andi, yang sejak tadi duduk di ruang tamu, mendengar percakapan ini. Wajahnya yang sebelumnya terlihat sejuk dan tenang tiba-tiba berubah memerah. Ia merasa tersinggung, merasa dirinya direndahkan namun demikian mencoba tetap tenang. Ia berdiri perlahan, melirik ke arah pintu, dan memutuskan untuk pergi tanpa pamit.
Sementara itu Lina yang masih berada di ruang keluarga mencoba mendekati Bu Ratna sambil berbisik “Bu, kalau bicara jangan keras keras, nanti Andi mendengar”. Lalu Lina melanjutkan, “Kenapa sih Ibu nggak bisa lihat apa yang Lina lihat pada diri Andi? Dia itu tulus mencintai Lina, dan lagipula orangnya gigih berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Terbukti selain sebagai guru di sekolah negeri, dia juga menghonor di beberapa sekolah swasta. Apa itu nggak cukup?”
Lina tiba-tiba mendengar pintu depan ditutup. Ia segera sadar bahwa Andi mendengar semuanya. Dengan wajah sedikit pucat Lina bergegas ke ruang tamu untuk melihat Andi, kekasihnya. Andi! Tunggu!!!!. “Bu, dia pergi”, kata Lina kepada ibunya.
Bu Ratna terkejut. “Apa dia mendengar pembicaraan kita?” Sahutnya. Lina berlari ke pintu, tapi Andi sudah tidak terlihat lagi. Ia berdiri di teras dengan mata berkaca-kaca sambil berucap lirih “Andi... maafkan Lina, maafkan ibu Lina”.
Di ruang keluarga melihat anaknya bersedih, Bu Ratna tampak merasa bersalah tetapi tetap keras kepala. Sementara itu, di luar, Lina hanya bisa berharap Andi akan memberi kesempatan untuk menjelaskan perasaannya.
Cerita di atas adalah kisah nyata yang pernah dialami oleh seorang rekan yang diangkat sebagai guru pada tahun 1980-an. Mendengar cerita tersebut Penulis sangat yakin bahwa banyak bapak guru yang diangkat menjadi PNS pada era tersebut yang mengalami perlakuan yang relatif sama.
Pada era tahun 1970 sampai tahun 1990-an di negara kita profesi guru tidak dianggap menarik oleh sebagian besar masyarakat. Gaji yang kecil menjadi salah satu alasan utama mengapa banyak orang enggan memilih profesi ini. Kondisi finansial guru yang minim seringkali membuat mereka harus mencari pekerjaan tambahan untuk mencukupi kebutuhan hidup. Ada yang menjadi tukang ojek, ada yang berjualan di pasar malam dan bahkan ada juga yang mencari barang rongsokan untuk dijual kembali.
Akibatnya pada masa-masa itu, profesi guru lebih banyak diisi oleh dua kelompok orang:
Kedua kondisi tersebut di atas menciptakan tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan pada era 1980-an. Meskipun banyak guru yang berdedikasi tinggi, keterbatasan ekonomi dan fasilitas pendidikan pada saat itu seringkali menghambat proses pembelajaran. Hal ini diperparah oleh adanya orang-orang yang tidak memiliki jiwa guru dan menjadi guru karena terpaksa.
Profesi Guru Sekarang: Dari Pengabdian ke Prestise
Memasuki abad ke-21, perhatian pemerintah terhadap profesi guru mulai meningkat secara signifikan. Program sertifikasi guru, tunjangan profesi, dan berbagai kebijakan lainnya memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan guru. Gaji yang lebih layak, tunjangan tambahan, dan kesempatan pengembangan profesional membuat profesi ini semakin diminati.
Kini, menjadi guru dianggap sebagai profesi yang prestisius. Banyak orang berlomba-lomba mengikuti seleksi untuk menjadi guru, baik melalui jalur Pegawai Negeri Sipil (PNS) maupun Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Dahulu banyak yang malu untuk menyebut dirinya guru jika ditanya orang lain mengenai profesinya. Dengan tidak percaya diri banyak diantara mereka yang sambil malu-malu mengatakan “Saya Hanya Seorang Guru” begitu jawabnya ketika ditanya orang lain. Namun sekarang sangat berbeda, jika guru-guru ditanya oleh orang dengan bangga mereka mengatakan “Saya Adalah Seorang Guru”. Fenomena ini menunjukkan perubahan besar dalam pandangan masyarakat terhadap profesi guru.
Namun, dengan meningkatnya kesejahteraan, tanggung jawab guru juga semakin besar. Guru dituntut untuk tidak hanya menguasai materi pelajaran tetapi juga mampu menghadapi tantangan zaman, seperti penggunaan teknologi dalam pembelajaran dan memahami kebutuhan siswa di era digital.
Tantangan Guru di Masa Kini
Meskipun kesejahteraan guru saat ini jauh lebih baik dibandingkan masa lalu, tantangan yang dihadapi profesi ini juga semakin kompleks. Beberapa tantangan utama yang dihadapi oleh guru di era modern meliputi:
Di era digital, guru dituntut untuk menguasai teknologi sebagai bagian dari proses pembelajaran. Platform pembelajaran daring, media sosial, dan aplikasi pendidikan menjadi alat penting dalam mendukung pembelajaran yang inovatif. Namun, tidak semua guru memiliki kemampuan atau fasilitas yang memadai untuk mengikuti perkembangan ini, terutama di daerah terpencil.
Generasi saat ini, yang sering disebut sebagai Generasi Z atau Alpha, memiliki karakteristik unik. Mereka lebih kritis, cepat belajar melalui teknologi, namun juga cenderung kurang sabar dan mudah bosan. Guru harus memiliki pendekatan kreatif untuk menyesuaikan metode pengajaran dengan kebutuhan generasi ini.
Selain mengajar, guru saat ini juga dibebani dengan tugas administratif yang cukup berat. Pembuatan PMM, laporan, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), hingga evaluasi siswa seringkali menyita waktu dan energi yang seharusnya difokuskan pada proses pembelajaran.
Meningkatnya minat terhadap profesi guru juga berarti semakin ketatnya kompetisi untuk menjadi guru, terutama di instansi pemerintah. Selain itu, guru di sekolah swasta juga menghadapi tantangan persaingan dalam menjaga kualitas pendidikan agar tetap relevan di tengah persaingan global.
Harapan untuk Profesi Guru di Masa Depan
Melihat transformasi yang telah terjadi, profesi guru di masa depan diharapkan tidak hanya menjadi pilihan karena alasan finansial, tetapi juga karena panggilan jiwa untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Beberapa langkah yang dapat diambil untuk mendukung profesi guru ke depan adalah:
Pemerintah dan lembaga pendidikan perlu terus memberikan pelatihan kepada guru agar mereka mampu menghadapi tantangan zaman. Program pelatihan berbasis teknologi dan inovasi pendidikan harus menjadi prioritas.
Menyederhanakan tugas administratif guru akan memberikan mereka lebih banyak waktu untuk fokus pada pembelajaran dan pengembangan siswa.
Guru di daerah terpencil membutuhkan perhatian khusus, baik dari segi fasilitas pendidikan maupun kesejahteraan. Langkah ini penting untuk memastikan kesetaraan kualitas pendidikan di seluruh wilayah.
Memberikan penghargaan bagi guru berprestasi tidak hanya berupa materi tetapi juga apresiasi moral akan meningkatkan motivasi mereka untuk terus memberikan yang terbaik.
Perjalanan profesi guru dari masa ke masa mencerminkan perubahan nilai dan perhatian pemerintah dan masyarakat terhadap pendidikan. Jika dahulu profesi ini dipandang sebelah mata dan hanya diminati oleh segelintir orang, kini guru menjadi salah satu profesi yang diminati banyak orang. Namun, satu hal yang tidak pernah berubah adalah esensi profesi guru sebagai pelita bagi generasi penerus bangsa. Guru tetap menjadi kunci utama dalam mencetak sumber daya manusia yang berkualitas dan berakhlak mulia.
Perubahan pandangan terhadap profesi guru adalah bukti nyata bahwa pendidikan semakin menjadi prioritas utama bagi kemajuan bangsa. Guru, sebagai agen perubahan, memegang peran penting dalam membentuk karakter generasi penerus. Semaju apapun teknologi suatu bangsa, peran guru dalam hal pembangunan karakter bangsa tidak akan pernah tergantikan. Meskipun tantangan terus berkembang, semangat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa harus tetap menjadi pijakan utama bagi profesi ini.
Dengan dukungan penuh dari masyarakat dan pemerintah, profesi guru diharapkan dapat terus berkembang menjadi profesi yang tidak hanya dihormati tetapi juga menginspirasi banyak orang untuk memberikan kontribusi terbaik bagi pembangunan bangsa Indonesia.
Bottom of Form
*) Kasi Kominfo BPIC